| Kepemimpinan Kristen - Bagian 1 |
|
|
|
| Written by Stevie | ||||||||||||||||||
| Thursday, 08 April 2010 03:24 | ||||||||||||||||||
|
1. PEMAHAMAN KEPEMIMPINAN KRISTEN
DEFINISI PEMIMPIN
Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi ditentukan oleh pemimpin. Karena itu kepemimpinan yang handal sangat dibutuhkan terutama dalam gereja Tuhan. Ada beberapa definisi kepemimpinan secara umum:
Dari beberapa definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pemimpin adalah seorang yang memiliki pengaruh untuk menggerakkan orang lain pada suatu tujuan.
Menurut John C. Maxwell, ada lima tingkat pengaruh kepemimpinan sehingga seseorang mendapat pengikut. Untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, seorang pemimpin harus melewati tingkatan sebelumnya dan tetap mempertahankan kemampuan dari masing-masing tingkatan, yaitu:
1. Posisi/Hak: Anda memimpin karena kewenangan jabatan/pengangkatan. Orientasi pada wewenang.
- Orang mengikuti Anda karena harus mentaati ketetapan organisasi à terpaksa. - Pengaruh pemimpin hanya sebatas tugas formal dan tidak akan melampaui batas uraian tugas. - Biasanya sulit bekerja sama dengan sukarelawan dan orang muda. - Semakin lama Anda di tingkat ini, anggota kelompok tidak bertahan lama. 2. Hubungan: Anda memimpin karena pengaruh sosial kepemimpinan. Orientasinya pada hubungan. - Anggota taat dengan sukarela karena hubungan sosial yang dibangun. - Pemimpin memperhatikan kebutuhan dan keinginan individu. - Jikalau terlalu lama di level ini, orang yang dipimpin akan merasa jenuh. 3. Hasil: Anda memimpin karena ada buah/hasil pelayanan. Orientasinya pada hasil/produktivitas. - Anggota kelompok taat karena Anda menjadi berkat dalam kelompok. - Anggota mengikuti Anda karena kelompok diberkati dengan kepemimpinan Anda; ada hasil nyata, prestasi bagi organisasi, tujuan tercapai. 4. Pengembangan Manusia: Anda memimpin karena apa yang Anda perbuat bagi mereka secara pribadi, yaitu melatih mereka sehingga menjadi pemimpin. Orientasinya pada manusia. - Anda tidak hanya sekedar dicintai dan dikagumi saja, tapi orang loyal/setia kepada Anda. - Anda menjadi pemimpin yang melahirkan pemimpin lainnya. 5. Penghargaan/Rasa Hormat: Anda memimpin karena integritas kepemimpinan yang luhur. Cirinya: - Anggota kelompok taat karena siapa Anda. - Anda dianggap sebagai pemimpin legendaris karena jasa Anda dalam mengembangkan organisasi pelayanan.
Selanjutnya Robert Clinton mendefinisikan pemimpin Kristen sebagai berikut: “Seseorang yang telah dipanggil Allah sebagai pemimpin yang ditandai oleh kapasitas dan tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin suatu kelompok umat Allah mencapai tujuanNya bagi dan melalui kelompok ini.” Pola Allah menetapkan pemimpin rohani adalah: Allah memilih, memanggil, melatih dan kemudian menugaskan. Contoh ini dapat kita lihat dalam diri Abraham (Kej. 12), Yusuf (Kej, 37-47), Musa (Kel. 2-7), Daniel (Dan. 6:1-5, 29), Para Rasul (Mat. 10:1-4, Mrk. 3:13-19, Luk. 6:12-16).
DASAR KEPEMIMPINAN KRISTEN
1. Dipilih dan ditetapkan Allah.
Apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk? (Diskusikanlah!).
Seorang bisa dilahirkan dengan bakat kepemimpinan, namun akan efektif bila dia dibentuk dengan adanya kesempatan, latihan dan pengalaman. Dalam kepemimpinan rohani, selain bakat dan pembentukan, ada faktor panggilan dan penetapan Allah untuk memimpin. Contoh: Musa.
2. Adanya kerinduan/beban untuk memimpin
Seorang pemimpin rohani adalah orang yang menyadari adanya beban tugas dan tanggung jawab terhadap terhadap umat Tuhan, sehingga mereka bersedia berkorban, bahkan menderita demi menjalankan kehendak Allah dalam pelayanan. Contoh: Nehemia, Martin Luther.
3. Mengutamakan fungsi, bukan jabatan. Seorang pemimpin rohani harus berfungsi: menjalankan tugas pelayanannya dengan rajin dan setia, bukan mengutamakan pangkat atau jabatan. Fokus dan prioritas utamanya adalah mengutamakan kerja dan bukan imbalan (Luk. 17:10).
POLA KEPEMIMPINAN KRISTEN
Pola kepemimpinan Kristen yang Alkitabiah adalah pelayanan yang penuh kerendahan hati, seperti yang ditunjukkan Yesus ketika Ia membasuh kaki para muridNya. Yesus memberi teladan tentang pelayanan sejati, kerendahan hati dan kebesaran sejati (Yoh. 13:12-15, Luk. 22:24-26). Paling tidak ini mencakup tiga konsekuensi, yakni:
1. Melayani dengan kasih dan bukan memerintah dengan otoriter. Pelayanan yang tidak didasari peninggian tapi perendahan diri (Fil. 2:5-11). Yesus adalah teladan kepemimpinan yang melayani, karena Dia datang untuk melayani dan memberi diri bagi pelayanan (Mrk. 10:42-45). Karena itu kita tidak boleh terpengaruh oleh pola kepemimpinan dunia dengan menolak: kepemimpinan tangan besi yang menjalankan kuasa dengan keras dan memiliki motivasi ingin menjadi yang paling besar dan terkemuka.
