• Gereja Bethel Indonesia

    Gembala Pembina : Pdt. Julius Ishak, Msc.,D.D

    Gembala Sidang: Pdt. Rubin Adi Abraham, Ph. D

    Sekretariat: Jl. Mekar Laksana No. 8, Bandung 

    Telp: 022-5225786 Fax: 022-5225787

Renungan Ags

Bahan Komsel Ags

We have 196 guests and one member online

Pengunjung

Today2158
Yesterday2169
This week10017
This month2158
Total5830597

Visitor IP : 112.215.36.142 Visitor Info : Safari - Linux Friday, 01 August 2014 22:46

Pengunjung yang Online

Guests : 200 guests online Members : One member online
Powered by CoalaWeb

Sunds Zone

Kisah Nyata Suami Penggemar Ilmu Pelet

Penggemar-Pelet-1Banyak pria dewasa terjatuh dan berkubang didalam dosa nafsu birahi. Terlebih ketika mereka telah mengenal dunia hitam. Berbagai macam cara dilakukan untuk menaklukan hati wanita. Hal tersebut dialami dan dijalani oleh Subagio Sulistyo yang sedari remaja telah diturunkan ilmu pelet oleh sang kakek.

Dengan ilmu itu Subagio dengan mudahnya memperoleh wanita yang diinginkannya. Dengan gaya seperti Don Juan, Subagio gemar mempermainkan wanita. "Sewaktu remaja, sama kakek saya di kasih ilmu untuk memelet wanita. Berdasarkan ilmu kakek saya itu tidak susah untuk mendapatkan wanita," ungkapnya.

Hingga suatu hari seorang wanita bernama Jean melamar kerja di kantornya. Subagio pun mulai tertarik dan menginginkan Jean menjadi miliknya. Meskipun Jean sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, Subagio tetap berkeras hati untuk mendapatkannya. bahkan dirinya membawa Jean ke seorang dukun untuk didoakan. "Dengan cara-cara seperti itu, akhirnya dia lengket sama saya," kata Subagio.

Mereka berdua pun segera menjalin hubungan. Tanpa diduga Subagio, Jean meminta agar dirinya segera dinikahi. Namun tidak pernah di duga oleh Jean, bahwa pernikahan akan menjadi awal penderitaan hidupnya, karena sekalipun telah berumah tangga Subagio tidak pernah mengubah perangai buruknya.

Subagio kembali melakukan aktivitas malamnya. Pekerjaan yang mengharuskannya dekat dengan dunia entertain membuatnya tergoda untuk menjalin hubungan dengan wanita malam. Subagio pun jarang pulang ke rumah. Ketika sang istri Jean mempertanyakan semua alasannya, jawaban yang ia berikan adalah pukulan, tamparan dan juga cacian. "Waktu itu saya sebagai laki-laki masih membungkus semua itu sehingga seakan-akan saya tidak melakukannya. Saya menunjukkannya dengan kemarahan," ungkap Subagio.

"Ketika dia minta bercerai dengan berteriak, tanpa sadar saya teringat kejadian bapak saya memukul ibu saya. Apa yang terekam dalam pikiran saya itu, itulah yang saya lakukan pada istri saya. Dalam pikiran saya, dari pada bercerai, dari pada saya malu lagi, lebih baik saya bunuh, saya matiin perempuan ini. Ngga papa saya masuk penjara. Jadi saya ambil pisau, dan saya mau tusuk dia.."

Tujuh tahun pernikahan mereka, bagi Jean adalah waktu yang sangat panjang karena ia mengalami siksaan fisik dan batin dari suaminya. Tak tahan lagi, Jean pun jatuh sakit. Namun ketika melakukan konsultasi dengan psikolog, hal itu mengungkap masalahnya yang sebenarnya.

Karena kondisi kejiwaannya yang tidak stabil, Jean akhirnya mengkonsumsi obat penenang dan menjalani perawatan. "Saat itu saya tidak pernah cari Tuhan" ungkap Jean. "Pulang kembali kepada rutinitas, saya merenung. Tuhan saya harus bagaimana, saya buntu saat itu."

Dalam kondisinya yang tidak berdaya, Tuhan mengirimkan beberapa hamba Tuhan untuk melayani Jean. "Jean, tidak ada nama lain yang dapat menolong kamu selain nama Yesus.." jelas hamba Tuhan itu pada istri Subagio.

Akhirnya Jean melembutkan hatinya dan mengikuti sebuah ibadah. Disana dia didoakan dan menerima jamahan Tuhan. Namun Subagio tetap tidak peduli dengan kondisi yang dialami istrinya, ia malah asik sendiri dengan wanita selingkuhannya.

Di rumah, istrinya berbicara dengan baik-baik kepada Subagio untuk memintanya memilih antara wanita itu dan dirinya. Jean minta Subagio untuk menceraikan dirinya. Subagio pun menolaknya. Untuk menyenangkan istrinya, Subagio menuruti permintaan Jean untuk melakukan perjalan rohani ke Yerusalem.

Ketika menapaki tangga di Via Dolorosa, kaki Subagio tersandung dan membuatnya jatuh terkapar. Dirinyapun segera digotong ke hotel. Di hotel itulah dirinya mendapatkan pengalaman spiritual. Ada sebuah suara berkata, "Kamu pulang dari tanah suci, ketahuan kamu orang yang najis, orang yang kotor, dengan kaki pincang pula!" Saya takut, saya bilang, "Tuhan tolong ampuni saya, ampuni saya Tuhan." Pagi-pagi saya bangun, kaki saya tidak bengkak lagi. Sudah seperti sediakala dan saya pulang dengan kaki yang sudah sembuh."

Ketika pulang kembali ke Indonesia, Subagio pun diubahkan dengan menganal Tuhan. Menemukan kasih Allah membuat hidup Subagio berubah, namun ia harus berjuang keras agar tidak jatuh kembali kepada dosa-dosanya yang lalu. Hingga suatu hari ia mengikuti sebuah pertemuan rohani yang mengubah total kehidupannya.

"Disitu saya dibukakan tentang bagaimana menjadi seorang iman, sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas keluarga. Akhirnya ketika saya pulang dari kegiatan rohani itu, saya minta maaf pada istri dan anak saya."

Kini, Subagio bukan hanya menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Ia bahkan melayani Tuhan bersama keluarganya. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

 

Sumber : jawaban.com

Podcast Feed

Selipan

You are here: