• Gereja Bethel Indonesia

    Gembala Pembina : Pdt. Julius Ishak, Msc.,D.D

    Gembala Sidang: Pdt. Rubin Adi Abraham, Ph. D

    Sekretariat: Jl. Mekar Laksana No. 8, Bandung 

    Telp: 022-5225786 Fax: 022-5225787

Renungan Ags

Bahan Komsel Ags

We have 220 guests and no members online

Pengunjung

Today1456
Yesterday2468
This week13453
This month54987
Total5883426

Visitor IP : 157.55.39.237 Visitor Info : Unknown - Unknown Saturday, 23 August 2014 14:21

Pengunjung yang Online

Guests : 225 guests online Members : No members online
Powered by CoalaWeb

Sunds Zone

Kepemimpinan Kristen - Bagian 1

 

1. 

PEMAHAMAN KEPEMIMPINAN KRISTEN 

 

 

DEFINISI PEMIMPIN


Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi ditentukan oleh pemimpin.   Karena itu kepemimpinan yang handal sangat dibutuhkan terutama dalam gereja Tuhan.  Ada beberapa definisi kepemimpinan secara umum:

  • Lord Montgomery:  “Kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengerahkan sekelompok manusia untuk satu tujuan bersama.”

  • John R. Mott:  “Seorang pemimpin adalah orang yang mengenal jalan, yang dapat terus maju dan dapat menarik orang lain mengikuti dia.”

  • Harry S. Truman: “Seorang pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk membuat orang lain suka melakukan sesuatu yang tadinya mereka tidak suka melakukannya.”

 

Dari beberapa definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa  pemimpin adalah seorang yang memiliki pengaruh untuk menggerakkan orang lain pada suatu tujuan.

  

            Menurut John C. Maxwell, ada lima tingkat pengaruh kepemimpinan sehingga seseorang mendapat pengikut.  Untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, seorang pemimpin harus melewati tingkatan sebelumnya dan tetap mempertahankan kemampuan dari masing-masing tingkatan, yaitu:

 

1.       Posisi/Hak: Anda memimpin karena kewenangan jabatan/pengangkatan. Orientasi pada wewenang.

 

-             Orang mengikuti Anda karena harus mentaati ketetapan organisasi à terpaksa.

-             Pengaruh pemimpin hanya sebatas tugas formal dan tidak akan melampaui batas uraian tugas.

-             Biasanya sulit bekerja sama dengan sukarelawan dan orang muda.

-             Semakin lama Anda di tingkat ini, anggota kelompok tidak bertahan lama.

2.      Hubungan: Anda memimpin karena pengaruh sosial kepemimpinan. Orientasinya pada hubungan.

-          Anggota taat dengan sukarela karena hubungan sosial yang dibangun.

-          Pemimpin memperhatikan kebutuhan dan keinginan individu.

-          Jikalau terlalu lama di level ini, orang yang dipimpin akan merasa jenuh.

3.      Hasil:  Anda memimpin karena ada buah/hasil pelayanan. Orientasinya pada hasil/produktivitas.

-          Anggota kelompok taat karena Anda menjadi berkat dalam kelompok.

-         Anggota mengikuti Anda karena kelompok diberkati dengan kepemimpinan Anda; ada hasil nyata, prestasi bagi organisasi, tujuan tercapai.

4.      Pengembangan Manusia: Anda memimpin karena apa yang Anda perbuat bagi mereka secara pribadi, yaitu melatih mereka sehingga menjadi pemimpin. Orientasinya pada manusia.

-          Anda tidak hanya sekedar dicintai dan dikagumi saja, tapi orang loyal/setia kepada Anda.

-          Anda menjadi pemimpin yang melahirkan pemimpin lainnya.

5.      Penghargaan/Rasa Hormat: Anda memimpin karena integritas kepemimpinan yang luhur. Cirinya:

-          Anggota kelompok taat karena siapa Anda.

-          Anda dianggap sebagai pemimpin legendaris karena jasa Anda dalam mengembangkan organisasi pelayanan.

 

Selanjutnya Robert Clinton mendefinisikan pemimpin Kristen sebagai berikut: “Seseorang yang telah dipanggil Allah sebagai pemimpin yang ditandai oleh kapasitas dan tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin suatu kelompok umat Allah mencapai tujuanNya bagi dan melalui kelompok ini.”  Pola Allah menetapkan pemimpin rohani adalah:  Allah memilih, memanggil, melatih dan kemudian menugaskan.  Contoh ini dapat kita lihat dalam diri Abraham (Kej. 12), Yusuf (Kej, 37-47), Musa (Kel. 2-7), Daniel  (Dan. 6:1-5, 29), Para Rasul (Mat. 10:1-4, Mrk. 3:13-19, Luk. 6:12-16).

 

DASAR KEPEMIMPINAN KRISTEN

 

 

1.      Dipilih dan ditetapkan Allah.

 Apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk?  (Diskusikanlah!).

 Seorang bisa dilahirkan dengan bakat kepemimpinan, namun akan efektif bila dia dibentuk dengan adanya kesempatan, latihan dan pengalaman.  Dalam kepemimpinan rohani, selain bakat dan pembentukan, ada faktor panggilan dan penetapan Allah untuk memimpin.  Contoh: Musa.

 

2. Adanya kerinduan/beban untuk memimpin

 Seorang pemimpin rohani adalah orang yang menyadari adanya beban tugas dan tanggung jawab terhadap terhadap umat Tuhan, sehingga mereka bersedia berkorban, bahkan menderita demi menjalankan kehendak Allah dalam pelayanan.  Contoh: Nehemia, Martin Luther.

