Apa yang Anda rasakan ketika suatu saat berkesempatan untuk mendatangi tempat-tempat yang memiliki hubungan emosional dengan Anda? Biasanya kenangan-kenangan masa lalu silih berganti datang memenuhi benak kita.
Suatu kali saya pulang ke kampung tempat kelahiran saya. Memang suasananya telah banyak berubah. Jalan yang dulu becek ketika hujan turun, kini telah dicor dengan beton. Lahan persawahan tempat saya dulu bermain layang-layang, semakin menyempit karena berdirinya rumah-rumah baru. Rimbun pepohonan yang dulu membuat teduh kampung telah berganti dengan tiang-tiang listrik. Tetapi itu semua tidak menghapus kenangan saya tentang masa kecil. Ada ribuan kisah yang akan saya ceritakan kepada anak-cucu saya kelak.
Dalam nats Yosua 4:1-9, kita menemukan bahwa Tuhan memerintahkan Yosua untuk memilih dua belas orang dari masing-masing suku Israel. Tugasnya bukan untuk berperang, tetapi untuk mengangkat masing-masing sebuah batu dari sungai Yordan. Sudah kurang kerjaankah Yosua? Sama sekali bukan. Batu-batu itu akan dipergunakan untuk sebuah tujuan mulia pada masa mendatang. Batu-batu itu adalah sebuah tanda dan peringatan bagi orang Israel selama-lamanya (ay. 6-7).
Yosua ingin mewariskan sejarah, sesuai dengan perintah Tuhan, kepada generasi yang hidup sesudahnya kelak. Senada dengan hal ini, Bung Karno pernah berkata. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Jargon itu sering disingkat Jas Merah. Tidak ada yang berlebihan di sini. Kita tentu paham bahwa yang namanya sejarah telah membawa banyak pelajaran bagi kita. Yosua ingin agar melalui batu peringatan itu bangsa Israel diingatkan kembali mengenai perjanjian dan berkat Tuhan atas bangsanya.
Sejarah itu penting, tidak peduli manis atau kelam. Segala sesuatu yang baik dari sejarah kita pakai sekarang sebagai teladan. Yang buruk menjadi pelajaran bagi kita juga agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Itulah sebabnya mungkin Anda perlu mengambil waktu untuk melakukan ‘ziarah’ ke tempat-tempat yang berkesan bagi Anda. Mungkin itu rumah di kampung halaman Anda tempat di mana Anda dibesarkan orang tua. Mungkin juga itu gereja Anda pada masa kecil; tempat Anda dibesarkan dan mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus. Atau bahkan tempat-tempat di mana anda pernah gagal. Di sana Anda bisa memperbaharui tekad dan komitmen baru untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah Anda lakukan dahulu. Selamat berziarah!*** [jokoprihanto]
Influenza tercatat sebagai salah satu penyakit pandemik tertua di dunia ini. Bukan hanya tertua, tetapi wilayah cakupannya juga sangat luas meliputi seluruh dunia. Keberadaan penyakit inipun telah dideteksi oleh Hippocrates, salah seorang peletak dasar ilmu kedokteran dunia, lebih dari 2000 tahun yang lalu. Banyak obat telah dihasilkan kemudian, dari generasi ke generasi, untuk menangkal virus influenza. Bukannya berhenti, jenis penyakit ini malah ‘melahirkan’ penyakit turunannya semacam flu babi, flu burung, flu tulang, flu Hongkong, dll.
Kata ‘influenza’ sendiri berasal dari istilah Latin yang berarti ‘pengaruh’. Dari kata inilah istilah influence dalam Bahasa Inggris muncul. Zaman dahulu kala, orang yang terjangkiti influenza dipercaya terpengaruh oleh nasib buruk berdasarkan ramalan perbintangan (astrologi). Di kemudian hari, diyakini juga bahwa pengaruh cuaca yang dingin dapat mengakibatkan influenza. Setiap orang yang menderita influenza, dengan demikian, sedang terkena pengaruh.
