Bukan Karna Kuat Kita, Tapi Prinsip 1+1 = 3 Inilah yang Berlaku Bagi Orang yang Andalkan Tuhan

170922113408

Mazmur 66: 4 “Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu.”

Lagu yang baru saja kami nyanyikan mengubah kerumunan kami dengan penuh air mata dan rasa sendu. Denise dan aku saling menatap sebagai ekspresi bertanya, ”Apa yang sedang terjadi?” Kami melihat orang-orang berurai air mata di tengah kerumunan besar itu untuk menunggu pintu stadiun terbuka. Kami merasakan kalau terjadi prinsip 1+1= 3 di situ.

Prinsip 1 + 1 = 3 adalah prinsip yang terjadi saat dua orang yang mengasihi Tuhan bersatu dalam satu kekuatan, menciptakan chemistry misterius dimana mereka sama-sama bisa mencapai sesuatu lebih dari yang bisa mereka lakukan masing-masing. Tentu saja kekuatan ekstra ini muncul bukan karna kekuatan misterius yang dimiliki dua orang ini. Tapi hal itu muncul karena hati dan pikiran mereka fokus ke Tuhan. Tuhanlah yang bekerja di dalam mereka. Inilah yang aku percaya sebagai prinsip 1 + 1 = 3 yang mengilhami penulis kitab Pengkhotbah menulis ayat ini.

“Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pengkhotbah 4: 12)

Denise dan aku bertemu waktu kami masih pre-school. Lalu kami berpisah waktu sudah masuk SMA. Rumah dan kehidupan kami terpisah sekitar 30 menit. Kami dipisahkan oleh labirin dan macetnya lalu lintas, olahraga bisbol dan aktivitas sehari-hari kami. Tapi kami tetap menyatu, itulah yang dinamakan prinsip 1 + 1 = 3. Waktu kami saling terbuka soal kondisi kami, masalah monumental pun tampak menjadi lebih kecil. Waktu kami mulai merenung, pikiran kami yang mandet kembali mengalir lempang. Hal-hal lucu dan hebat pun terjadi.

Prinsip inilah yang terjadi waktu 5 orang anggota keluarga Denise dan keluargaku ikut dalam sebuah demonstrasi politik di sebuah stadiun. Ada 7000 orang yang hadir di sana. Kami semua berdiri seperti barisan korek api. Hawa panas Florida membakar kami yang masih terus menunggu. Kaki kami kelelahan, tubuh kami keringatan dan suasana hati kami mulai tak tenang.

Denise dan aku pun memutuskan untuk menyanyi supaya waktu lebih cepat berlalu. Jadi kami mulai mengumandangkan lagi ‘God Bless America’. Denise dan aku percaya kalau kami tak akan bernyanyi sendirian, orang lain pasti akan ikut bernyanyi. Anak-anak kamipun dengan cepat ikut bernyanyi, lalu pasangan dan tetangga kami ikut bergabung. Tak lama kemudian, orang-orang di sekitar kami akhirnya ikut menyanyikan melodi sambil berjoget maju mundur.

Seperti nyala api di satu lilin yang menyentuh lilin lain, lagu kami menyebar dalam hitungan detik. Saat ribuan orang bernyanyi, hati mereka pun tampak tersentuh dan mereka mulai saling merangkut satu sama lain. Volume suara kami semakin mengeras dan membahana seolah-olah nyanyian kami dipimpin oleh Kondaktor Ilahi.

Denise dan akupun saling menatap, air mata kami jatuh berurai. Apakah perubahan suasana hati ribuan orang ini terjadi karena kemampuan bernyanyi Denise dan kemampuan virtuosoku? Sama sekali tidak. Suasana sendu itu terjadi karena Tuhan memakai instrumen dua sahabat yang berinisiatif melakukan sesuatu bersama dengan Dia dalam nyanyian.

Saat dua orang bersatu dan mengundang Tuhan memimpin, percayalah sesuatu yang hebat dan dahsyat akan terjadi.

Sumber : Laurie Barker Copeland/Cbn.com