Kamis, 14 Juni 2018

PELAYANAN, KELUARGA ATAU YESUS?

“Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya dan saudaranya… akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga..”
(Lukas 18:29-30)

Fenomena anak Pendeta yang nakal telah menjadi rahasia umum. Tidak ada jaminan bahwa setelah seseorang menyerahkan hidupnya menjadi hamba Tuhan penuh waktu, lalu semua urusan (termasuk keluarganya) beres secara otomatis. Istri jadi kebal godaan dan anak-anak terlindung dari kenakalan seperti seks bebas dan narkoba. Tentu semuanya adalah ilusi semu. Keharmonisan rumah tangga tetaplah merupakan sesuatu yang harus diupayakan oleh semua anggotanya.

Beberapa waktu lalu, viral di media sosial tentang anak seorang hamba Tuhan (meskipun lantas dikeluarkan Surat Pernyataan penolakan) yang mengunggah videonya. Ia nyerocos soal undangan pernikahan putri Presiden yang menurutnya diperjualbelikan dengan harga tertentu. Lalu ia menantang untuk membuktikannya di hadapan pihak berwajib. Belakangan ia menyerahkan diri kepada kepolisian dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian. Ketika polisi menggeledah rumahnya, ternyata ditemukan juga bong, alat penghisap sabu. Alih-alih menjadi pertunjukan heroik, video itu malah mengungkapkan sisi buruk dan kebobrokannya sendiri.

Mungkin kita mulai berpikir: mengapa bisa? Bukankah dia hidup di lingkungan yang serba rohani? Bukankah orang tuanya melayani Tuhan? Bukankah ia sendiri juga bergelar M.Th dan mustinya melayani? Sekali lagi, tidak ada jaminan! Yang diminta Tuhan bukanlah kita mati-matian untuk pelayanan tetapi melupakan Dia. Yang Tuhan inginkan bukan menomorsatukan keluarga untuk mengesampingkan Dia.

Yang Tuhan janjikan adalah bahwa jika kita ‘meninggalkan’ semuanya bagi Tuhan, Dia akan mengembalikannya bagi kita. ‘Meninggalkan’ berarti tidak menaruhnya pada prioritas tertinggi menggeser Tuhan. Tidak menjadikannya nomor satu dalam hidup karena itu posisinya Tuhan. Seseorang yang menomorsatukan Yesus, diberi kemampuan dan hikmat untuk mengurus pelayanan dan keluarganya. Sehingga tidak seharusnya pelayanan dan keluarga jadi ‘tuhan’ dalam hidupnya. [JP]