Rabu 4, September 2019

SAAT AKU IRI PADA AYAM
“Aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki dengan seksama tembok itu. Kemudian aku kembali,
lalu masuk melalui pintu gerbang Lebak. Demikianlah aku pulang.” (Nehemia 2:15)
“CIIIIIIIIIIITTTTTTT!!! GUBRAKKKKK!!!” Si roda dua berhasil memaksimalkan fungsi pedal remnya. Walaupun terbilang
telat, kelingking kaki kananku terpaksa memancarkan darah segar. Tepatnya, aku keserempet. Peristiwa di ruas jalan raya depan
rumah nenek ini, selalu ku ingat. Otak yang kugunakan pada kelas satu SD kala itu, tidak kugunakan untuk menyeberangi jalan itu.
Dan demikianlah roda motor itu berhasil menderaskan air mataku.
Si Pengendara dengan penuh ramah meminta maaf, sembari mengingatkanku untuk selalu menengok ke kiri dan kanan
jika mau menyeberangi jalan besar. Beberapa menit berlalu, giliran yang menyeberang jalan adalah Tuan Kukuruyuk. Aku merasa
heran, mengapa si Ayam menyeberangi jalan raya itu tanpa sekalipun kepalanya memutar ke kiri dan kanan. Dan, si Ayam benar-
benar mengerti kapan dirinya harus melangkah maju… mundur…. atau tak melangkah. Dasar bocah cilik, aku iri pada Ayam. Cukup
menghadapkan kepala terus ke depan, dapatlah dirinya menyeberang jalan.
Mengapa Ayam bisa demikian? Perenunganku menyimpulkan, ayam tak perlu menengok saat menyeberang, karena
mata ayam sudah di samping kiri dan kanan. Maka, ayam tidak pernah dapat menatap ke depan. Ayam tidak punya visi akan
seperti apa hari depannya. Hidupnya hanya mengalir saja dengan serangkaian rutinitas harian yang mengikatnya berulang.
Berbeda dengan Rajawali. Unggas satu ini, matanya selalu menatap ke depan. Bahkan dirinya selalu membuat perencanaan dan
bidikan jitu dengan menatap target dari ketinggian. Tak heran rajawali selalu mampu mendapatkan apa yang hendak diraihnya. Hal
serupa itulah yang dilakukan oleh Nehemia sebelum memulai proyek pembangunan kembali tembok Yerusalem.
Nehemia membuat perencanaan dan pemetaan matang. Ia juga mematangkan betul detil apa yang harus digarapnya
untuk mencapai visi nya di depan itu. Dan, Nehemiapun berhasil. Bagaimana dengan yang kita jalani dalam kehidupan yang serba
penuh misteri ini? [AH]