Jumat, 4 Januari 2019

 

MENGEMBALIKAN YANG BUKAN HAK

“Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Lukas 19;8)

Billy Ray Harris, pengemis tunawisma di Negara Bagian Missouri, Amerika Serikat, bagai mendapat durian runtuh ketika orang-orang memberinya sumbangan uang hingga mencapai Rp 830 juta. Kisahnya sontak menjadi sorotan di Negeri Paman Sam itu. Harris diberitakan mengembalikan sebuah cincin berlian kepada Sarah Darling ketika pemilik cincin itu tak sengaja menjatuhkan cincinnya ke dalam mangkuk tempat uang Harris di pinggir jalan ketika akan memberinya uang receh. Sebagai rasa terima kasih, Sarah bersama suaminya kemudian mengumpulkan uang sumbangan untuk Harris setelah menceritakan kisahnya kepada teman-temannya. Pertemuan tak lazim itu mengubah Harris, dari seorang pengemis menjadi seorang jutawan. Harris dibesarkan oleh kakeknya yang seorang pendeta, mengatakan kepada stasiun televisi KCTV, keputusannya mengembalikan cincin itu tidak mengharapkan pamrih. “Yang saya rasakan saat ini,” kata Harris, “apa yang akan terjadi di dunia jika semua orang mengembalikan yang bukan haknya”.

Membaca kisah ini saya teringat dengan Zakheus. Pemungut cukai ini memang bukan orang miskin atau pengemis seperti Harris, sebaliknya ia termasuk orang kaya dan memiliki kuasa karena dekat dengan penguasa. Kekuasaannya kadang dia manfaatkan untuk memeras seseorang, sehingga banyak orang mencibirnya dan memberi cap padanya sebagai orang berdosa. Ketika Yesus melintasi kota Yerikho, ia tidak mampu menerobos kerumunan orang banyak hingga akhirnya bukan hanya dia yang melihat Yesus, tetapi Yesus pun melihat balik padanya, menyapanya, menaruh perhatian serta menerima Zakheus apa adanya.

Pertemuan Zakheus dengan Yesus mengubah sisa hidupnya, hartanya menjadi kurang berarti, ia tidak kuatir lagi dengan masa depannya, tidak merasa malu lagi kepada masyarakat umum; arah hidupnya, tujuan hidupnya kini semua berubah setelah pertemuannya dengan Yesus. Ia mengalami kebaikan Tuhan, yaitu memperoleh karunia keselamatan yang langsung dideklarasikan oleh Sang Juruselamat itu sendiri. [MM]