 

3.      Mengutamakan fungsi, bukan jabatan.

Seorang pemimpin rohani harus berfungsi: menjalankan tugas pelayanannya dengan rajin dan setia, bukan mengutamakan pangkat atau jabatan.  Fokus dan prioritas utamanya adalah mengutamakan kerja dan bukan imbalan (Luk. 17:10).

 

POLA KEPEMIMPINAN KRISTEN

 

Pola kepemimpinan Kristen yang Alkitabiah adalah pelayanan yang penuh kerendahan hati, seperti yang ditunjukkan Yesus ketika Ia membasuh kaki para muridNya.  Yesus memberi teladan tentang pelayanan sejati, kerendahan hati dan kebesaran sejati (Yoh. 13:12-15, Luk. 22:24-26).  Paling tidak ini mencakup tiga konsekuensi, yakni:

 

1.      Melayani dengan kasih dan bukan memerintah dengan otoriter.

Pelayanan yang tidak didasari peninggian tapi perendahan diri (Fil. 2:5-11).  Yesus adalah teladan kepemimpinan yang melayani, karena Dia datang untuk melayani dan memberi diri bagi pelayanan (Mrk. 10:42-45).  Karena itu kita tidak boleh terpengaruh oleh pola kepemimpinan dunia dengan menolak: kepemimpinan tangan besi yang menjalankan kuasa dengan keras dan memiliki motivasi ingin menjadi yang paling besar dan terkemuka.

 

2.      Bergantung total kepada Allah, bukan kepada manusia.

Pemimpin rohani tidak mengandalkan manusia (mis: yang kaya, berpangkat) tapi mengandalkan Allah.

 

3.      Mempermuliakan Allah dan bukan diri sendiri.

Ia berusaha menyukakan Allah lebih dari pada menyukakan manusia (I Tes. 2:4).  Penghormatan kepada Allah harus melebihi penghormatan kepada manusia.

 MENCARI PEMIMPIN ROHANI

 

Menurut Paulus, orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah (I Tim. 3:1).   Berarti cita-cita untuk menjadi seorang pemimpin rohani adalah suatu keinginan yang mulia.  Memang ada orang ambisius yang mencari kedudukan demi kepentingan diri sendiri, tetapi ada ambisi-ambisi yang mulia dan pantas dihargai dan patut dikejar.  Apalagi pada zaman Paulus, kedudukan sebagai pemimpin rohani adalah suatu kedudukan yang berbahaya dan menuntut tanggung jawab yang berat.  Tidak jarang upahnya adalah kesukaran, hinaan dan penolakan.  Pada masa penganiayaan, maka pemimpinlah yang paling dahulu harus menderita.  Hal itu terjadi juga pada masa kini.  Lagipula yang ditekankan bukanlah jabatannya semata-mata, melainkan fungsi sebagai penilik. 

 

 

 

Pemimpin rohani yang sejati senantiasa lebih memperhatikan pelayanan yang dilakukannya untuk Tuhan dan sesamanya, daripada memikirkan keuntungan dan kesenangan yang dapat diperolehnya dalam hidup.  Ia bertujuan untuk memberikan lebih banyak ke dalam hidup daripada yang diambilnya dari hidup ini.  Sejarah tidak memperhatikan sama sekali pangkat, gelar atau jabatan seseorang, melainkan kualitas perbuatan dan sifat pikiran serta hatinya.”

 

Pemimpin-pemimpin rohani tidak dihasilkan oleh pemilihan atau pengangkatan, baik oleh manusia atau oleh sekelompok manusia, maupun oleh konperensi atau sinode.  Hanya Tuhanlah yang dapat menghasilkan pemimpin (Mazmur 75:7-8).  Sekadar memegang kedudukan penting tidak membuat seseorang menjadi pemimpin.  Jabatan keagamaan dapat diberikan oleh para uskup (penilik jemaat) dan suatu dewan, tetapi tidak demikian halnya dengan wewenang rohani, yang menjadi bagian yang paling penting dalam kepemimpinan Kristen.  Wibawa/wewenang rohani sering kali diberikan, tanpa diminta, kepada orang-orang yang dengan kerohanian, disiplin, kemampuan dan kerajinan dalam hidup mereka telah membuktikan bahwa mereka layak menerima wewenang itu.  Mereka adalah orang-orang yang mematuhi Firman Tuhan.  Kepemimpinan rohani adalah sesuatu yang berasal dari Roh dan hanya dapat dianugerahkan oleh Allah.   Wewenang dan kepemimpinan rohani diperoleh bukan dengan usaha memajukan diri, melainkan dengan banyak berdoa dan air mata serta teguh memegang kebenaran Injil.

 

A.W Tozer mengatakan:  “Seorang pemimpin yang benar dan dapat dipercaya mungkin sekali adalah orang yang tidak ingin memimpin, tetapi dipaksa memegang pimpinan oleh dorongan Roh Kudus dari dalam dan tekanan keadaan dari luar.  Orang-orang seperti itu adalah Musa dan Daud dan para nabi dalam Perjanjian Lama … Saya percaya bahwa umumnya orang yang ambisius untuk memimpin biasanya tidak memenuhi  syarat sebagai pemimpin.  Seorang pemimpin sejati tidak mempunyai keinginan untuk berkuasa atas milik Allah, melainkan ia akan rendah hati, lembut, penuh pengorbanan dan bersedia memimpin, dan apabila Roh menyatakan dengan jelas bahwa ada orang yang lebih bijaksana dan berbakat daripada dirinya sendiri, ia juga rela untuk menjadi pengikut.”

 

 

 

BEDA KEPEMIMPINAN ALAMIAH DAN KEPEMIMPINAN ROHANI

 

Kepemimpinan rohani merupakan satu campuran antara sifat-sifat alamiah dan rohani.  Sifat-sifat alamiah pun bukannya timbul begitu saja, melainkan diberikan oleh Allah, dan oleh karena itu sifat-sifat ini akan mencapai efektivitasnya yang tertinggi, jika digunakan di dalam melayani Allah dan untuk kemuliaanNya. Kepribadian merupakan faktor yang terpenting, dalam kepemimpinan alamiah. Tetapi seorang pemimpin rohani mempengaruhi orang lain bukan dengan kekuatan kepribadiannya sendiri saja, melainkan dengan kepribadian yang dikuasai Roh Kudus.  Kepemimpinan alamiah dan kepemimpinan rohaniah mempunyai banyak segi persamaan, tetapi dalam beberapa hal nampak ada pertentangan.  Ini dapat dilihat, apabila kita membandingkan sifat-sifatnya yang menonjol.

 

ALAMIAH

ROHANI

1.  Percaya kepada diri sendiri

1.  Percaya kepada Allah

2.  Mengenal orang

2.  Mengenal orang dan Allah

3.  Mengambil keputusan sendiri

3.  Berusaha mencari kehendak Alah

4.  Ambisius

4.  Tidak menonjolkan diri sendiri

5.  Menciptakan cara-caranya sendiri

5.  Mencari dan mengikuti cara Allah

6.  Suka menyuruh orang lain

6.  Suka mentaati Allah

7.  Didorong oleh pertimbangan pribadi

7.  Didorong oleh kasih kepada Allah dan manusia

8.  Berdiri sendiri

8.  Bergantung pada Allah

 

KEPRIBADIAN PEMIMPIN KRISTEN

KARAKTER PEMIMPIN KRISTEN

Faktor utama yang harus dimiliki seorang pemimpin Kristen adalah: Integritas.  Paulus pernah menasehati Timotius, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.” (I Tim. 4:16).  Bila kita memiliki karakter yang indah maka akan timbul wibawa rohani, yang membuat orang akan rela mengikuti kita.   Alkitab menuntut persyaratan ketat untuk seorang pemimpin rohani.

Dalam Keluaran 18:21, disebutkan bahwa orang yang harus dipilih untuk menjadi pemimpin umat Israel adalah orang yang memiliki:

1. Integritas Diri (hubungan dengan diri, dan bagaimana memandang diri) – cakap, yaitu menyangkut keberadaan/kemampuan/kematangan individu.  

2. Integritas Rohani (hubungan pribadi dengan Allah) – takut akan Allah, komitmen kepada Allah.  

3. Integritas Sosial (integritas etika/moral/sosial dalam hubungan dengan orang lain) – dapat dipercaya  

4. Integritas Ekonomi (hubungan dengan benda/uang, kebutuhan vs tanggung jawab) – benci pengejaran suap.  

5. Integritas Kerja (hubungan dengan pekerjaan yang dipercayakan kepada pemimpin) – memimpin orang 1000, 100, 50, 10 – sikap terhadap kerja dan orang yang dipimpin. 

 

Dalam I Timotius 3:1-13, Paulus memberikan kriteria bagi seorang pemimpin rohani, meliputi klasifikasi:  

1. Sosial: tak bercacat, mempunyai nama baik di luar jemaat, orang terhormat.  

2. Moral: suami dari satu istri, dapat menahan diri, bukan peminum/penggemar anggur.  

3. Mental: bijaksana, sopan, cakap mengajar.  

4. Kepribadian: Bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, suka memberi tumpangan, bukan hamba uang/serakah, jangan bercabang lidah dan suka memfitnah, hati nuraninya murni, dapat dipercaya.  

5. Rumah Tangga: kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.  

6. Kedewasaan: bukan orang yang baru bertobat, harus diuji dulu. 

 

Karena itu seorang pemimpin Kristen, disamping harus sudah lahir baru, ia haruslah memiliki kepribadian yang matang/dewasa, antara lain: 

 

1. JUJUR. 

Seorang pemimpin harus memiliki kejujuran baik terhadap orang lain maupun diri sendiri.  Jujur berarti tidak bercabang lidah, bertindak sportif, terbuka dan berani mengakui kesalahan serta tidak mencari “kambing hitam”.  Hal ini tidak akan menurunkan wibawa kita, malah membuat orang lain makin respek/menghargai kita. 

 

2. MENJAGA KESUCIAN.  

Kesucian memberikan wibawa rohani dan urapan Allah kepada seorang pemimpin.  Namun kesucian bukan berarti kita tidak pernah gagal atau salah, tapi sikap dimana kita senantiasa rela diperbaiki dan cepat menyelesaikan kegagalan, dosa dan kesalahan. Makin tinggi kerohanian seseorang, makin mudah ia mengaku dosa dan membereskannya.  Orang yang mudah mengaku dosa, mudah menerima pengampunan. 

 

3. MEMILIKI PENDIRIAN ROHANI YANG TEGUH. 

Pemimpin harus memiliki landasan rohani yang kokoh, tidak berkompromi dalam mengambil keputusan karena mendengar pendapat orang atau membaca buku saja.  Pemimpin juga harus tegas, artinya konsekwen dengan apa yang sudah digariskan.  Tegas berarti berani mengoreksi anak buah yang salah, namun dengan kasih (Ams. 28:23). 

 

4. DISIPLIN.  

Sifat ini sangat penting karena tanpa disiplin maka karunia-karunia yang lain, betapa pun besarnya, tidak akan berkembang dengan sepenuhnya. Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain, karena ia telah mengalahkan dirinya sendiri. Seorang pemimpin adalah orang yang pertama-tama telah menyerahkan dengan sukarela dan belajar untuk mentaati disiplin yang berasal dari luar dirinya, tetapi yang kemudian menaklukkan dirinya sendiri pada disiplin yang lebih keras dari dalam.  Mereka yang memberontak terhadap penguasa dan meremehkan disiplin pribadi, jarang yang cakap menjadi pemimpin pada tingkat atas.  Orang yang berkaliber pemimpin akan bekerja sementara orang lain membuang-buang waktu, belajar pada waktu orang lain tidur, dan berdoa pada waktu orang lain bermain.  

