• Gereja Bethel Indonesia

    Gembala Pembina : Pdt. Julius Ishak, Msc.,D.D

    Gembala Sidang: Pdt. Rubin Adi Abraham, Ph. D

    Sekretariat: Jl. Mekar Laksana No. 8, Bandung 

    Telp: 022-5225786 Fax: 022-5225787

Renungan Okt

Bahan Komsel Okt

We have 214 guests and no members online

Pengunjung

Today2109
Yesterday2537
This week12643
This month83776
Total6053917

Visitor IP : 66.249.65.137 Visitor Info : Unknown - Unknown Friday, 31 October 2014 20:03

Pengunjung yang Online

Guests : 248 guests online Members : No members online
Powered by CoalaWeb

Sunds Zone

Waspadai Dan Kenali Penyakit Pubertas Dini Pada Anak

PubertasPubertas merupakan awal dari kematangan seksual yaitu ketika terjadi perubahan fisik, hormonal, dan seksual yang telah mampu untuk bereproduksi. Pubertas ditandai dengan pembesaran buah zakar (testis) diikuti pembesaran penis, pembesaran payudara pada wanita, tumbuhnya rambut pada kemaluan, menstruasi, bau badan serta pertumbuhan tinggi badan yang meningkat. Pubertas pada anak perempuan berkisar antara usia 9-16 tahun dan anak laki-laki pada usia 13-15 tahun. Dan yang disebut pubertas dini yaitu jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas sebelum memasuki usia pubertas anak-anak pada umunya.

Perubahan hormon dalam tubuh dapat mempengaruhi struktur tubuh. Dan tentu saja ada dampak buruk dari pubertas dini pada anak. Pubertas dini pada anak perempuan sering disebabkan oleh gangguan hormon di otak, yaitu di hipotalamus dan hipofise, sedangkan pada anak laki-laki karena tumor. Pubertas yang timbul lebih awal tidak hanya ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang besar dan lebih cepat tinggi, tapi tulang juga akan cepat menutup. Bila seorang remaja mengalami pubertas dini, awalnya pertumbuhan badannya akan lebih tinggi, tapi karena tulangnya menutup lebih cepat maka tubuhnya pada akhirnya akan menjadi lebih pendek dari anak lain yang mengalami pubertas normal.

Terlalu cepat pubertas juga akan menyebabkan hormon meningkat dan menjadikan anak menjadi ‘lebih cepat dewasa’, padahal secara mental anak belum siap untuk dewasa. Bila anak mulai mengenal dan menyenangi lawan jenis, ketidaksiapan mental ini dikuatirkan dapat menimbulkan peristiwa yang tidak diharapkan akibat dorongan hormonal tersebut.

Tidak hanya secara psikologi dan pertumbuhan badan, pubertas dini juga dapat meningkatkan resiko kanker dan tumor di kemudian hari. Pada anak perempuan dapat memicu kanker payudara. Pubertas dini meningkatkan resiko kanker dan tumor karena tingkat hormon estrogen, progesteron (pada wanita) dan testosteron (pada pria) dapat memicu beberapa tumor menjadi ganas.

Beberapa faktor yang dapat memicu pubertas dini dan pencegahannya:

Obesitas, karena obesitas mengganggu sistem endokrin sehingga anak perempuan yang montok cenderung mengalami pubertas dini. Di lain pihak, obesitas juga dapat dipicu karena pubertas dini, sehingga membuat fenomena ini semakin kompleks.

Zat kimia pengganggu sistem endokrin. Terpapar zat kimia secara teratur juga turut berperan dalam mempercepat pubertas pada anak. Zat kimia ini seringkali berasal dari kosmetik, sampo, produk pembersih, botol bayi dan mainan anak-anak.

Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Kedua faktor ini mengubah fungsi endokrin sehingga meningkatkan resiko pubertas dini. Selain itu paparan zat kimia dari ibu hamil secara langsung dapat mengganggu perkembangan anak, dalam beberapa kasus memicu kelahiran prematur dan berat lahir rendah.

Tekanan psikososial, hal ini termasuk ketidakhadiran ayah dalam keluarga dan disfungsi keluarga dapat mengganggu sistem endokrin, salah satu faktor pemicu pubertas dini.

Susu formula. Memberikan ASI eksklusif ditenggarai dapat mencegah pubertas dini karena menyumbangkan lebih sedikit kalori dibandingkan susu formula dan menawarkan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan lain yang melindungi dari pubertas dini. Semakin lama Anda menyusui, semakin sedikit bayi terpapar fitoestrogen dan xenoestrogen. Kedua komponen ini terkandung dalam susu formula kedelai dan produk susu non organik. Selain itu bayi juga terhindar dari komponen phthalates dan bisphenol A yang terkandung dalam botol bayi.

Kurangnya aktivitas fisik. Postur kurus dan olahraga ditenggarai dapat mencegah pubertas dini. Oleh karena itu anak harus diajak berolahraga sejak dini. Olahraga selain mengurangi kemungkinan obesitas juga membantu mempertahankan keseimbangan hormon dengan cara menurunkan kadar estrogen.

Pola makan yang salah. Mengkonsumsi junk food dan makanan cepat saji ditenggarai dapat memicu pubertas dini. Melakukan diet seimbang yang kaya whole grain, buah serta sayuran segar dan produk hewan dalam jumlah sedang membantu melawan obesitas dan mempertahankan keseimbangan hormon.

Mengobati atau menghentikan pubertas dini dapat dilakukan dengan mencari tahu terlebih dahulu apa yang menjadi penyebabnya. Pubertas dini berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua, yaitu:

Pubertas prekoks sentral, melibatkan semua hormon di otak. Untuk mengatasinya, anak akan diberi hormon antagonis yang bertujuan untuk menghambat pubertas.

Pubertas prekoks perifer, yang hanya melibatkan tempat tertentu, biasanya karena tumor. Untuk mengatasinya, maka tumor harus diangkat atau diobati apa yang menjadi penyebabnya.

Setiap orangtua harus lebih waspada terhadap dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari kasus pubertas dini pada anak-anak mereka. Pendampingan orangtua sangat dibutuhkan oleh remaja dalam perjalanan mereka menuju tahap kedewasaan, dan hal itu harus dimulai pada saat mereka mulai mengalami tanda-tanda pubertas.

Para remaja haruslah dibekali pengetahuan yang cukup sehingga mereka paham akan konsekuensi dari pergaulan atau saat berinteraksi dengan lawan jenis. Dalam hal ini, orangtua sebaiknya mempersiapkan bekal terbaik bagi anak-anak untuk siap menghadapi hal itu daripada berusaha menjauhkan mereka dari lingkungan pergaulannya.

 

Sumber : Berbagai Sumber

Podcast Feed

Selipan

You are here: