Anak Punya Kebiasaan Menunda? Atasi dengan 4 Cara Ini

171122115454

“Nanti, besok aja deh. Bentar dong, ma,” adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh anak-anak ketika kita mintai tolong. Tidak hanya anak-anak, kita sebagai orang tua saja sering kok menunda sebuah pekerjaan. Namun, jika keadaan ini dibiarkan terus menerus, dampaknya bisa sampai anak dewasa nanti, lho.

Buat anak, kebiasaan menunda dapat berdampak pada kegagalan mereka di sekolah, tidak bisa ikut aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler, atau kurangnya disiplin ketika beranjak dewasa nanti.

Untuk bisa membantu anak agar tidak meneruskan kebiasaan ini, kita perlu untuk berbicara dengan anak berdasarkan sudut pandangnya. Biasanya, anak-anak cenderung lebih jujur mengenai kesulitannya. Sebagai orang tua, tugas kita adalah memberikan motivasi dan terus mendukung mereka.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan tahapan-tahapan dibawah ini.

1. Tanyakan beberapa pertanyaan

Penting untuk diketahui mengenai kondisi mereka saat ini. Cobalah mulai dengan pertanyaan “Menurutmu, apa sih yang kita (orang tua) mau darimu?” atau “Apa yang akan terjadi kalau kamu tidak menyelesaikan sebuah pekerjaan sesuai dengan apa yang kamu ekspektasikan?”

Ketika anak sedang menjelaskan, kita perlu mengetahui mengenai situasi apa yang sedang dihadapinya, berikan juga respon yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi oleh anak.

2. Klarifikasikan keinginan kita sebagai orang tua

Biasanya, anak-anak cenderung berpikiran bahwa keinginan kita terlalu tinggi, sehingga mereka merasa tidak bisa mencapainya. Contohnya ketika kita mendaftarkan anak kita untuk mengikuti les tertentu, yang kita mau sebenarnya adalah agar anak bisa explore lebih mengenai kemampuannya. Namun yang mereka tangkap bahwa kita menginginkan kita untuk menjadi lebih pintar dan menjadi peringkat pertama di kelas.

3. Ajarkan bagaimana mengatasi masalah

Coba bayangkan sebuah keadaan ini, “Jika tidak bisa mengerjakan tugas ini, maka saya akan mendapatkan nilai yang jelek. Kemudian hal ini akan membuat saya dihukum dengan tidak boleh ikut bermain bola bersama teman-teman. Yang artinya saya tidak akan memiliki teman.”

Pemikiran diatas bukan lantas mendorong anak untuk mendapatkan nilai yang baik, namun justru membuat mereka tidak percaya diri dan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain. Kemudian hal inilah yang membuat mereka lebih baik menunda tanggung jawab mereka.

Iya, pada usia anak-anak, biasanya ketakutan mereka adalah kegagalan untuk tidak diterima dengan teman-teman sebayanya. Kita harus mengajarkan kepada mereka bahwa tidak apa jika kita mengalami kegagalan, selama kita bisa kembali bangkit dalam kegagalan tersebut.

Setelahnya, katakan baik-baik bahwa setiap orang pasti memiliki tanggung jawab. Tugas anak adalah menyelesaikan tugasnya dengan baik tanpa harus menunda.

4. Jelaskan menggunakan pengalaman kita yang relevan

Coba ceritakan kepada mereka mengenai ketakutan kita dan bagaimana kita menanggapinya. Dengan memperlihatkan bahwa sebagai orang tua kita juga tidak bisa menjadi sempurna, anak-anak akan belajar bahwa mereka bukan satu-satunya orang yang memiliki kebiasaan ini. Katakan kepada mereka bahwa untuk mencapai kesuksesan, kita perlu menerapkan semangat dan menghilangkan kebiasaan menunda.

Kalau semua cara diatas sudah dilakukan, cobalah untuk mendampingi mereka ketika hendak menghilangkan kebiasaannya. Misalnya menentukan kapan waktu harus mulai dan kapan harus selesai.

Sumber : empoweringparents