Lalu Yosua memberi perintah kepada pengatur-pengatur pasukan bangsa itu, katanya: "Jalanilah seluruh perkemahan dan perintahkanlah kepada bangsa itu, demikian: Sediakanlah bekalmu, sebab dalam tiga hari kamu akan menyeberangi sungai Yordan ini untuk pergi menduduki negeri yang akan diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki."
Bacaan Alkitab Setahun : Amsal 23; Efesus 6; Pengkhotbah 10-12
Tuhan itu maha kuasa dan berdaulat. Tidak ada apapun yang dapat menggagalkan rencanannya. Namun pada saat yang sama, Dia memberikan kepada kita hak istimewa untuk kita mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya di bumi ini. Dia mengijinkan kita untuk digunakan sebagai alat untuk menggenapi rencana-Nya. Tetapi kita tidak melakukannya tanpa Dia ; sebaliknya Tuhan memilih melakukannya bersama kita.
Saya senang bagaimana Jerry Bridges menjelaskan hal ini. Dia membandingkan partnership kita dengan Tuhan dengan bertani, ia berkata seperti ini, “Bertani adalah usaha patungan antara Tuhan dan petani. Si petani tidak bisa mengerjakan apa yang menjadi bagian Tuhan, dan Tuhan tidak akan mengerjakan apa yang menjadi bagian pekerjaan petani.”
Lukas 24:49
Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.
Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 142; Yohanes 2; 2 Samuel 11-12
Apakah para murid dapat menggenapi rencana Allah tanpa bantuan kuasa Roh Kudus? Tidak. Hal yang sama juga berlaku dengan kita.
Hal ini harusnya tertanam dalam benak kita, karena biasanya bila kita sedang terbakar oleh visi dan juga semangat yang berapi-api, kita melupakah hal yang sangat esensi ini. Kita mungkin melihat “gambaran besarnya” dan telah membuat rencana langkah demi langkah untuk mencapai tujuan, namun tanpa peran Roh Kudus, semua yang kita lakukan akan menjadi sekedar unjuk kekuatan manusia saja dan apa yang dicapai tidak akan maksimal seperti yang Tuhan inginkan.
Sebelum saya menginjak usia empat belas tahun, hal pertama yang saya ingat adalah kematian ayah saya. Ia telah gagal dalam bisnisnya. Segera setelah kematiannya, para kreditur datang dan menyita semua yang ada. Padahal ibu saya harus menghidupi banyak anak.
Petaka demi petaka melanda seluruh anggota keluarga. Ibu masih melahirkan sepasang anak kembar. Setelahnya, Ibu jatuh sakit. Kakak lelaki saya, putra tertua, usianya masih lima belas tahun. Ibu berharap padanya untuk menopang keluarga dalam kondisi yang berat itu. Namun, kekak lelaki saya ingin meninggalkan rumah untuk mendapat nasib baik. Maka, ia pergi jauh dan menjadi pengembara.
Kemarahan adalah kekuatan yang begitu menghancurkan. Kemarahan mengambil alih pikiran kita dengan kekuatan yang besar. Saat seperti itu, sepertinya tidak dapat dikontrol. Dan kemarahan membuat Anda seolah-olah begitu buruk dan menyebabkan hancurnya sebuah hubungan, menghancurkan keluarga, menghancurkan karir yang kita bangun, dan dapat menghancurkan iman.
Kemarahan yang terus diumbar akan merusak, kemarahan yang terus disimpan akan meledak. Tapi kemarahan yang diatasi dengan baik, akan membuahkan hasil yang baik pula. Tentunya bukan hal yang mustahil untuk mengatasi kemarahan ini. Ada banyak penyebab kemarahan, tapi umumnya disebabkan oleh sesuatu yang sudah ada di dasar hati yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau.
Tuhan Yesus, mereka hanya menjadi anak kecil satu kali saja. Oleh karenanya ya Tuhan, berilah aku kebijaksanaan untuk membimbing mereka ke jalan yang harus mereka ambil. Sebab aku tahu bahwa mereka tidak pernah bisa kembali dan berjalan ke jalan itu dengan aku lagi.
Tuhan Yesus, berilah aku kebijaksanaan untuk membimbing kaki mereka sehingga suatu hari nanti mereka akan bisa berjalan sendiri.
