Jumat, 8 Juni 2018

JAMBON

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.”
(Mazmur 133:1)

Ada hal yang saya tidak pernah lupa dengan istilah JAMBON. Kalimat ini kembali mengusik saya padahal peristiwa ini sudah lama sekali saya alami dalam keluarga kami. Sebutan JAMBON adalah suatu panggilan oleh beberapa banyak orang terhadap anak-anak kami. Kalau bertemu dengan teman, rekan hamba Tuhan mereka selalu berkata, “Dari JAMBON ya?” Istilah JAMBON berarti Jawa-Ambon. Saya sebagai kepala keluarga berasal dari Ambon dan istri saya dari Jawa. Kadang saya berpikir, “Kok bisa ya dipersatukan Tuhan?” Padahal antara Ambon dan Jawa kan banyak perbedaan. Istri saya suka dengan makanan yang manis, saya suka yang pedas dan asam. Suatu perbedaan yang sangat mencolok.

PERBEDAAN ITU INDAH! Dalam keluarga pasti setiap anggota berbeda. Namun, perbedaan itu bukan alasan untuk kita tidak bisa bersatu. Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Sebab desain kesatuan mengandung arti “bersatunya bermacam-macam perbedaan, karakter, sifat, temperamen, kebiasaan, dan lainnya dalam satu kesatuan yang utuh dan harmoni.”

Ayah, ibu, dan anak adalah pribadi yang berbeda dengan karakter, temperamen, sifat, hobi, dan kesukaan yang berbeda-beda. Namun kalau perbedaan itu dapat dipadukan menjadi unity, maka keluarga itu akan kuat, kokoh dan akan berdampak yang luar biasa bagi keluarga yang sedang di ambang perpecahan.

Kesatuan dalam keluarga itu sangat penting. Sebab tanpa kesatuan keluarga akan terpecah-pecah. Tuhan hanya akan mencurahkan berkat-Nya kepada keluarga yang hidup dalam kesatuan. Setiap Kerajaan yang terpecah-pecah pasti tidak akan bertahan lama dan setiap kota atau keluarga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan (Matius 12:25).

Tuhan melihat bahwa KESATUAN itu sangat penting untuk keutuhan sebuah keluarga sehingga Ia memberikan perintah untuk kita tinggal dalam kesatuan. Kesatuan pasti melahirkan Generasi yang hebat dan dahsyat karena di dalamnya ada unsur kasih sayang dan pemberian kasih yang utuh. Mari kita bangun kesatuan dalam keluarga sehingga keluarga kita kuat dan tidak mudah terpecah-pecah. [RB]