Dalam kasus yang hampir sama, meski berbeda hal, Coca-Cola juga menorehkan pengaruh yang luar biasa terhadap dunia. Pada 8 Mei 1886, John Styth Pemberton, seorang ahli frmasi dari Atlanta, Georgia, USA memperkenalkan campuran sirup karamel yang kemudian tenar dengan istilah Coca-Cola. Dari sebuah industri kecil, minuman ringan ini kemudian merambah wilayah yang lebih luas, berkelana ke seantero dunia. Hari ini, setidaknya 1 milyar botol diminum orang setiap harinya di seluruh dunia. Rasanya setiap kepala di dunia ini pernah merekam Coca-Cola di dalam otaknya, meskipun belum pernah meminumnya.
Yesus Kristus mengajarkan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang menularkan pengaruh. Banyak perumpamaan disampaikanNya untuk menjelaskan prinsip pengaruh ini. Yesus berbicara tegas tentang garam dan terang. Ia juga menyatakan bahwa tak mungkin menyembunyikan pelita di bawah gantang. Dalam perkembangan lain, Ia mengumpamakan pengaruh Kerajaan Allah di muka bumi ini seperti ragi yang sedikit tetapi mempengaruhi adonan secara merata. Di bagian lain, Alkitab pun mencatat bahwa kita adalah surat Kristus yang terbuka. Kita juga dipanggil untuk memancarkan bau harum Kristus. Inilah panggilan setiap orang percaya: menjadi pengaruh! Ya, dengan pengaruh yang maksimal, maximum impact.
Cobalah tengok, Yesus tak pernah menginginkan pengaruh kita dibatasi oleh ranah yang sempit. Sebaliknya, Ia mau pengaruh kita tertular kepada dunia. Kala memberi Amanat Agung, Ia menandaskan tentang “semua bangsa” – “segala makhluk”. Memang semuanya diawali oleh sebuah wilayah yang kecil dan sempit. Hal ini terlihat dalam Kisah 1:8 yang memulai memancarkan pengaruh Injil dari Kota Yerusalem, seluruh Yudea, berlanjut ke Samaria dan akhirnya ujung bumi.
Rahasia panggilan ini besar! Ini anugrah yang sangat luar biasa karena kita yang berdosa, ditebus, diselamatkan dan kemudian diutusnya. Di sisi lain, anugrah itu juga meletakkan tanggung jawab di pundak kita. Perlu sebuah kesiapan matang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab ini. Tidak banyak waktu lagi untuk mengesampingkan amanat ini. Sudah waktunya untuk membekali diri dengan seluruh perlengkapan rohani kita sebagai orang-orang yang berpengaruh. Milikilah integritas tinggi, kinerja terbaik, pelayanan total. Semuanya demi maximum impact!*** [jokoprihanto]
Ketenaran yang membunuh! Mungkin kisah hidup Kurt Donald Cobain, pendiri dan vokalis band grunge, Nirvana, dapat digambarkan dengan kalimat itu. Betapa tidak, sementara orang lain merasa puas dengan ketenaran, ia malah muak dengan hal itu dan kemudian mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Sebenarnya Cobain hanya ingin bermusik untuk menyalurkan rasa marah dan depresinya. Sejak kecil ia mengalami peristiwa traumatis karena perceraian orang tuanya. Di sekolah ia juga sering mengalami perlakuan kasar dari guru dan teman-temannya. Cobain diejek dan dipukul karena dianggap culun dan bego. Ia merasa tidak berharga.
Ironis memang. Di tengah-tengah popularitas yang diraihnya, ia malah banyak melakukan kegilaan. Ia beberapa kali menggubah lagu dengan lirik-lirik yang sukar dimengerti. Ia manggung dengan menggunakan gaun baby doll. Pernah menantang Axl Rose, vokalis Guns N Roses untuk berkelahi tanpa sebab. Ia juga mengajak Courtney Love, istrinya yang tengah hamil, untuk mengkonsumsi heroin. Cobain ngotot mengusulkan lagunya I Hate My Self dan I Want To Die sebagai judul album ketiga Nirvana. Terang saja usulan ini ditolak mentah-mentah oleh rekan-rekannya.
Puncak kegilaannya terjadi ketika ia mencoba merealisasikan rencana bunuh dirinya dengan menenggak 50 butir pil painkiller yang disiran sampagne. Upaya ini rupanya gagal. Ia hanya koma dan kemudian menjalani rehabilitasi. Tetapi belum sampai sembuh, ia kabur dari rumah sakit. Bulan berikutnya ia ditemukan tewas dengan kepala berlubang . Sepucuk pistol masih menempel di dekat dagunya, juga dengan sebuah catatan terhadap orang-orang yang dicintainya. “Aku sudah tidak tahan menjadi pusat perhatian…” tulisnya.
Sahabat NK, perasaan tidak berharga memang acap menjadi sumber persoalan di dalam kehidupan seseorang. Jika hal ini mencengkeram seseorang, banyak ha-hal negatif yang kemudian mengekor di belakangnya. Orang semacam ini bisa minder, tidak berguna, salah pergaulan, tidak berkembang, hingga mengakhiri hidup dengan bunuh diri yang konyol.
Penawar dari semuanya itu adalah ketika kita menyadari posisi kita di dalam Kristus. Di dalam Dia, kita menjadi pribadi yang teramat berharga. Kita diterima dan dikasihi tanpa syarat. Untuk membuktikan penerimaan dan kasihNya itu, Dia naik ke kayu salib. Yesus mensubstitusi kita sebagai orang berdosa. Kedudukan kita sebagai pendosa telah digantikannya dengan bayaran darahNya sendiri. Sesudah peristiwa penebusan itu, posisi kita berubah drastis. Tadinya orang hukuman, musuh Allah; kini telah menjadi orang-orang ketebusan. Bahkan, yang lebih dahsyat dari itu, kita diadopsi (diangkat) menjadi anak-anakNya.
Pemahaman kita terhadap karya penebusan Kristus akan menjadi kunci bagi kita untuk mengerti betapa berharganya kita. Di tengah-tengah intimidasi si jahat yang selalu mencoba menurunkan derajat kita, ingatlah kebenaran bahwa posisi kita amat mulia di dlam Kristus. Keberhargaan kita yang adalah anugrah ini akan membawa kita kepada hidup yang berhasil dan memuliakan Dia. Beridirilah di depan cermin sejenak, dan bersyukurlah untuk nilai hidup Anda di dalam Kristus.*** [jokoprihanto]
Shalom jemaat yang di kasihi Tuhan. 1Pet 4:10 berkata, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” Setiap orang diberi Tuhan karunia yang harus digunakan untuk melayani. Karunia adalah pemberian Tuhan bagi kita, sedangkan pelayanan adalah apa yang kita bisa lakukan bagi Tuhan.
Mencari Wajah Tuhan
Shalom Jemaat yang dikasihi Tuhan! Suatu hari ada seorang petani yang cukup makmur sedang melakukan panen dan dia mengajak seluruh keluarganya untuk membantu memanen padi dan membawa masuk ke dalam lumbung yang cukup besar. Ketika itu dia memakai arloji dan dia rasa arloji itu mengganggu kerjanya, maka dia melepaskan arlojinya dan menaruhnya di suatu tempat di lumbungnya lalu dia lanjutkan pekerjaannya. Tapi ternyata orang-orang memasukkan padi hasil panen ke lumbung dan membuat arloji itu terbenam. Celakanya dia lupa di mana dia meletakkan arloji tersebut. Dia cari ke sana ke sini, dia minta orang untuk membantunya tapi tetap saja tidak ketemu.
