Jumat, 8 November 2019

TUGAS ANAK-ANAK ALLAH
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9)
Pada awal tahun 1980-an dunia berada di arena konflik perang nuklir antara AS dan Soviet, sehingga dunia dibayangi
ketakutan dan kecemasan. Suatu hari, Samantha melihat foto Andropov pada sampul sebuah majalah, dia bertanya kepada
ibunya: “Jika orang-orang begitu takut padanya, kenapa tidak ada yang coba menulis surat untuk bertanya apakah dia memang
ingin berperang?” Jawab ibunya: "Kenapa tidak kamu yang menuliskannya?”
Ibunya sudah melupakan percakapan itu namun Samantha serius menanggapi saran ibunya dan beberapa hari
kemudian mengirim surat ke Andropov, yang berisikan pertanyaan: Apakah dia benar-benar ingin memulai perang atau tidak?
Surat itu di akhiri dengan kalimat: “Tuhan menciptakan dunia untuk kita agar dapat hidup bersama dalam damai dan bukan untuk
saling bermusuhan.”
Surat kabar Soviet “Pravda” menerbitkan kutipan dari surat Samantha. Tidak lama kemudian Yuri Andropov mengirim
tanggapan: “Kami menginginkan perdamaian baik untuk kami sendiri dan bahkan untuk semua orang di planet ini, untuk anak-anak
kami dan untuk anda, Samantha," tulisnya. Di akhir tulisannya Androprov mengundang Samantha untuk mengunjungi Soviet agar
dapat melihat sendiri bahwa "semua orang di Uni Soviet hidup dalam suasana yang damai dan bersahabat antara satu sama lain."
Samantha tiba di Soviet bersama orang tuanya pada 7 Juli. Mereka diperlakukan seperti sedang menyambut kunjungan
keluarga kerajaan.. Sangat disayangkan Samantha tidak dapat bertemu langsung dengan Andropov karena pada saat itu
Andropov  sedang sakit parah, yang setahun kemudian meninggal. Pada tahun 1986, Soviet memutuskan untuk mengadakan
kunjungan balasan ke AS dengan mengutus kunjungan Katya Lycheva yang berusia 12 tahun. Katya Lycheva dan bertemu
dengan Presiden Ronald Reagan. Perang dingin pun berakhir.
Sebagai anak-anak Allah, Tuhan menginginkan agar kita dapat menjadi pendamai bagi sesama Diana pun kita berada,
seperti yang dilakukan Yesus yang mendamaikan kita dengan Bapa. Kisah dua anak di atas tentunya dapat menginspirasi kita
bagaimana dapat menjadi pendamai bagi sesama. [PH]