 

5. KEBERANIAN. 

Keberanian adalah sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan, tanpa rasa takut atau kecil hati. Martin Luther memiliki sifat yang penting ini dalam ukuran yang luar biasa. Dia berkata, “Saya tidak merasa takut sedikitpun; Allah dapat membuat orang begitu berani.  Tingkat keberanian yang paling tinggi dapat dilihat dalam pribadi yang paling penakut, tetapi yang tidak mau menyerah kepada ketakutan.” Keberanian seorang pemimpin dinyatakan dalam hal ia rela menghadapi kenyataan yang tidak enak dengan ketenangan hati yang teguh. 

 

6. KERENDAHAN HATI. 

Di bidang politik, kerendahan hati bukanlah suatu sifat yang diinginkan atau diperlukan. Tetapi menurut ukuran Allah, kerendahan hati mendapat tempat yang sangat tinggi.  Tidak menonjolkan diri, tidak mengiklankan diri, adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan.  Seorang pemimpin rohani akan memilih pelayanan yang penuh pengorbanan  yang tidak digembar-gemborkan, bukan tugas yang megah dan pujian yang berlebihan dari orang-orang yang tidak rohani.  Rendah hati beda dengan rendah diri/minder, tapi terbuka untuk menerima kritik dan memperbaiki kekurangan diri. Contoh: Paulus merendahkan hati agar tujuan Injil tercapai ( I Kor 9:22-23). 

 

7. RAJIN, MAU BEKERJA KERAS.  

Tak ada hal besar yang bisa dicapai bila pemimpin malas dan tidak mau bekerja keras.  Kerajinan, kerja keras disertai keuletan, itulah yang membuat kepemimpinan seseorang menjadi efektif.  Pemimpin dituntut bekerja lebih daripada orang yang dipimpinnya.  Terutama bekerja dengan pikiran, strategi, pengertian dan kasih.  Keberhasilan tidak diraih dalam sekejap.  Mereka bekerja keras di malam yang gelap ketika orang lain tertidur lelap.  Untuk itu dibutuhkan disiplin diri yang teguh.  Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain karena ia telah mengalahkan dirinya sendiri. 

 

8. RELA BERKORBAN/MENDERITA. 

Pemimpin yang tidak rela berkorban (termasuk mengorbankan harta milik) tidak akan berhasil.  Perhatikan teladan Yesus yang bahkan rela mengorbankan hidup-Nya bagi umat manusia.  Pemimpin rohani juga harus sungguh-sungguh berjuang dan bergumul dalam pelayanan.  Kemajuan pekerjaan Tuhan seringkali menuntut kerelaan menderita dari si pengerjanya.  Lihat: Mazmur 126:5-6. 

 

9. KESABARAN 

Kesabaran adalah keteguhan hati untuk tahan menderita demi kemenangan, menerima dengan gagah dan berani segala sesuatu yang dapat menimpa kita di dalam hidup ini, dan mengubah keadaan yang paling buruk sekalipun menjadi satu langkah ke arah yang lebih tinggi.  Kesabaran adalah kesanggupan yang memungkinkan orang melampaui keadaan krisis dengan tabah, dan dengan gembira selalu menyambut yang tidak terlihat. 

 

10. MEMPERHATIKAN.  

Pemimpin harus peduli kepada pengikutnya, seperti ibu yang mengasuh dan merawat anaknya, dan seperti bapa yang menasehati dan menguatkan hati anaknya (I Tes. 2:7-8, 11).  Orang tidak peduli berapa banyak yang anda tahu, sampai orang tahu berapa banyak anda peduli. Seorang pemimpin sejati sanggup memperkaya kehidupan orang yang dipimpinnya.  Ia senang melihat mereka maju dan tidak menganggapnya sebagai saingan.  Ini terjadi karena ia memiliki “hati Bapa”. 

 

11. HIKMAT. 

Hikmat adalah pengetahuan dengan pengertian sedalam-dalamnya terhadap inti persoalan, dan mengenalnya sebagaimana adanya.  Di dalam hikmat termasuk pengetahuan akan Allah dan segala seluk beluk tentang hati manusia.  Hikmat jauh lebih luas daripada pengetahuan; hikmat merupakan penerapan yang benar daripada pengetahuan di dalam persoalan-persoalan moral dan rohani, dalam menghadapi keadaan yang membingungkan dan kerumitan hubungan manusia. Hikmat lebih daripada kecerdasan manusia, hikmat adalah ketajaman sorgawi. Menurut Theodore Roosevelt, hikmat sembilan persepuluhnya adalah sikap bijaksana pada waktunya.Pengetahuan diperoleh melalui belajar, tetapi pada waktu Roh Kudus masuk, Ia memberikan hikmat untuk memakai dan menerapkan pengetahuan itu dengan tepat.  

 

12. PENUH DENGAN ROH KUDUS.  

Kepemimpinan rohani hanya dapat dilakukan oleh orang yang penuh Roh.  Ini adalah syarat mutlak. Tanpa perlengkapan penting ini, seseorang tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin rohani yang sejati (Kisah 1:8; 6:3,5). 



