Jumat, 9 Agustus 2019

METAMORFOSA

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Banyak orang senang melihat keindahan kupu-kupu, apalagi ketika dipadu dengan bunga yang cantik, sehingga tidak sedikit fotografer yang menjadikan mereka sebagai objek favorit dari kegiatan fotografinya. Namun, berapa banyak orang yang menyukai ulat? Sangat sedikit. Bahkan, banyak di antara kita yang merasa jijik ketika melihat seekor ulat.

Perubahan dari seekor ulat menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, kita kenal sebagai proses metamorfosa, yaitu perubahan bentuk dan struktur yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Sehingga tidak lagi terlihat sifat-sifat ulat yang menjijikkan, pada seekor kupu-kupu. Bahkan, untuk anak-anak kecil yang tidak mengetahui proses metamorfosa, mereka tidak pernah menyangka bahwa kupu-kupu yang cantik ini berasal dari seekor ulat yang menjijikkan.

Ketika Rasul Paulus menuliskan kalimat pada ayat di atas, dia menggunakan kata “metamorphoo” untuk kata yang diterjemahkan sebagai “berubahlah”. Artinya rasul Paulus meminta kepada pembaca suratnya, yaitu orang-orang percaya di kota Roma, supaya mereka berubah sedemikian sehingga tidak lagi “serupa dengan dunia”. Tidak lagi memiliki sifat-sifat yang menjijikkan seperti yang dipunyai oleh orang-orang “dunia”.

Nasihat rasul Paulus tersebut juga berlaku bagi kita. Sebagai orang yang sudah diselamatkan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, kita pun diminta untuk berubah, dalam arti ber-metamorfosa, yaitu dengan menanggalkan sifat-sifat manusia lama, dan mengenakan manusia baru (Ef 4:22 – 24). Yang tadinya memiliki sifat-sifat seperti ‘ulat’ yang menjijikkan, menjadi seperti ‘kupu-kupu’ yang disenangi oleh setiap orang yang ada di sekitar kita.

Tentu perubahan ini membutuhkan proses. Tidak terjadi sekaligus. Dan kadang membutuhkan waktu yang panjang. Yang terpenting, sebagai orang percaya, kita perlu menjalani proses “metamorfosa” sehingga menjadi semakin serupa dengan Kristus. [WK]