| Selasa, 20 Juli 2010 |
|
|
|
| Written by Stevie |
| Thursday, 01 July 2010 11:02 |
|
MEZBAH DOA “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, ...” (1 Korintus 7:5)
Setelah 10 tahun hidup bersama, Erni dan Iwan merasa sudah tidak lagi menemukan kecocokan di antara mereka berdua. Pertengkaran demi pertengkaran sudah terlalu sering mewarnai kehidupan rumah tangga mereka bahkan tidak jarang hal-hal kecil seperti salah memencet pasta gigi atau bangun kesiangan bisa berujung menjadi sebuah pertengkaran hebat. Keadaan itu lantas membuat mereka berpikir untuk berpisah saja. Iwan pernah berkata “untuk apa lagi kita pertahankan kalau memang sudah tidak ada kecocokan” dan sepertinya lambat laun Erni pun mulai bisa menerima apa yang suaminya katakan. Di tengah-tengah keputusasaan mereka dalam mengarungi bahtera pernikahan, dalam suatu ibadah minggu mereka begitu terkesan dengan cerita si pengkhotbah yang mengatakan bahwa dulu hampir setiap hari dirinya bertengkar dengan sang istri tapi semenjak ia dan istrinya mengambil komitmen untuk membangun mezbah doa setiap pagi maka frekuensi pertengkaran itu berkurang. Tak lama berselang beberapa hari, jam tiga pagi Iwan membangunkan Erni istrinya dan mengajaknya untuk berdoa. Erni yang waktu itu masih setengah mengantuk karuan kebingungan dengan ulah suaminya tapi ia menurut saja. Perlahan keduanya mulai saling mengenggam tangan masing-masing dan sebuah pujian “Terima kasih Tuhan...” sedikit demi sedikit keluar dari bibir mereka berdua dan tanpa terasa air matapun mulai menggenangi kelopak mata mereka. Tahukah Anda? Kini semakin hari mereka berdua semakin intim, pertengkaran memang tidak hilang begitu saja tapi ikatan perkawinan di antara mereka semakin bertambah erat dan jika kita bertanya kepada mereka apa resepnya, mereka sepakat menjawab, “Mezbah doa!” [YN] |