59 Desa Di Demak Krisis Air Bersih, Warga Terpaksa Beli Air

6a1a4add-9f66-4751-999c-61210e5a5fac_169

59 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Demak, Jateng, mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Hal itu lantaran banyak sumber-sumber air mengering di puncak kemarau tahun ini. Warga mulai membeli air untuk konsumsi.

Sumur milik warga rata-rata hanya mengeluarkan air setinggi setengah meter per harinya. Sehingga warga terpaksa harus membeli air dalam jerigen yang dijual keliling oleh para pedagang air.

Sutimah (60), warga Desa Ngelowetan, Kecamatan Mijen, mengaku membeli tiga jerigen air tiap hari untuk memenuhi kebutuhan. Harganya Rp 3.000 per jerigen.

“Jadi kalau sehari harus mengeluarkan uang Rp 9.000 untuk membeli air,” ujarnya, Selasa (12/9/2017).

Menurutnya, air jerigen digunakan untuk memasak dan mencuci perabot. Dia masih menambah pengeluaran lagi karena khusus untuk minum, ia membeli air kemasan dalam galon.

“Air untuk minum beli yang galon. Satu galon bisa buat dua hari,” lanjutnya.

Titah (50) warga lain menambahkan, air sumur hanya dapat digunakan untuk mandi. “Mencuci baju juga dua hari sekali, itu kalau airnya cukup,” tutur dia.

Kekeringan, imbuhnya, memang terjadi di tiap tahun di musim kemarau. Biasanya, kondisi seperti ini akan berlangsung sampai Oktober mendatang.

“Oktober biasanya sudah turun hujan. Semoga saja tidak kekeringan lagi,” tandasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Nugroho, menyampaikan bahwa kekeringan melanda di 59 desa di 13 kecamatan di Demak.

“Untuk saat ini, pasokan air kami sediakan bagi warga yang mengajukan ke kami,” pungkasnya.
(mbr/mbr)

Sumber : DETIK