| Kamis, 22 Juli 2010 |
|
|
|
| Written by Stevie |
| Thursday, 01 July 2010 10:59 |
|
SAMBAL TRASI UNTUK SUAMIKU “Mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” (Yesaya 56:7)
Ada sepasang suami-istri yang baru sebulan menikah. Namanya Koko dan Cici. Cinta mereka masih menggebu-gebu. Suatu hari Cici melihat Koko pulang kerja dalam keadaan lemas dan loyo. Sebagai istri yang baik, Cici pun berusaha untuk menghibur Koko agar kembali bersemangat. Cici mulai mencari tahu cara untuk membangkitkan semangat Koko, setidaknya bisa membuat Koko ceria sore itu. Cici ingat, bahwa dia baru saja kursus memasak. Menu yang baru saja ia pelajari adalah sambal trasi special, menu kesukaannya. “Aku akan memasak sambel trasi special untuk Koko, suamiku. Ia pasti suka, “ pikirnya. Cici pun memasak dengen bersemangat, dan dalam sekejap jadilah sambal trasi special itu. Disajikan kepada suaminya yang baru selesai mandi. Namun Cici heran, karena Koko sama sekali tidak mau makan masakannya.“Sayangku, kenapa tidak mau makan? Apa kamu tidak lapar? Atau masakanku tidak enak?” tanya Cici. “Tentu saja aku lapar. Sangat lapar! Tapi apa kamu lupa kalau aku mengalami gangguan pencernaan dan tidak mungkin makan yang pedas-pedas? Apa kamu juga lupa kalau sejak kecil aku alergi udang?” balas Koko. Selera atau keinginan pribadi kadang memang bisa membuat seseorang lupa akan kebutuhan dan kehendak yang dilayani. Seperti Cici yang melayani Koko. Bukan apa yang dikehendaki Koko yang disajikan, melainkan selera Cici pribadi. Demikian pula ketika kita melayani Tuhan, harusnya kita menyajikan apa yang indah di mata Tuhan, bukan yang baik di mata kita. Apa yang baik di mata kita belum tentu sesuai kehendak Tuhan. [DA] |