 



 

KUALITAS KEPEMIMPINAN YANG HARUS DIMILIKI 

 

1. BERPANDANGAN LUAS. 

Pemimpin yang picik tidak dapat merangkul orang yang dipimpinnya karena tidak dapat menampung ide dan pendapat banyak orang.  Pemimpin harus mengerti Alkitab dan perkembangan masyarakat.  Karena itu dia harus banyak belajar, membaca dan bergaul luas dengan banyak orang.  Ini membuat kita bersifat obyektif, tidak picik dan tidak dikuasai oleh perasaan/emosi.  Bersifat obyektif artinya: kita dapat memandang sesuatu sebagaimana adanya.  Pemimpin yang obyektif dapat melihat keseluruhan dengan mengambil garis yang tepat dari segala keseluruhan itu.  Misalnya dalam rapat, pemimpin dapat menarik satu kesimpulan yang sedapat-dapatnya membuat semua mereka setuju. 

 

2. PENGLIHATAN KE DEPAN (VISI). 

Pemimpin harus hidup dalam kekinian, tapi juga melihat ke depan dalam keakanan.  Pemimpin harus punya visi, itu menyebabkan orang akan mengikutinya.  Ia melihat ke depan dan membuat rencana.  Sejauh penglihatan seorang pemimpin, sejauh itu pulalah ia dapat mengarahkan orang yang dipimpinnya.  Visi meliputi unsur: melihat ke depan (bukan melihat masa lalu saja), optimisme/pengharapan dan keberanian untuk melakukan langkah iman. Mereka yang paling kuat dan secara tetap mempengaruhi generasi mereka biasanya adalah seorang “pelihat”, yaitu orang-orang yang lebih banyak dan lebih jauh melihat daripada orang lain.  Menurut Leroy Eims, pemimpin adalah seorang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang lain, yang melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan yang melihatnya sebelum yang lain melihatnya. Kepemimpinan yang bertanggung jawab selalu memandang ke depan untuk melihat bagaimana kebijaksanaan yang diusulkan akan mempunyai akibat bukan hanya pada generasi ini, melainkan juga pada generasi yang akan datang. 

 

3. CAKAP/TERAMPIL.  

Ia dapat diajar dana selalu ingin mempelajari hal-hal yang dapat meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan tugasnya dengan lebih baik (Ams. 15:14).  Bila ada kesempatan selain belajar secara otodidak, milikilah pendidikan akademis yang baik.  Selain dari pengetahuan, keterampilan adalah kunci keberhasilan (Pk. 10:10). 

 

4. MAMPU BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK.  

Ini berarti pemimpin harus memberi informasi yang tepat pada waktunya, yakni informasi yang membangkitkan motivasi.  Ini menumbuhkan rasa memiliki, membuat orang yang dipimpin merasa dirinya penting dan menciptakan kehangatan rohani dalam persekutuan dengan sesama saudara seiman. Pemimpin juga harus bisa berdiplomasi, artinya memiliki ketrampilan dalam mempersatukan pandangan yang saling bertentangan tanpa melukai perasaan dan tanpa kompromi.; kemampuan untuk menyelesaikan perundingan dan persoalan yang sulit dengan cara mengakui hak masing-masing, namun mengarah pada pemecahan secara harmonis. 

 

5. MAMPU MEMBUAT KEPUTUSAN. 

Jika semua fakta telah ada, maka satu keputusan yang cepat dan jelas merupakan ciri seorang pemimpin yang benar.  Orang yang mempunyai penglihatan harus mengambil tindakan terhadap persoalan itu atau ia akan tetap sebagai seorang penonton, dan bukan seorang pemimpin.  Jika seorang pemimpin rohani telah merasa yakin akan kehendak Allah, ia harus segera bertindak tanpa menghiraukan akibat-akibatnya.  Dalam mencapai tujuannya, ia harus memiliki keberanian untuk pantang mundur.  Ia harus rela menerima tanggung jawab penuh atas akibat kegagalan atau sukses, dan tidak melemparkan kesalahan kepada bawahannya. Seorang pemimpin sejati akan melawan pencobaan untuk menunda pengambilan keputusan, dan ia tidak akan bimbang setelah keputusan diambil. Biasanya, satu keputusan yang tulus meskipun  salah, masih lebih baik daripada tidak mengambil keputusan sama sekali. 

 

6. MEMILIKI RASA HUMOR. 

Seorang pemimpin perlu mempunyai selera humor yang baik.Humor yang bersih dan sehat akan meredakan ketegangan dan mengobati keadaan yang sulit. Ini juga cerminan dari sikap hati yang positif. Kita bukan saja harus memupuk pikiran semata-mata, melainkan juga hal-hal yang menyenangkan.  Charles Spurgeon dalam membela pemakaian humor di atas mimbar, ia menulis, “Ada hal-hal dalam khotbah-khotbah ini yang dapat menyebabkan orang tersenyum, tetapi apa salahnya?  Si pengkhotbah sendiri tidak yakin bahwa suatu senyuman merupakan suatu dosa.  Lagi pula, ia berpendapat bahwa lebih baik membiarkan orang tertawa untuk sementara daripada tertidur dengan pulas selama setengah jam”. Anda tidak dapat memimpin orang lain sampai jauh tanpa sukacita Tuhan dan yang mengikutinya yaitu rasa humor.  Humor memberikan ketajaman, keaslian dan kefasihan kepada khotbah. Suatu test yang baik untuk mengetahui apakah humor kita cocok atau tidak ialah apakah kita mengendalikan humor itu atau humor itu mengendalikan kita. 

