Beri Anak Ponsel Pintar Bikin Kecanduan seperti Kokain

Ponsel pintar atau smartphone saat ini sudah menjadi salah satu benda terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, Anda harus sangat bijak dalam menggunakannya, termasuk tidak memberikan smartphone pada anak sedini mungkin.

Membiasakan anak Anda bermain-main dengan smartphone, kata para terapis, sama seperti memberi mereka satu gram kokain, dengan efek kecanduan yang hampir sama.

Menurut spesialis klinik rehabilitasi Harley Street, Mandy Saligari, ahli tentang kecanduan teknologi dan perkembangan remaja, waktu yang anak-anak habiskan untuk menatap layar smartphone terlalu sering diabaikan, padahal hal ini bisa menjadi penyebab yang potensial untuk kecanduan.

“Saya selalu mengatakan kepada orang-orang, saat memberi tablet atau smartphone kepada anak, Anda benar-benar seperti memberi mereka sebotol anggur atau satu gram kokain,” ungkapnya.

“Apakah Anda benar-benar akan membiarkan mereka ‘mengetuk’ semuanya sendirian di balik pintu tertutup?” sambung dia.

Menurut Mandy, orangtua cenderung memproteksi anak-anak mereka untuk menghindari obat-obatan dan alkohol daripada smartphone. Padahal, hal ini punya efek yang sama terhadap impuls otak.

Mandy mengatakan hal ini terkait sebuah berita yang mengungkapkan, saat ini banyak anak-anak berusia 13 tahun dirawat karena teknologi digital. Di mana sepertiga anak-anak Inggris berusia 12-15 tahun mengaku, mereka tidak lagi memiliki keseimbangan antara waktu bermain smartphone dan aktivitas lainnya.

“Ketika orang melihat kecanduan, pandangan mereka cenderung hanya pada substansi atau materi, tapi sebenarnya ini adalah pola perilaku yang dapat mewujudkan dirinya dalam sejumlah cara yang berbeda,” kata Mandy yang mencontohkan kecanduan lain, seperti makanan, menyakiti diri sendiri dan sexting (sex texting).

Kekhawatiran juga semakin parah karena jumlah anak-anak dan remaja yang terlihat mengirim atau menerima gambar porno, atau mengakses konten yang tidak pantas secara online melalui perangkat mereka semakin banyak.

Mandy, yang mengepalai klinik Charley Street Charter di London, mengatakan sekitar dua pertiga dari pasiennya berusia 16-20 tahun yang mencari pengobatan untuk kecanduan “peningkatan dramatis” di 10 tahun yang lalu.

Bahkan, banyak pasiennya yang lebih muda.

Dalam sebuah survei baru-baru ini terhadap lebih dari 1.500 guru, sekitar dua pertiga mengatakan bahwa mereka mengetahui murid mereka sering berbagi konten seksual, dan satu dari enam dari mereka, bahkan masih dalam usia sekolah dasar.

Lebih dari 2.000 anak telah dilaporkan ke polisi, karena kejahatan terkait dengan gambar tidak senonoh dalam tiga tahun terakhir.

“Begitu banyak klien saya yang berusia 13 dan 14 tahun yang terlibat dalam sexting, dan menggambarkan seks sebagai hal yang benar-benar normal,” kata dia.

Banyak pula, sambung dia, gadis muda yang mengirim foto telanjang mereka kepada seseorang di ponsel dan menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang normal.

“Jika anak-anak diajari bagaimana mereka menghargai diri mereka sendiri, mereka tidak mengeksploitasi diri mereka dengan cara itu. Ini adalah masalah harga diri dan ini adalah masalah identitas,” tandasnya.

Sumber : https://www.suara.com