• Gereja Bethel Indonesia

    Gembala Pembina : Pdt. Julius Ishak, Msc.,D.D

    Gembala Sidang: Pdt. Rubin Adi Abraham, Ph. D

    Sekretariat: jl. Mekarlaksana No 8, Bandung 

    Telp: 022-5225786 Fax: 022-5225787

  • DUKUNG DAN DOAKAN

     

     

    PEMBANGUNAN

    GBI MEKARWANGI


Renungan Mei

Bahan Komsel Mei

Pengunjung

Today1648
Yesterday5440
This week32439
This month59526
Total3549526

Visitor IP : 184.72.91.94 Visitor Info : Unknown - Unknown Sunday, 19 May 2013 08:28

Pengunjung yang Online

Guests : 1085 guests online Members : No members online
Powered by CoalaWeb

Sunds Zone

ANAK IBU MOODY YANG TERHILANG

people_vanishingSebelum saya menginjak usia empat belas tahun, hal pertama yang saya ingat adalah kematian ayah saya. Ia telah gagal dalam bisnisnya. Segera setelah kematiannya, para kreditur datang dan menyita semua yang ada. Padahal ibu saya harus menghidupi banyak anak.
Petaka demi petaka melanda seluruh anggota keluarga. Ibu masih melahirkan sepasang anak kembar. Setelahnya, Ibu jatuh sakit. Kakak lelaki saya, putra tertua, usianya masih lima belas tahun. Ibu berharap padanya untuk menopang keluarga dalam kondisi yang berat itu. Namun, kekak lelaki saya ingin meninggalkan rumah untuk mendapat nasib baik. Maka, ia pergi jauh dan menjadi pengembara.


Ibu saya selalu menanti dengan penuh harap kabar dari putranya. Ia sering menyuruh kamu ke kantor pos untuk melihat kalau-kalau ada surat darinya. Kami biasanya datang dengan berita sedih, “Tidak ada surat.” Pada malam hari, kami biasa duduk di samping Ibu dan bercerita mengenai Ayah. Akan tetapi, saat nama kakak lelaki saya disebut, ia akan menyuruh kami diam.
Suatu malam saat angin sangat kencang bertiup, rumah kami yang ada di atas bukit goyang setiap diembus angin. Ibu merindukan kakak lelaki saya yang telah memperlakukannya dengan tidak baik. Saya dulu berpikir Ibu mengasihinya lebih daripada kami semua, dan saya percaya memang begitu keadaannya. Pada hari raya Pengucapan Syukur, Ibu biasa menyediakan sebuah kursi untuk kakak lelaki saya, berharap ia pulang.
Kami sekeluarga bertambah besar dan kami – anak-anak lelaki – meninggalkan rumah. Saya mengirim surat ke seluruh negeri, tetapi tidak menemukan jejak kakak lelaki saya. Pada suatu hari, ketika di Boston, saya menerima kabar bahwa ia telah pulang.
Hari itu, ketika Ibu sedang duduk di depan pintu, seorang asing tampak mendatangi rumah. Ia mendekati pintu, lalu berhenti. Ibu tidak mengenali putranya sendiri. Orang asing itu berdiri dengan lengan terlipat. Jenggotnya yang lebat turun sampai menutup dadanya. Air mata bercucuran membasahi wajahnya.
Ketika Ibu melihat air mata itu, ia menangis, “Oh, ini anakku yang hilang,” dan mempersilakannya masuk ke rumah. Tetapi, ia tetap berdiri kaku.
“Tidak, Ibu,” katanya, “Saya tidak akan masuk ke dalam sampai saya dengar terlebih dahulu bahwa Ibu telah mengampuni saya.”
Apakah Anda berpikir Ibu akan membiarkannya berdiri lama-lama di sana? Ia bergegas menuju ambang pintu, memeluknya, dan membisikkan pengampunannya. Serupa dengan itu, Allah akan mengampuni Anda juga.

Podcast Feed

Selipan

You are here: