Jika Kamu Benci Pasanganmu, Mungkin ini yang Hilang dari Dirimu!

150121101741

Selamat datang rumah tangga, itu mungkin adalah hal yang membuat kita semangat pada saat memasukinya pertama kali. Namun, berjalan waktu kita justru menjadi tidak nyaman. Kita menganggap suami/istri adalah orang yang paling tidak mengerti diri kita.

Perselisihan demi perselisihan timbul. Dibandingkan hari tenang, justru sebagian besar hari dipenuhi dengan amarah atau bahkan adu mulut. Ini tidak terjadi bukan hanya pada keluarga non-Kristen. Keluarga-keluarga yang diberkati di dalam gereja pun mengalaminya. Lalu kalau begitu salahnya dimana? Apakah kita yang salah mendengar suara Tuhan atau justru pasangan kita yang telah benar-benar berubah?

Jika mau jujur dan melihat kepada diri yang paling dalam, suka atau tidak, tetapi kitalah yang sebenarnya bermasalah. Persoalannya pun sederhana yaitu bahwa kasih Allah mulai tergerus di dalam kita. Dengan banyaknya kesibukan di rumah maupun kantor atau bisnis, kita membiarkan hubungan pribadi dengan Tuhan lepas begitu saja.

Bukannya bertobat, tetapi kita justru menyalahkan keadaan. Kita menunda untuk membangun keintiman dengan Sang Kasih tersebut. Kita nilai bahwa urusan Tuhan hanyalah pada saat keadaan lajang, padahal itu salah besar.

Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi orang lain kalau kita tidak menerima kasih yang sejati dari Pencipta kita. Mustahil! Kalau pun bisa, kasih kita akan menjadi kasih yang terbatas. Kasih yang dikendalikan oleh waktu, situasi, dan kondisi.

Jika kita buka di Alkitab tepatnya di Korintus 13 maka terjabar seperti apa kasih itu.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7)

Jika kamu merasa bahwa lelah membacanya dan tidak sanggup karena begitu banyak, maka kamu butuh teladan. Kamu butuh Pribadi yang bisa melakukan itu semua di dalam hidupmu. Jawabannya adalah Tuhan.

Semakin kamu menikmati kebersamaan dengan Tuhan maka semakin kamu akan dapat mengalami dan mengerti kasih-Nya. Dirimu pun dibangkitkan. Kamu menyadari bahwa kamu dikasihi total.

Pengalaman indah itu akhirnya akan mendorongmu untuk melakukan hal yang sama kepada orang-orang sekeliling dirimu, dalam hal ini tentu saja adalah pasanganmu. Kamu tidak lagi akan terfokus kepada kelemahan atau bahkan perbedaan, namun kamu akan terfokus untuk mengalirkan kasih sejati itu kepadanya. Perilakumu perlahan tapi pasti turut berubah.

Berkorban terhadap suami / istrimu adalah sifat alamiah yang ada di dalam dirimu. Kamu tidak akan hitung-hitungan.

Pernikahan yang baik, bahagia dan bertahan selama-lamanya akhirnya bukan lagi angan-angan, melainkan sesuatu yang pasti terjadi. Haleluya!

Sumber : Jawaban.Com