Kamis, 26 Maret 2015

BELAIAN DEDALU SENJA…

“Demikianlah aku dapati hokum ini: Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” (Roma 7 : 21)

Dengan bertudungkan dedaunan pohon Dedalu selepas senja, seorang biarawan muda berusaha keras menitikkan fokus demi pencapaian pencerahan. Diterpa sapuan sepoi yang menyibak ranting rapuh Dedalu si pohon Willow, membuat meditasi kian khusyuk. Khusyuk dalam larutan kantuk.

Semenjak memantapkan hati membuang diri ke kuil ini demi tingkatan hidup yang lebih bijak bin bajik, tak mampu jua dirinya mencapai apa yang disebut ‘pencerahan’ itu. Kian hari, bukan lagi ketenangan yang bertahta di hati dan benaknya. Melainkan pergulatan, pergulatan melawan egonya sendiri. Ego untuk mencapai berbagai kelebihan jiwani. Hingga tak tertahankan lagi kekesalannya dalam kebuntuan meditasi.

Dihampirinya sang guru yang dianggapnya dapat menjadi pembuka kunci kegundahan hatinya. Singkat namun tajam menohok perutnya, beginilah jawab sang guru, “Nafsumu untuk mencapai tingkatan lebih tinggi dalam kehidupan jiwamu, itulah tembok tinggi yang tak mampu kau dobrak! Semua tingkatan dalam hidup adalah sama mulianya, asalkan dirimu menjalaninya dengan benar!”

Kita tidak mungkin mencapai kapasitas kerohanian yang lebih tinggi jika masih ada ‘apa yang jahat’ dalam diri kita. Rasul Pauluspun mengakui hal itu. Juga, termasuk perihal pengembangan karunia dalam mengiring Kristus. Tidak perlu merinci dosa–dosa besar dalam diri kita yang pasti akan mencuat. Keinginan untuk mengembangkan karunia semata demi mencari kemuliaan diri, inipun sudah merupakan dosa besar tersendiri yang sepatutnya disingkirkan. Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku (2 Kor 11:30).

Sekarang, kalau kita masih stagnan dalam kerohanian dan tidak ada pertambahan karunia, mungkin karena masih tersimpan ‘apa yang jahat’ dalam kita. Atau sekadar keinginan untuk lebih tinggi demi bermegah dan congkak. [AH]

Tuhan yang Maha Tahu, ampunilah aku jikalau di dalam diriku masih terdapat keinginan untuk mencuri kemuliaanMu dan bermegah. Bantulah juga aku untuk membersihkan ‘apa yang jahat’ yang masih terselip dalam dirku. Sehingga aku didapati layak untuk menjadi muridMu. Layak karena perkenananMu-lah yang kudapat, bukan perkenan dunia. Amin.