Jumat, 11 September 2020

BERKAT DATANG MENDEKAT

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. (Mazmur 133:1-3)

Dalam menghadiri undangan gathering sebuah perusahaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu, ada hal yang luar biasa terjadi. Ternyata ada doorprize yang disediakan oleh penyelenggara acara tersebut yaitu ada beberapa hadiah yang cukup menarik. Saat undian tiba, secara iseng saya menanyakan kepada istri, hadiah manakah yang diinginkannya. Dengan segera istri menjawab, “Mau hadiah utama, dong!” Kemudian saya bergandengan tangan mengajak istri untuk doa bersepakat menyampaikan keinginannya kepada Tuhan.

Karena hal ini sifatnya hanya memohon dan berharap dengan tanpa menuntut bahwa Tuhan harus mengabulkan doa kami, maka saat undian berlangsung, kami santai dan tidak terlalu menggebu-gebu berharap mendapatkan hadiah utama tersebut. Namun tanpa disangka-sangka ternyata memang benar bahwa kamilah yang mendapatkan hadiah utama tersebut. Dari pengalaman ini kami mengerti lebih dalam arti kata sepakat dan sehati dalam berdoa.

Perjalanan suami-isteri bukanlah sekedar hidup bersama saja, namun diwarnai dengan kesatuan dan kesehatian. Ada banyak di antara kita yang hidup bersama namun hatinya menjauh dan tidak disertai kesehatian. Mazmur 133 merupakan nyanyian ziarah yang syairnya berupa ucapan syukur atas berkat-berkat-Nya karena keluarga hidup dalam damai, rukun dan harmonis, sebuah kualitas hidup impian setiap orang.

Namun saat ini keadaan seperti itu semakin hari semakin langka bahkan cenderung mendapatkan tantangan besar. Damai dan rukun hilang dari lingkungan sosial keluarga, masyarakat, bahkan dilingkungan gereja. Gaya hidup modern yang serba instan membuat kasih manusia semakin memudar, kondisi inilah yang merupakan penyebab utama keadaan tersebut. Tidak ada quality time yang terbangun dalam keluarga, karena masing-masing sibuk dengan gadget nya ketika berkumpul.

Marilah kita kembali kepada kehidupan yang penuh berkat, yaitu kehidupan yang rukun sehati dan sepakat, ada komunikasi bermutu yang terbentuk satu dengan yang lainnya agar berkat-berkat-Nya dicurahkan atas kita. [DS]