 

7. BISA MARAH UNTUK ALASAN DAN PADA WAKTU YANG TEPAT. 

Kedengarannya agak aneh kalau sifat ini menjadi salah satu kualitas kepemimpinan.  Tetapi bukankah ini juga ada di dalam kehidupan Yesus? “Yesus melihat mereka dengan marah” (Yoh 2:15-17).  Kemarahan yang benar tidak kurang luhurnya dari pada kasih, oleh karena kedua sifat itu ada pada Allah.  Yang satu memerlukan yang lain. Kasih Yesus kepada BapaNya dan semangat untuk kemuliaanNya menyebabkan kemarahanNya kepada para pedagang yang mata duitan, yang telah mengubah tempat ibadah untuk segala bangsa menjadi gua penyamun (Mat 21:13).  Para pemimpin besar yang telah menyelamatkan bangsanya dari kemunduran nasional dan kemunduran rohani merupakan orang-orang yang bisa marah terhadap ketidak-adilan dan penyalahgunaan yang tidak memuliakan Allah dan yang memperhamba manusia. Paulus membuktikan kemungkinan marah yang benar dalam nasehatnya, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Ef. 4:26).  Kemarahan yang berpusat pada diri sendiri selalu berdosa.  Agar tidak berdosa, kemarahan itu harus merupakan kegairahan akan hukum-hukum kebenaran dan kesucian, dengan kemuliaan Allah sebagai tujuannya. Jika kita marah terhadap dosa di dalam hidup kita, maka kemungkinan besar kita akan mengalami kemarahan yang benar terhadap dosa pada orang lain. 

 

8. MENJALIN PERSAHABATAN. 

Pemimpin rohani mencintai orang dan mempunyai kemampuan yang besar untuk bersahabat.  Salah satu unsur dalam kepemimpinan adalah kemampuan untuk dapat menimbulkan yang terbaik dari dalam diri orang lain. Untuk mencapai hal ini, maka keramah tamahan pribadi jauh lebih berhasil daripada argumentasi yang panjang. Pemimpin harus mampu membangun hubungan dengan semua relasi. Dale Carnegie Foundation menyimpulkan: 15% keberhasilan terjadi karena faktor kemampuan teknis, tapi 85% keberhasilan diperoleh karena kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain.  Jadi usahakanlah ikut berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan yang ada. Jangan lupa menghadiri undangan tetangga, melayat yang meninggal, mengunjungi yang sakit, dll. 

 

9. KEMAMPUAN MELAKSANAKAN. 

Orang yang tidak mempunyai sifat ini sampai taraf tertentu, meskipun ia dapat melihat hal-hal rohani dengan jelas, tidak akan dapat mewujudkan penglihatannya menjadi satu tindakan.  Pemimpin harus dapat membuat rencana yang teratur sambil tetap bergantung pada pimpinan Roh, dan dengan cakap melaksanakan apa yang telah direncanakan agar mencapai tujuannya. 

PEMBENTUKAN SEORANG PEMIMPIN

PERSIAPAN MENJADI PEMIMPIN

Untuk menjadi pemimpin, kita harus rela diproses oleh Tuhan. Bila tidak mau dibentuk, muncullah ketidakmatangan dalam pribadi dalam bentuk, misalnya:

  • Tidak bisa menyesuaikan diri dalam pergaulan dengan orang lain
  • .Suka mencampuri orang lain, tapi tugasnya sendiri terbengkalai.
  •  Suka menyalahkan orang, bukannya mencari solusi
  • .Tidak mampu menjalin semangat kebersamaan dalam suatu tim
  • Tidak mampu menangani kritik dan perbedaan. 
  • Suka melontarkan kritik tajam.
  •  Hanyut dalam masalah dan tidak bisa meraih tujuan utama


Untuk itu kita harus menyiapkan diri dan mental kita mulai dari perkara kecil, misalnya:

  • Mengerjakan pekerjaan yang dianggap sederhana/hina -> melatih hati.
  • Mengerjakan setiap pekerjaan sebaik mungkin dengan tekun.  Lukas 16:10.
  • Merawat tubuh dan mengembangkan kebiasaan yang baik, misalnya: mandi dan menggosok gigi teratur, berpenampilan rapi dan harum. 
  •  Memperhatikan orang lain.  Belajarlah peduli terhadap lingkungan sekitar


 

Selain itu ada berbagai hal penting dalam kehidupan pemimpin rohani seperti di bawah ini:



 

PEMIMPIN DAN DOANYA

Seorang pemimpin tidak boleh mendahului para pengikutnya di dalam hal apapun lebih daripada di dalam hal berdoa.  Doa adalah nafas rohani bagi orang Kristen, yang mampu menjangkau hal-hal yang tak terjangkau secara manusia. Percobaan paling berat bagi para pemimpin adalah malas berdoa walaupun tahu doa itu penting.  Untuk itu perlu tekad dan disiplin diri.  Misalnya, tulis di Alkitab “Saya akan berdoa minimal satu jam dan membaca Alkitab 5 pasal setiap hari”.  Kepemimpinan tanpa doa akan gersang, tidak bergairah dan tidak ada urapan Roh Kudus.

Semakin pemimpin sibuk, seharusnya semakin banyak pula waktu untuk berdoa. Tidak ada cara untuk belajar berdoa selain daripada berdoa. Untuk mendapat contoh yang terbaik daripada kehidupan doa, seorang pemimpin dengan sendirinya akan melihat kehidupan Tuhan Yesus sendiri.

Hudson Taylor berkata, ”Kita dapat menggerakkan orang, dengan perantaraan Allah, hanya dengan doa.” Manusia merupakan pribadi yang sulit digerakkan, tetapi justru dalam keadaan seperti itulah maka pemimpin harus membuktikan kekuatannya  untuk menggerakkan hati manusia ke arah mana ia yakin Allah berkehendak. Dan Allah telah menaruh kunci ke dalam tangannya untuk menanggulangi masalah yang rumit ini, yakni melalui DOA!  Para pemimpin besar di dalam Alkitab dikenal karena mereka adalah pahlawan-pahlawan doa yang besar.


