| Senin, 5 Juli 2010 |
|
|
|
| Written by Stevie |
| Thursday, 01 July 2010 11:33 |
|
MENCINTAI PASANGAN, BUKAN CINCINNYA “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:7)
Tina dan Siska adalah sepasang sahabat. Tina masih single, sedangkan Siska sudah bertunangan. Belakangan Tina mendengar bahwa pertunangan Siska bermasalah. Tina: “Saya dengar pertunanganmu dengan Tom putus. Apa yang terjadi?” Siska: “Oh, iya… perasaan saya terhadap dia sudah berubah!” Tina: “Lalu, apakah cincin pertunangannya akan kau kembalikan?” Siska: “Oh, tidak… perasaan saya terhadap cincin itu belum berubah!” Sahabat NK, mempertahankan hubungan, termasuk hubungan keluarga itu tidak mudah. Apalagi dalam keluarga pasti (pernah, sedang atau akan) mengalami kejenuhan. Perasaan seseorang terhadap pasangannya kadang juga bisa berubah, pasang dan surut. Apa yang dialami Siska di atas adalah contohnya. Begitulah manusia. Selalu dinamis dan berubah. Maka untuk berelasi dengan manusia, mau tidak mau pasangan harus menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Karena seseorang bukan berpasangan dengan cincinnya, yang hanya statis dan tidak berubah. Untuk bisa mempertahankan hubungan, dibutuhkan cinta kasih yang kuat bertahan. Bukan kasih yang statis seperti kasih terhadap benda mati, melainkan kasih yang bertahan dalam setiap keadaan, dalam setiap pergumulan hidup, dalam setiap perubahan. Menurut Rasul Paulus, “kasih itu… sabar (Ing: endurance - ketahanan) menanggung segala sesuatu.” Cinta kasih semacam itulah yang hendaknya dipupuk dalam sebuah keluarga, agar bertahan dalam setiap keadaan. [DA] |