2. Bergantung total kepada Allah, bukan kepada manusia. Pemimpin rohani tidak mengandalkan manusia (mis: yang kaya, berpangkat) tapi mengandalkan Allah.
3. Mempermuliakan Allah dan bukan diri sendiri. Ia berusaha menyukakan Allah lebih dari pada menyukakan manusia (I Tes. 2:4). Penghormatan kepada Allah harus melebihi penghormatan kepada manusia.
MENCARI PEMIMPIN ROHANI Menurut Paulus, orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah (I Tim. 3:1). Berarti cita-cita untuk menjadi seorang pemimpin rohani adalah suatu keinginan yang mulia. Memang ada orang ambisius yang mencari kedudukan demi kepentingan diri sendiri, tetapi ada ambisi-ambisi yang mulia dan pantas dihargai dan patut dikejar. Apalagi pada zaman Paulus, kedudukan sebagai pemimpin rohani adalah suatu kedudukan yang berbahaya dan menuntut tanggung jawab yang berat. Tidak jarang upahnya adalah kesukaran, hinaan dan penolakan. Pada masa penganiayaan, maka pemimpinlah yang paling dahulu harus menderita. Hal itu terjadi juga pada masa kini. Lagipula yang ditekankan bukanlah jabatannya semata-mata, melainkan fungsi sebagai penilik.
Pemimpin rohani yang sejati senantiasa lebih memperhatikan pelayanan yang dilakukannya untuk Tuhan dan sesamanya, daripada memikirkan keuntungan dan kesenangan yang dapat diperolehnya dalam hidup. Ia bertujuan untuk memberikan lebih banyak ke dalam hidup daripada yang diambilnya dari hidup ini. Sejarah tidak memperhatikan sama sekali pangkat, gelar atau jabatan seseorang, melainkan kualitas perbuatan dan sifat pikiran serta hatinya.”
Pemimpin-pemimpin rohani tidak dihasilkan oleh pemilihan atau pengangkatan, baik oleh manusia atau oleh sekelompok manusia, maupun oleh konperensi atau sinode. Hanya Tuhanlah yang dapat menghasilkan pemimpin (Mazmur 75:7-8). Sekadar memegang kedudukan penting tidak membuat seseorang menjadi pemimpin. Jabatan keagamaan dapat diberikan oleh para uskup (penilik jemaat) dan suatu dewan, tetapi tidak demikian halnya dengan wewenang rohani, yang menjadi bagian yang paling penting dalam kepemimpinan Kristen. Wibawa/wewenang rohani sering kali diberikan, tanpa diminta, kepada orang-orang yang dengan kerohanian, disiplin, kemampuan dan kerajinan dalam hidup mereka telah membuktikan bahwa mereka layak menerima wewenang itu. Mereka adalah orang-orang yang mematuhi Firman Tuhan. Kepemimpinan rohani adalah sesuatu yang berasal dari Roh dan hanya dapat dianugerahkan oleh Allah. Wewenang dan kepemimpinan rohani diperoleh bukan dengan usaha memajukan diri, melainkan dengan banyak berdoa dan air mata serta teguh memegang kebenaran Injil.
A.W Tozer mengatakan: “Seorang pemimpin yang benar dan dapat dipercaya mungkin sekali adalah orang yang tidak ingin memimpin, tetapi dipaksa memegang pimpinan oleh dorongan Roh Kudus dari dalam dan tekanan keadaan dari luar. Orang-orang seperti itu adalah Musa dan Daud dan para nabi dalam Perjanjian Lama … Saya percaya bahwa umumnya orang yang ambisius untuk memimpin biasanya tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin. Seorang pemimpin sejati tidak mempunyai keinginan untuk berkuasa atas milik Allah, melainkan ia akan rendah hati, lembut, penuh pengorbanan dan bersedia memimpin, dan apabila Roh menyatakan dengan jelas bahwa ada orang yang lebih bijaksana dan berbakat daripada dirinya sendiri, ia juga rela untuk menjadi pengikut.”
BEDA KEPEMIMPINAN ALAMIAH DAN KEPEMIMPINAN ROHANI
Kepemimpinan rohani merupakan satu campuran antara sifat-sifat alamiah dan rohani. Sifat-sifat alamiah pun bukannya timbul begitu saja, melainkan diberikan oleh Allah, dan oleh karena itu sifat-sifat ini akan mencapai efektivitasnya yang tertinggi, jika digunakan di dalam melayani Allah dan untuk kemuliaanNya. Kepribadian merupakan faktor yang terpenting, dalam kepemimpinan alamiah. Tetapi seorang pemimpin rohani mempengaruhi orang lain bukan dengan kekuatan kepribadiannya sendiri saja, melainkan dengan kepribadian yang dikuasai Roh Kudus. Kepemimpinan alamiah dan kepemimpinan rohaniah mempunyai banyak segi persamaan, tetapi dalam beberapa hal nampak ada pertentangan. Ini dapat dilihat, apabila kita membandingkan sifat-sifatnya yang menonjol.
|