 

PEMIMPIN DAN WAKTUNYA

Pemimpin harus bisa mengatur waktu dengan memprioritaskan hal utama sebagai hal yang harus diutamakan, yakni menyediakan waktu untuk Tuhan, keluarga dan pekerjaan/pelayanan. Jika seseorang berambisi untuk menjadi unggul, ia harus mengadakan pemilihan dan penolakan, kemudian memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting. Ahli filsafat Wiliam James menegaskan bahwa pemanfaatan hidup yang sebaik-baiknya ialah memakainya untuk sesuatu yang akan tetap ada setelah hidup kita berakhir, karena nilai hidup tidak dihitung menurut lamanya, melainkan menurut apa yang telah disumbangkan olehnya. Bukannya berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana penuhnya dan baiknya kita hidup.

Kalimat yang jarang terdengar dari mulut seorang pemimpin adalah “Saya tidak punya waktu”.  Orang yang benar-benar sibuk tidak pernah tidak mempunyai waktu sebab mereka mengaturnya dengan ketat dan sistematis.  Dia memiliki kalender kegiatan dan rencana kegiatan setiap hari.  Pemimpin tidak suka menunda ataupun memboroskan waktu untuk hal yang tidak penting. Penundaan, yaitu pencuri waktu, merupakan salah satu senjata iblis yang paling ampuh untuk menipu manusia. Penundaan merupakan suatu kebiasaan yang dapat berakibat fatal terhadap kepemimpinan rohani yang efektif. Cara yang paling menolong untuk mengalahkan kebiasaan menunda-nunda waktu ialah menetapkan batas waktu bagi diri-sendiri, kemudian berketetapan hati untuk tidak melampaui batas waktu itu.

Tuhan memberikan satu contoh yang sempurna dalam rencana penggunaan waktu. Ia memakai hidupnya dengan berencana, Ia tidak pernah tergesa-gesa, meskipun selalu dikerumuni orang banyak. Ia selalu tenang. Rahasia ketenanganNya terletak di dalam keyakinanNya bahwa ia bekerja sesuai dengan rencana BapaNya bagi Dia, yaitu satu rencana yang meliputi tiap-tiap jam dan siap menghadapi setiap kemungkinan.  Jika kita secara jujur merencanakan kegiatan hari itu bersama Tuhan, tanggung jawab kita hanyalah sampai pada hal-hal yang berada dalam jangkauan, selebihnya dapat diserahkan kepada Bapa yang di Surga yang penuh kasih dan kemampuan.


PEMIMPIN DAN BACAANNYA


Paulus memakai saat-saat terakhir sebelum mati syahid untuk membaca (II Tim. 4:13).  Orang yang ingin tumbuh secara rohani dan akal budinya akan banyak membaca buku.  Dengan membaca banyak inspirasi akan muncul.  Bacalah Alkitab, buku rohani, biografi dan juga bacaan umum untuk mengerti dunia dan pergumulannya.  Menurut Bacon: “Membaca menjadikan orang dewasa, berbicara menjadikan orang siap sedia, menulis menjadikan orang tepat”.  Agar yang kita baca kita kuasai, buatlah catatan untuk hal penting dan menarik dari bacaan itu.  John Wesley mempunyai kecintaan untuk membaca dan pembacaannya sebagian besar dilakukan pada waktu ia naik kuda! Ia berkata pada para pendeta di kalangan kaum Wesley agar membaca atau keluar dari pelayanan!  Karena itu ambillah keputusan untuk membaca buku-buku yang bermanfaat bagi perkembangan jiwa, pikiran dan rohani paling sedikit setengah jam sehari.

Mengapa membaca?

Membaca membuat kita mengisi kembali diri dengan sumber-sumber inspirasi. Seorang pemimpin rohani harus membaca untuk membangun rohaninya, merangsang akalnya, dan mengembangkan gaya dalam khotbah, pengajaran dan tulisannya.  Seorang pemimpin juga harus membaca untuk memperoleh keterangan, dan agar mempunyai persekutuan dengan orang-orang yang besar sepanjang zaman.

Apa yang harus dibaca? 

Jika memang benar, bahwa seorang dikenal melalui siapa teman-temannya, tidak kurang benarnya, bahwa sifatnya tercermin dari buku-buku yang dibacanya, oleh karena buku-buku itu merupakan pernyataan kelaparan dan keinginan yang ada di dalam. Seorang pemimpin hendaknya menyelami buku-buku yang akan melengkapi dia untuk meningkatkan pelayanan dan kepemimpinannya dalam Kerajaan Allah.

Bagaimana cara membaca? 

Membaca itu mudah. Yang jauh lebih sukar ialah menyimpan hasil bacaan di dalam pikiran. Dalam hal membaca Anda hendaknya lebih mementingkan kualitas, daripada kuantitas.   Karena itu: 1) Janganlah membaca terlalu banyak hal yang akan segera dilupakan.  2) Membaca sambil memegang pensil dan buku catatan, catat apa yang Anda baca. 3) Hendaknya kita membaca beberapa macam buku, karena pikiran kita mudah sekali menjadi bosan. Variasi berkhasiat memberi ketenangan pada pikiran maupun tubuh kita.


PEMIMPIN DAN UANGNYA


Pemimpin rohani harus memberi contoh kepada pengikutnya mengenai tanggung jawabnya di bidang keuangan.  Ini didasari kesadaran bahwa kita bukanlah pemilik namun hanya pengelola dari harta milik Allah, yang kepadaNya kita akan memberi pertanggungjawaban (I Pet. 4:10, Luk. 12:42-46).  Keteladanan seorang pemimpin dalam hal keuangan nyata antara lain dalam hal:

  • Jujur dalam hal keuangan, bahkan untuk urusan yang kecil (Luk. 1610-12)
  •  Setia mengembalikan milik Allah, yaitu persepuluhan (Maleakhi 3:8-10).
  • Tidak serakah/mencari keuntungan bagi diri sendiri dan menjadi hamba uang, sebaliknya hidup berpada dengan yang ada, artinya: tidak boros waktu kelimpahan dan tidak berhutang ketika kekurangan (Luk. 3:14, Fil. 4:11). 
  • Mampu mengatur keuangan dengan baik, dicatat dengan seksama, baik dalam hidup pribadi maupun dalam organisasi.  Semestinya, istri seorang pemimpin jangan memegang keuangan lembaga yang dipimpin suaminya, karena hal itu bisa menimbulkan kecurigaan. 
  • Memiliki hati yang berkelimpahan dan suka memberi/berkorban (II Kor. 9:6-15).

 

TUGAS KEPEMIMPINAN



1. Menetapkan visi dan misi dengan jelas.

Pemimpin harus tahu apa misi dari pelayanan yang dia tangani.  Misi mengingatkan “mengapa kita/organisasi ini ada”.  Gereja ada bukan sekedar untuk membuat serangkaian kegiatan yang menyenangkan, tapi misi utamanya adalah memenangkan jiwa yang terhilang dengan Injil Kristus.  Pemimpin juga harus memiliki visi, yaitu pandangan ke depan, supaya dia dapat menentukan sasaran, arah, tujuan (goal) yang jelas, sehingga ia dapat mengajak semua orang untuk mencapai visi itu.

  • · Keuntungan karena menentukan sasaran antara lain:

1. Hidup terarah dan berarti.

2. Potensi dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

3. Menumbuhkan rasa percaya diri, karena tahu arah hidup dan yakin hal itu dapat dicapai.

4. Terhindar dari melakukan hal yang tidak perlu karena ada prioritas yang jelas.

5. Tumbuh semangat dan motivasi untuk mencapainya.

6. Lebih siap menghadapi tantangan.

7. Mendorong untuk lebih bergantung pada kuasa Roh Kudus.

8. Memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil.

  • · Sebab-sebab orang tidak menentukan sasaran:

1. Belum pernah melakukan sebelumnya.

2. Merasa tanpa menentukan sasaranpun bisa hidup.

3. Mau lebih praktis.

4. Takut gagal, dicela dan dikritik karena diketahui orang lain apakah sasaran tercapai atau tidak

5. Visi tidak jelas, pikiran bercabang.

  • · Cara menentukan sasaran:

1. Tulislah sasaran itu.  Sifatnya harus SMART, yaitu: Spesifik (jelas dan rinci), Measurable (dapat diukur), Attainable (dapat dicapai), Realistic (sesuai kemampuan), Tangible (nyata).

2. Baca berulang-ulang sehingga pikiran terkondisi (membentuk mind-set).  Amsal 23:7.

3. Visualisasikan/bayangkan hasil yang dicapai.

4. Sungguh-sungguh mengharapkan tercapainya sasaran itu.

5. Buat langkah-langkah kegiatan, target waktu dan anggarannya.

6. Perlu ada perpaduan antara usaha manusia dan berkat Allah. Ora et Labora.

2. Berhubungan dengan orang lain secara positif.

Pemimpin harus bisa menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain, dan berorientasi pada manusia (people oriented).  Mereka mengilhami orang lain.

3. Mengkomunikasikan tujuan organisasi.

Pemimpin harus bisa menyatakan tujuan organisasi dengan jelas, baik secara lisan maupun tulisan.  Ini bermanfaat memberikan informasi bagi orang yang ingin turut serta dalam kelompok, memelihara urutan prioritas, menyortir semua ide/usulan apakah sesuai dengan tujuan, mengevaluasi hasil yang dicapai kelompok.

4. Merencanakan dan menunjang program.

Pemimpin yang gagal membuat rencana berarti merencanakan kegagalan.  Dia harus membuat sasaran jangka panjang dan sasaran jangka pendek.  Sasaran ini kemudian dijabarkan dalam program dan kalender kerja.  Program yang sudah dibuat harus disosialisasikan/ disebarluaskan bahkan dipromosikan, sehingga menimbulkan kesan tentang pentingnya rencana tersebut dan orang akhirnya mendukung dan terlibat di dalamnya.

5. Mengembangkan prosedur pelaksanaan dan penilaian.

Pemimpin harus membuat penjabaran tugas dan tanggung jawab, agar orang tahu dengan jelas apa yang harus dilakukannya, hasil apa yang diharapkan, kepada siapa dia melapor dan bertanggung jawab, kapan hal itu harus diselesaikan, dan sebagainya.  Memiliki prosedur sedemikian yang dimengerti oleh seluruh organisasi menyebabkan penghematan waktu dan tenaga serta mengurangi ketidakpastian tentang tugas-tugas rutin.

6. Merekrut dan mengembangkan personil.

Pemimpin yang berhasil adalah orang yang sanggup mengembangkan sebuah team pemenang dan bekerja dengan team itu untuk mencapai sasaran.  Untuk itulah dia perlu menemukan staff yang tepat dan merekrutnya dalam pelayanan.  Pemimpin harus melihat bahwa aset organisasi yang paling berharga adalah: Manusia!  Untuk itu pemimpin harus bisa menuangkan visi, memberikan dorongan/ motivasi, memperluas cakrawala pemikiran, menghargai, mempercayai dan mengembangkan pengikutnya agar bisa menjadi pemimpin yang handal. 

 

Podcast Feed

Selipan

You are here: