Bacaan Penting Sebelum Kamu Resign : Cara Membuat Lompatan Dari Pegawai Jadi Pengusaha

170406163133

Apakah kamu lelah atau sudah bosan kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore? Tenang, bukan cuma kamu kok, banyak orang mengalaminya dan pengen punya usaha sendiri yang waktunya lebih fleksibel. Termasuk saya juga, tapi memang hal itu ngga gampang. Makanya saya cari referensi dan belajar dari mereka yang sudah berhasil membuat lompatan dari pegawai kantoran jadi pengusaha. Salah satu contohnya adalah Chideke Samuelson, dia seorang pengusaha, pengacara penulis dan juga konselor pernikahan. Bagaimana kisah dia? Yuk simak bareng.

“Transisi saya dari pegawai jadi pemilik usaha berjalan dengan baik, tetapi jalan menuju kesana tidak terlalu jelas. Saat mengejar gelar di bidang hukum, saya kerja magang di bidang hukum. Saya cepat menyadari bahwa saya bukan tipe orang yang menyukai gaya hidup dari jam 9-5. Itu artinya bangun pagi, buru-buru melakukan ritual dan doa saya, dan sampai di sidang jam 9 pagi setiap pagi. Untuk gampang mengungkapkannya, hal itu horor,” demikian tulis Chideke di Entrepreneur.com.

Walau demikian bukan berarti memulai usaha itu mudah, Chideke mengalami jatuh bangun juga.

“Saya mulai terjun ke dunia usaha dalam periode ini. Yang menyebabkan kegagalan yang epik dan hutang yang banyak. Saya berhasil keluar dari depresi setelah membaca kisah Urbanladder, sebuah perusahaan furniture yang dibangun olah Ashish Goel dan Rajiv Srivatsa. Keduanya mengalami situasi mirip dengan saya dan merasa puas dengan pekerjaan mereka – satu di McKinsey & Company dan yang satunya di Yahoo,” demikian ungkapnya.

“Baru dikemudian hari saya bisa membuat keputusan tindakan apa yang akan membuat lompatan iman menjadi kesuksesan. Saya membagikannya dengan harapan hal itu akan membantu orang lain yang sedang mencari karir yang lebih berarti.”

Apa saja hal itu?

1. Jangan melompat tanpa memiliki jangkar

Kamu tidak akan sukses sebagai pengusaha hanya karena memiliki ide. Itu hanya tahapan awal saja. Kamu harus melakukan persiapan sebagai wirausaha dengan meriset langkah apa yang harus diambil ke depan.

Jangkar pertama adalah informasi. Saat kamu mengembangkan ide, investasi dengan mengumpulkan informasi, cari dan gali sumber daya yang bisa membantumu untuk mewujudkan rencanamu.

“Saya membuat percobaan pertama saya berdasarkan asumsi saya sendiri. Saya tidak tidur sampai larut malam, menghitung dengan kalkulator dan membuat perkiraan. Saya percaya diri hal itu akan berhasil. Tapi kenyataan menjungkir balikkan mimpi-mimpi saya dan membuatnya hanya isapan jempol. Saya terjatuh dengan keras di dasar dengan kenyataan buruk, yaitu “hutang”,” jelas Chideke.

Jangkar yang kedua adalah pekerjaanmu. Kamu mungkin perlu bertahan memegang jangkar ini sedikit lebih lama daripada yang kamu inginkan. Jangan lepaskan hingga kamu melihat beberapa bukti kesuksesan.

Jangkar yang ketiga adalah tabungan. Bisnis baru biasanya membutuhkan dana lebih banyak dari yang diperkirakan. Untuk itu saat kamu butuh suntikan dana, tabungan bisa menjadi pengaman, daripada kamu nantinya terjebak hutang.

2. Hindari hutang dengan bunga

Ini adalah pengalaman pahit Chideke yang harus menjadi pelajaran bagi kita agar tidak terjebak dalam hal yang sama. Dia butuh waktu dua tahun untuk melunasi hutang-hutannya. Dia menyarankan untuk menghindari hutang yang akan menghambatmu hingga 10 tahun ke depan.

Jangan terlalu terobsesi untuk membuat usahamu besar hingga kamu memaksakan diri untuk membuat pinjaman, karena pada akhirnya hal itu malah bisa membahayakan usaha itu sendiri.

3. Mulai dengan sesuatu yang kamu ketahui dan familiar

Chideke pertama kali usaha mencoba membuat usaha penjualan kaos, dan gagal. Yang kedua dia menggunakan latar belakang pendidikannya di bidang hukum untuk memulai bisnis properti. Disanalah dia menemukan pintu-pintu terbuka, mulai dari membuat draf dokumen hingga membuat kesepakatan-kesepakatan dengan dasar hukum yang kuat.

Jadi, apa yang familiar bagi kamu? Apakah itu hobimu, latar belakang pendidikanmu, atau sesuatu yang sudah menjadi keahlianmu? Mulailah dari sana.

4. Pastikan sesuai dengan hukum yang berlaku

Seorang teman saya bercerita bahwa dia baru saja dituntut secara hukum karena membuat sebuah aplikasi mobile. Ternyata ada hal-hal yang bisa menjadi celah hukum yang bisa merugikan kita, jika kita tidak hati-hati. Untuk itu kamu perlu memastikan dan berkonsultasi agar aspek legal usahamu terpenuhi dan terjaga.

5. Belajar bersyukur walau memulai dari sesuatu yang kecil

Tidak ada sebuah usaha yang berhasil langsung dimulai dari hal besar. Banyak wirausahawan yang memulai dari garasi rumahnya. Akan lebih aman memulai dari kecil dengan investasi minimal. Hal ini mengijinkan kamu untuk men-tes pasar, apakah ada konsumen untuk produkmu, apakah konsumen menyukai produkmu, dan apa yang perlu diperbaiki agar produkmu bisa menjadi lebih baik lagi.

6. Carilah mentor

Seorang mentor itu sangat penting, kita bisa belajar banyak dari kesuksesan mereka maupun kegagalan yang sudah mereka lalui. Mereka juga bisa membantu kita melihat hal-hal yang tidak mampu kita lihat dengan banyaknya pengalaman dan juga kebijaksanaan mereka.

Yang terakhir adalah kerjakan apa yang menjadi passionmu, jaga api itu agar terus menyala. Jangan biarkan orang lain mengubah visimu untuk menjadi pengusaha dan tidak menjadi pegawai lagi. Ada transisi yang kamu harus lalui, diantaranya adalah kerja keras karena kamu harus tetap bekerja sambil memulai usahamu sendiri. Namun jangan patah semangat, bahkan saat kamu menemui jalan buntu berkali-kali. Kamu tidak sendirian, ada banyak orang diluar sana yang melakukan hal yang sama. Jika kamu gigih, kamu pasti berhasil. Selamat berjuang teman!

Sumber : Jawaban.com | Entrepreneur.com