Kamis, 30 Juli 2020

Pandemi Corona

“…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 2:10b)

Pandemi Corona di awal tahun 2020 membuat kehidupan berubah drastis. Penyebaran virus Covid-19 yang sangat cepat memaksa kegiatan ekonomi berhenti dalam jangka waktu yang cukup lama. Para pengusaha merasakan pukulan yang sangat berat. Order rutin yang biasanya masuk setiap bulan, sekarang tiba-tiba menghilang. Produksi berhenti dan pendapatan berkurang secara signifikan. Pengusaha menghadapi situasi yang dilematis. Dia harus menyelamatkan usahanya dengan cara menekan pengeluaran semaksimal mungkin, dan itu berarti harus memberhentikan karyawannya.

Dalam waktu kurang dari 3 bulan sejak diumumkan adanya kasus Covid-19 di Indonesia, sekitar 2 juta orang kehilangan pekerjaan. Ada yang dirumahkan sementara, tetapi ada juga yang kehilangan pekerjaan secara permanen karena perusahaan tempatnya bekerja dinyatakan bangkrut. Mereka harus kehilangan pendapatan secara tiba-tiba, sementara pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga tidak bisa dihentikan. Pukulan paling telak dialami oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, tetapi secara umum semua orang mengalami tekanan yang berat akibat pandemi Corona ini.

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi keadaan seperti ini? Pada umumnya manusia cenderung menyalahkan pihak lain atas masalah yang terjadi dalam kehidupannya. Sebagian orang menyalahkan bos perusahaan yang memberhentikannya, sebagian yang lain menyalahkan pemerintah yang dianggap lambat atau salah mengambil keputusan, bahkan ada yang menyalahkan Tuhan.

Bila kita berkaca pada musibah yang dialami oleh Ayub, di mana dalam satu hari dia kehilangan seluruh harta bendanya ditambah lagi dengan kehilangan seluruh anak-anaknya, maka sebenarnya apa yang dialami oleh kita semua di masa pandemi ini, belum ada apa-apanya. Respon Ayub ketika mendengar semua musibah yang menimpanya adalah memuji TUHAN!

Apa yang kita alami di masa pandemi ini terasa sangat berat. Baiklah kita belajar untuk beradaptasi dengan situasi yang baru, sambil berharap dan percaya bahwa TUHAN akan senantiasa memelihara dan mencukupkan. [WK]