Kekal vs Fana, Pilihanmu Ini Akan Tentukan Kemana Kamu Setelah Mati!

170925153043

Yakobus 4:14

sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

Kamu dan saya melihat segala sesuatu dalam hidup melalui perspektif, biasanya lewat perspektif kita sendiri. Dari perspektif manusia, kita adalah makhluk fisik di dalam tubuh yang fisik, dan kita hidup di dunia fisik dengan tuntutan, kenyamanan, dan keinginan fisik.

Akan tetapi kita tahu kita juga punya jiwa- atau kita tidak akan membaca renungan ini. Untuk itu, kita berkomitmen kepada Kristus, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan berdoa dengan harapan bahwa ketika kehidupan duniawi berakhir, jiwa kita masuk surga.

Namun Tuhan sepertinya tidak memandang sebagaimana kita memandang. Dia melihat kita secara berbeda.

Sepanjang kitab Keluaran, Bilangan, dan Ulangan, kita mendapatkan indikasi yang jelas dan berulang-ulang bahwa kesetiaan kepada Yahweh adalah prioritas yang jauh lebih tinggi daripada kehidupan manusia itu sendiri. Dalam Ulangan 13, Tuhan bahkan lebih memilih mematikan orang daripada orang tersebut berpaling dari-Nya. Di ujung lain di Alkitab, dan bergema di antara keduanya, Yakobus 4:14 menyatakan, “sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Meskipun Tuhan memberkati kehidupan duniawi kita, kehidupan duniawi yang sama ini adalah sekunder bagi-Nya. Fokus utama-Nya adalah masalah kekekalan dan keadaan spiritual kita.

Kita sudah sepatutnya melakukan dengan baik untuk berpikir dengan istilah yang sama. Pendeta terkadang merangsang orang dengan bertanya, “Apakah kamu makhluk fisik di dalam perjalanan spiritual? Atau apakah kamu makhluk spiritual di dalam perjalanan fisik?”

Banyak orang bahkan tidak memikirkan hal tersebut di dalam mengejar tuntutan fisik, prestasi, dan kenyamanan. Beberapa orang memang mencari hal-hal rohani, namun tujuan utama nampaknya: Siapa pun yang mendapatkan mainan yang paling banyak, itulah yang menang.

Pengkhotbah 3:11 mengatakan bahwa Allah “juga memberikan kekekalan di dalam hati mereka; Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Kita memiliki keabadian di dalam hati kita karena kita adalah makhluk abadi yang mendiami tubuh fisik yang sementara. Tetapi fisik bisa menghalangi pandangan kita tentang kekekalan sampai-sampai kita tidak bisa “memahaminya”.

Semakin kita memahami perspektif Tuhan – perspektif Alkitab – tentang banyak hal, semakin kita melihat bahwa kehidupan fisik kita bersifat sementara dan sekunder bagi kehidupan rohani kita, yang abadi. Kita adalah makhluk spiritual abadi dalam perjalanan fisik yang singkat.

Bila kita memahami sepenuhnya akan hal ini maka itu akan mengubah perspektif kita tentang kehidupan dan, semoga, bagaimana kita menjalaninya.

160407103348

(Ilustrasi / sumber: dominindo.wordpress.com)

C.S. Lewis mengambil satu langkah lebih jauh dan mengatakannya dengan lebih terang: “Kamu tidak memiliki jiwa. Kamu adalah jiwa. Kamu memiliki tubuh.” Pendapat ini sungguh menyentak, walaupun awalnya mungkin kedengarannya aneh bagi kita.

Saya tidak punya jiwa? Ya ampun.

Saya adalah jiwa. Itulah sifat kekal saya, identitas inti saya.

Saya punya tubuh. Ini bersifat eksternal, sementara, sama seperti dunia tempat saya tinggal.

Tubuh saya semakin tua dan akan mati. Jiwa saya semakin muda, saat saya bertumbuh di dalam iman, dan akan hidup selamanya. Jika sudah mengetahui hal ini, bagaimana mungkin kamu dan saya akan bisa memikirkan lebih banyak tentang tubuh daripada jiwa kita?

Tanamkan selalu dalam diri: Saya-adalah-jiwa. Saya-memiliki-tubuh.

Saya adalah makhluk abadi di dalam tubuh jangka pendek. Saya tidak pernah bisa menjadi orang yang “normal” lagi. Apakah kamu bisa?

Hak Cipta © 2017 Peter Lundell. Digunakan dengan izin.

Hal Terbaik dan Terpenting di Dalam Hidup Ini adalah yang Sifatnya Rohani, Bukan yang Duniawi.
Sumber : cbn.com