Jumat, 14 September 2018

 

TIADA LAGI “TIAN MI MI”…

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26)

Tian Mi Mi, begitu tenar lagu ini pada masa nya. Dan sang diva lawas yang melantunkannya kian berkibar namanya. Di ranah Asia telah amat termasyur licah-sendu nya berdendang. Bahkan benua bule-pun mengenalnya. Ya, dunia menyukainya. Pula dikuasainya bahasa: Mandarin, Hokkian, Jepang, Inggris, Indonesia, Jerman. Banyak negara luluh hati akan dendangnya. Tiap konsernya laris-manis. Cantik, populer, kaya pula tentunya. Namun, kecintaannya pada negara kelahirannya, ia rela bermain politik. Dimata-matainya militer negara lain demi strategi perang negaranya. Negara lawanpun mengetahuinya. Ditugaskannya pria muda bule yang berpura menaruh hati dan mencintainya.  Asmara pun seperti bergulir serius. Hingga, tak dinyana. Liburan kali itu menjadi liburan terakhirnya. Di sebuah kamar hotel negeri Gajah Putih, si kekasih hati melaksanakan juga misi kejamnya. Sebutir peluru disarangkannya ke tubuh sang diva yang tak berhasil dicekiknya. Kini, tiada lagi Tian Mi Mi didendangkan olehnya. Upacara kenegaraan pun mengantarkannya ke pembaringannya yang terakhir.

Aihhhhhhhhhh…Begitulah hidup sang diva favorit saya. Ia telah memiliki apapun yang bisa dunia ini tawarkan dan berikan. Ketenaran, kekayaan, apapun. Namun potongan Firman Tuhan di atas memberitahu kita bahwa apa gunanya seseorang memiliki seluruh isi dunia namun kehilangan nyawanya?!

Apa yang masih bersarang di jiwa kita?? Apa yang masih menjadi sasaran nafsu kita?? Apa yang masih menjadi tujuan utama kita menjalani hidup?? Kasih Kristus dan sederet ketetapan-ketetapannya?? Ataukah berderet kenikmatan hidup semu yang ditawarkan bulatan bumi fana ini?? Sahabatku, Tuhan kita Yesus Kristus telah hampir datang kembali ke dunia ini. Bukankah mengejar karier setinggi mungkin tidaklah dapat memperpanjang usia?? Bukankah mengejar bergunung-gunung harta tidak akan membuat kita benar-benar mengalami sukacita abadi??

Apakah ketika DIA datang nanti, kita didapati bertekun menjalankan kehendak-kehendak-Nya?? Atau dengan tetap mengabaikan DIA, kita masih belum dipuaskan mengejar nikmat semu yang dunia tawarkan?? Keputusan ada pada masing-masing kita. Apa pilihan mu??[AH]