Kamis, 15 Agustus 2019

TERGERAK ATAU TERPAKSA

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya” (Amsal 6:6-7)

Sejak kecil saya memiliki kebiasaan buruk. Banyak orang mengenali saya sebagai seorang pemalas. Namun di sisi lain saya dapat mengerjakan banyak hal dengan lebih baik dan lebih cepat dibandingkan orang-orang di sekitar saya. Jadi saya berkesimpulan bahwa saya bukanlah seorang pemalas yang tidak berguna seperti yang banyak dikatakan dalam Firman Tuhan. Namun predikat pemalas tidak membuat saya menjadi seorang saksi yang efektif bukan?

Setelah cukup lama menyandang gelar tersebut dan berusaha untuk mengubahnya akhirnya saya menemukan akar permasalahan yang sesungguhnya. Ternyata sejak usia dini, saya dididik dalam lingkungan keluarga baik-baik yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan kedisiplinan. Dalam prakteknya semua hal baik ditanamkan dengan cara pendisiplinan. Saya harus melakukan ini dan itu. Saya dilarang ini dan itu. Demikian juga saat kita menempuh pendidikan di sekolah, guru-guru akan menunjukkan apa saja yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Akhirnya saya menyadari mengapa saya menjadi seorang pemalas. Masalahnya adalah saya merasa semua hal yang harus saya kerjakan tersebut adalah keinginan atau perintah dari orang lain. Mengapa saya harus merasa tergerak, bersemangat dan rajin untuk mengerjakan segala sesuatu bagi orang lain semata?

Tuhan telah memberikan kepada setiap kita kehendak bebas dan tanggung jawab yang menyertainya. Yang saya perlukan adalah memiliki tujuan yang jelas dan pribadi dalam melakukan semua hal yang perlu saya lakukan. Sekarang, saat saya memiliki tujuan yang jelas, saya dapat mengerjakannya dengan rajin dan sepenuh hati.

Dan saya kira hal ini juga perlu ditanamkan kepada generasi berikutnya agar mereka tidak perlu mengalami pergumulan yang sama, melainkan menjadi orang-orang yang efektif dan produktif bahkan menjadi kesaksian positif bagi sesamanya. [WT]