Kematian Suamiku Mengajarkanku Tentang Makna Paskah Sesungguhnya

160323162718

24 September 2010 adalah musim gugur yang indah. Cuaca begitu sempurna. Putri kecilku baru berusia 3 bulan, dan dia adalah bayi paling bahagia yang pernah Anda lihat. Putra kecilnya yang sudah berusia 2 tahun tentu saja menyanyanginya, dan suamiku David dan aku mulai merencanakan liburan akhir pekan keluarga.

Segalanya mulai berubah….

Aku tahu ada yang tidak beres ketika aku pulang memenuhi janji dengan dokter anak di suatu sore. Suamiku tidak sedang di rumah, seperti biasanya. Dia tidak kelihatan. Aku menghubungi ponselnya tetapi hanya ada pesan suara. Tidak ada yang mendengar deringan itu saat itu. Aku mulai merasa marah mencari-cari dia disepanjang kota, dan ketika aku pulang sebuah mobil polisi sedang parkir di samping rumah.

Mimpi buruk terjadi….

“Nyonya, suami Anda meninggal dunia.” Kata-kata itu bordering di kepalaku seperti lonceng gereja Gothic raksasa, menenggelamkan semua suara yang ada. Aku berusaha mendengarkan. Mereka menjelaskan bahwa suamiku mengalami insiden tabrakan dan tewas seketika. Tidak akan kata-kata terakhir, tidak ada pelukan dan ciuman selamat tinggal. Dia…sudah pergi…selamanya…

Pikiranku mulai berpacu mencerna semuanya. Aku merasa seperti mengalami mimpi buruk yang mengerikan dan sedang dalam keadaan tidur. Aku mencoba menemukan secercah harapan: Dia mungkin hanya pura-pura mati. Mungkin mereka keliru. Aku menuntut bukti.

Aku mencintai pria ini dengan segenap hatiku, bagaimana mungkin dia mati? Yang artinya semua sudah berakhir? Kebahagiaan abadi, tawa dan leluconnya. Dia adalah satu-satunya yang aku percaya tentang segala hal, ayah dari anak-anakku, teman terbaikku. Dia tidak mungkin mati!

Namun tragedi kematian mengerikan itu abadi. Dan tak peduli berapa banyak cara yang Anda lakukan untuk memperbaiki masalah, tak akan ada jalan keluar.

Itu adalah hari duka yang begitu nyata bagiku. Bukan hanya bagi orang tua atau penjahat atau orang-orang yang hidup menderita akibat penyakit. Tidak untuk mendiskriminasi, dan tak peduli seberapa baik Anda, atau menyembuhkan orang lain, tak peduli seberapa salah Anda, kematian akan mendatangi kita semua, dan tak ada cara untuk menghentikannya.

Pergolakan batin yang serius dimulai…

Beberapa bulan kemudian ketika musim dingin semakin menusuk, mengisolasi kegelapan, rumah tampak serasa mati saat anak-anak sudah tertidur. Aku hanya bisa menangis dan memohon bantuan Tuhan atas rasa putus asaku. Aku punya banyak orang-orang terdekat yang bisa membantuku, tetapi di dalam diriku terjadi pertempuran rohani yang serius antara “gelap” dan “terang”.

Aku mengalami seperti pengalaman Yesus di padang gurun, kelaparan dan terasing dari tempat dimana semua orang yang mencintaiku berada, khususnya suamiku terkasih. Iblis menyerangku dengan segala macam keraguan tentang kasih dan kedaulatan Tuhan.

“Jika Tuhan benar-benar mencintaimu, kenapa Dia membiarkan hal ini terjadi?”

“Jika Tuhan benar-benar mengambil kendali, kenapa Dia tidak menghentikan kecelakaan itu?”

“Benarkah ini semua dilakukan Tuhan?”

“Apa yang harus kamu lakukan untuk menghentikan kutuk ini?”

Kitab Yohanes menjadi susu dan rotiku. Aku memegang setiap kata-kata Yesus. Lagu pujian ‘Rescue’ begitu terang menjelaskan hal itu. “I need You, Jesus, to come to my rescue; where else can I go?” Dengan segala kekuatan si iblis mencoba memisahkan aku dari kasih Allah, tidak ada tempat lain untuk pergi. Tidak ada yang bisa menawarkan harapan kecuali Yesus.

Aku disadarkan tentang kisah Yesus dan Lazarus…

Dari semua sejarah manusia, Yesus mengerti kesedihanku, sama seperti apa yang Dia ucapkan dalam Yohanes 11 saat Lazarus mati. Semua orang saat itu mungkin berharap sepenuhnya kepada Yesus untuk segera menyembuhkan Lazarus kembali, tetapi Yesus melakukan tidak dengan cara itu.

Ketika Yesus akhirnya datang, Lazarus sudah mati selama empat hari lamanya. Kedua saudara Lazarus berkata, “Tuhan, jika engkau datang, saudara kami pasti tidak akan mati.”

Aku sudah mengucapkan kata-kata yang sama berkali-kali setelah David meninggal! Rasanya seperti mendengar suara saya sendiri. Mereka tahu Yesus bisa menyembuhkan saudara mereka jika Dia mau, tetapi nyatanya Lazarus sudah mati. Tetapi Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”

Yesus tidak hanya mengatakan bahwa Dia memiliki kuasa atas kematian, tetapi Dia adalah pusat kehidupan!

Kehidupan berawal dari kematian….

Aku berhasil melewati musim dingin yang begitu melelahkan. Setelah itu suasana paskah pun tiba. Di awal tahu itu, aku melihat semua kemuliaan Tuhan memenuhi kehidupan ku untuk pertama kalinya. Kebangkitan tampak di mana-mana seperti mekarnya cabang-cabang pohon yang gundul. Tunas-tunas yang baru seperti menggambarkan perjanjian, kicauan burung seperti sinar matahari.

Itulah kebangkitan, dan aku bisa melihat kehidupan lahir dari kematian, sama seperti Allah yang telah berjanji melalui anak-Nya, Yesus Kristus. Lazarus bangkit, Yesus pun bangkit. David dan semua kenangan kami memberitakan nama Kristus untuk selamanya!

Sesuatu terjadi kepadaku di pagi paskah yang cerah setelah kematian David. Kesedihan itu memang tidak lenyap, tetapi keputusasaan itu telah lenyap. Surga terbuka atasku dan segala sesuatunya terjadi sesuai dengan kehendak Ilahi. Aku menyadari paskah bukan hanya sekadar berbicara tentang batu kubur yang terguling, tetapi jauh daripada itu bahwa Yesus sudah bangkit dan telah membangkitkan kita juga dari kematian.

Aku percaya alasan dibalik segala persoalan dalam hidupku dan keluargaku. Aku tahu mengapa Yesus tidak menghentikan kecelakaan yang telah merenggut nyawa suamiku David. Tetapi melalui itu Tuhan ingin membawa kemuliaan-Nya, sehingga Anak dipermuliakan. Cerita ini tidak berakhir dengan kematian, tetapi berakhir dengan kebangkitan kembali.

Kisah ini ditulis oleh Sabrina Beasley McDonald, diterjemahkan dari Familylife.com dan diedit seperlunya.
Sumber : Familylife.com/jawaban.com/ls