Belajar Merendahkan Diri, Melepaskan Segalanya Untuk Mendapatkan Yang Terbaik Dari Allah

170220152009

Filipi 2:5-8

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Saya baru saja menemukan, ketika saya pikir sudah menyerahkan segalanya kepada Tuhan, Dia dengan lembut, elegan, mengungkap sebuah lapisan baru perlawanan yang tidak pernah saya sadari sebelumnya. Setelah beberapa tahun sekarang, saya mengkotbahkan pesan yang saya sebut “Merendahkan Diri.” Ini merangkum bagaimana Yesus memproses dengan lembut, dengan sabar membentuk kembali, dan kemudian dengan mulia mengisi hidup kita dengan diriNya sendiri. Apakah kita pikir kita telah merendahkan diri kita dan menyerahkan segalanya kepada Dia? Kita masih bisa turun; Masih ada lagi yang harus kita lepaskan.

Menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus terdengar berisiko, seolah-olah itu bisa menyakitkan, sulit, menuntut. Banyak yang bertanya, “Jika saya benar-benar menyerah kepada-Nya, dengan pengabdian yang total, apakah saya akan tetap menjadi diri saya sendiri?”

Inilah yang saya temukan benar. Ya, itu berisiko, tapi pahalanya jauh melampaui risiko. Ya, itu bisa menyakitkan, sulit dan menuntut, tapi sukacita dan kedamaian yang melampaui semua yang Yesus berikan tidak dapat dibandingkan dengan ketidaknyamanan sekejap itu.

Yang terpenting, Yesus tidak merampas dirimu untuk menjadi diri sendiri. Kamu tidak menjadi kurang dari diri kamu sendiri karena kehadiran Yesus lebih besar di dalam diri kamu. Justru sebaliknya; Semakin kamu menyerahkan diri kepada-Nya, semakin kamu menjadi siapa yang selalu kamu inginkan.

Ini semua adalah bagian dari ekonomi terbalik Allah, yang menentang kebijaksanaan manusia yang terbatas, satu dimensi, dan picik. Saat kita memilih untuk tidak menjadi apa-apa, kita menjadi semua yang kita inginkan.

Seperti biasa, Yesus adalah model kita. Dia melepaskan segalanya sehingga BapaNya dapat dimuliakan sepenuhnya melalui Dia. Di Filipi, Paulus mendesak kita untuk meniru kerendahan hati Yesus:

Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Filipi 2: 1-4

Sewaktu kita melakukan ini, kita tidak hanya akan menemukan tujuan kita di dalam Kerajaan Yesus; kita juga akan benar-benar menemukan jati diri kita sebenarnya.

Dikutip dari Reckless Devotion oleh Heidi & Rolland Baker, Copyright © 2014, Chosen Books, sebuah divisi dari Baker Publishing Group. Digunakan dengan izin.

Sumber : CBN.com