Kamis, 4 Oktober 2018

 

INJIL KERAJAAN VS INJIL KENIKMATAN

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17)

James Ramsay 1733-1789 adalah sahabat budak, ia seorang dokter bedah dari Skotlandia. Di pikir-pikir, seorang dokter bedah hanya cukup menjalankan tugasnya sebagai dokter bedah, mengobati pasien, hidupnya pasti makmur, tenang dan damai. Tetapi suatu ketika, sang dokter justru memilih menjadi sahabat para budak di India barat, ia ingin memanusiakan budak dan bahkan peduli pada jiwa dan roh mereka. Ia dikritik atas tindakannya karena “dirasa” lebih peduli pada budak-budak, sudah peduli pada budak, ia justru dikecewakan oleh budak-budak yang tidak berterima kasih setelah di beri pekerjaan yang jauh lebih ringan daripada budak-budak lain, sampai akhirnya sang dokter kelelahan memikirkan cara pembebasan budak-budak dan semua hak mereka. Sang dokter pun meninggal di usia yang 56.

Belajar dari pengalaman sang dokter bedah ini, ia tidak memusingkan tentang hidupnya, ia tidak kuatir tentang hidupnya, ia tidak memikirkan keuntungan besar dari profesinya. Tetapi justru mendengarkan dengan kuat panggilan Allah bagi para budak, bahkan ia membuka rumahnya untuk mempekerjakan budak yang pada akhirnya mengecewakannya. Mengapa orang hari-hari ini menjadi kuatir? Karena sebagian besar di antara mereka berfokus pada masalah makan dan minum. Kita tidak perlu mengkuatirkan akan persoalan makan dan minum, sebab Bapa di sorga pasti memelihara hidup kita. Memang, harga kebutuhan sehari-hari semakin melambung tinggi. Tetapi janji firman Tuhan bahwa berkat Bapa juga akan dicurahkan dengan berlimpah, sesuai kebutuhan kita.

Fokusnya adalah pada diri Allah sendiri. Allah lah yang menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Uang, makanan dan minuman, pakaian, dan lainnya itu menjadi nomor ketiga dan seterusnya. Nomor satu adalah Allah. Kedua adalah hidup kita. Setelah kematian ada kehidupan yang kekal yang harus kita jalani. Tentunya semua orang mengharapkan untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, tempat di mana Allah tinggal dan bertahta. Arahkan pandangan kita pada kekekalan dan jangan mundur, meski harus melewati tantangan, rintangan, aniaya, dan duka cita dalam menjalani kehidupan menurut kehendak Allah. [WH]