Cobaan Hidup Seakan Tak Pernah Usai? Jangan Terlalu Fokus Nikmatilah Prosesnya

160426154243

Filipi 4: 6

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan begitu banyak tikungan-tikungan dan sama banyaknya dengan jalanan lurus yang seakan tak pernah membawa kita sampai pada tujuan. Waktu kita mulai terjebak dalam beragam pertanyaan dan kekuatiran soal kemana dan berapa lama perjalanan itu, kita bisa saja tak lagi menikmati perjalanannya.

Kita tak seharusnya kesal kalau arah jalan kita mulai tersesat. Mungkin kita akan menempuh jalanan yang sulit atau meleset di lubang-lubang yang ada di jalanan. Tapi bagaimanapun kita sudah tahu kalau, “Hidup itu adalah apa yang kamu lakukan.” Jadi, tanyakan dirimu: “Apakah aku pribadi yang optimis atau pesimis?” Apakah kamu pribadi yang hanya melihat gelas setengah berisi atau setengah kosong?

Ya. Pastinya kita akan melewati pasang surut, lika liku, jalan memutar dan belokan-belokan di sepanjang hidup ini, seperti saat ban mobil kita terjebak dalam lubang besar dan benturan keras. Sebenarnya kita bisa saja tak terjebak di dalamnya karena kita bisa mengarahkan mobil melaju menghindari lubang atau jalanan yang rusak.

Dalam1 Petrus 1: 6, di sana kita bisa baca dimana Petrus mengingatkan orang-orang percaya di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia supaya mereka tak perlu heran kalau mereka akan jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Ayat ini menegaskan bahwa kita akan berhadapan dengan ujian dan saat semua hal itu berakhir, kita akan mulai beralih ke pengalaman di puncak gunung.

Tapi di sana pun kita akan bertemu dengan lembah. Kita punya dua pilihan. Pertama, mengambil waktu sejenak untuk berhenti, menghirup udara segar di sekitarnya dan meluangkan waktu mencium wanginya bunga mawar. Atau memilih menggertakkan gigi dan berfokus pada masalah kita. Itu semua tergantung pada pilihan kita!

Bagi yang pernah menonton film Natal The Polar Express, di sana kita bisa memetik pelajaran soal berkat. Dimana seorang konduktor sudah dilengkapi dengan tujuan dan jadwalnya. Tapi kadang kala ada saja jalan memutar dan kondisi tertentu yang memaksa perjalanan ditunda. Terlepas dari semua kondisi itu, dia tetap berjaga memeriksa arlojinya. Tekadnya yang bulat membuatnya berhasil mengatasi semua rintangan.

Kalau kita ada di posisi yang sama, mungkinkah kita bisa menikmati perjalanan kita? Tentu saja bisa kalau kita punya pemikiran bahwa hidup itu harus dijalani dan di dalam prosesnya kita harus mempercayai Tuhan sebagai pemandu kita. Dia juga ingin supaya kita menikmati perjalanan kita saat bersama dengan Dia dan bisa memahami kalau Tuhan membantu kita untuk mencapai tujuan yang sudah dirancangkan-Nya bagi kita.

Untuk itulah kita perlu menjaga fokus kita dan terus berdoa saat ujian datang. Kita bisa meminta pertolongan kepada Tuhan untuk mengatasi masalah kita. Kita mungkin saja tak bisa menghindari lubang-lubang di sepanjang perjalanan, tapi kita bisa melewatinya. Jadi, nikmatilah setiap perjalananmu dengan mengambil waktu sejenak beristirahat di dalam Tuhan. Ada banyak berkat yang sudah disediakan-Nya bagi kita di sepanjang jalan dan bahkan sampai nanti kita tiba di tujuan. Karena itu, tak usah kuatir dan cemas serahkan semua kekuatiranmu kepada-Nya (1 Petrus 5: 7).

Satu-satunya kunci untuk menang atas pencobaan adalah menjalaninya bersama Tuhan.

Sumber : Cathy Irvin/Cbn.com