Lebih Dari Berlian, Itulah Nilai Kamu dan Saya yang Sesungguhnya

130526235836

1 Korintus 6:20 “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Tidak sampai satu menit perasaan kecewa menimpa saya ketika saya mungkin tidak bisa melihat kembali cincin pernikahan saya. Dengan panik, saya kembali mengingat ketika mengemudikan mobil ke sebuah supermarket pagi itu, dimana saya berhenti sejenak dan melepaskan cincin saya ketika menggunakan body lotion. Apakah saya lupa untuk mengenakannya kembali? Atau saya menaruhnya di sekitar paha saya kemudian terjatuh di tempat parkir? Jangan sampai, umpat saya.

Saya terus mencari kemana perginya cincin tersebut, sampai akhirnya saya menyadari bahwa sudah 7 jam sejak saya menyadari kehilangan cincin tersebut. Saya mengecek dompet, setir mobil. Hampir depresi, saya berdoa memohon kepada Tuhan agar bisa segera menemukan cincin saya.

Harganya memang tidak mahal, namun saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya setelahnya karena telah menghilangkan benda yang sangat penting buat saya tersebut.

Akhirnya saya keluar dari mobil, merangkak mencari di bawah mobil-mobil yang terparkir dekat dengan mobil saya. Saya sudah tidak lagi memperdulikan apakah telapak tangan dan lutut saya akan lecet-lecet setelahnya.

Namun tidak lama kemudian, saya melihat ada sebuah benda berkilauan. Iya, itu adalah cincin pernikahan yang saya dan suami beli pada ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh. Cincin yang membuat saya banyak menerima pujian setiap kali saya mengenakannya. Cincin yang saya pikir tidak akan lagi terpasang pada jari saya.

Perasaan lega yang tidak lagi bisa dijelaskan oleh kata-kata. Saya pun kembali ke rumah dengan berlinang air mata bahagia karena telah menemukan kembali cincin tersebut. Saya berjanji kepada Tuhan dan diri saya sendiri bahwa saya tidak akan lagi seceroboh ini. Namun, terlepas dari perasaan lega saya, saya tidak habis pikir mengapa cincin tersebut bisa hilang tanpa saya sadari sama sekali.

Bertahun-tahun kemudian, saya merasa seperti cincin pernikahan saya. Bukan cincin yang terpajang di etalase toko perhiasan, dimana ada lampu yang menyoroti atau dipercantik dengan hiasan kain bludru dan siap untuk dibeli oleh orang lain. Namun cincin pernikahan telah lama dilupakan, hilang, yang telah dipenuhi oleh debu.

Kemudian tanpa ada alasan yang pasti, suatu waktu saya merasa bahwa saya menerima kasih, merasa bernilai dan menjadi seseorang yang penting. Saya merasa hidup. Saya ingin terus mengingat dan menghidupkan perasaan yang saya alami pada hari itu setiap harinya dalam hidup saya.

Namun pada jam-jam berikutnya, Tuhan mengingatkan saya bahwa bukanlah pujian atau lampu yang menyoroti saya yang menjadikan saya berharga. Namun saya berharga karena saya menjadi diri saya sendiri. Saya memiliki nilai yang sama baik ketika berada di dalam kegelapan atau di tengah sorotan lampu. Saya memiliki nilai yang sama baik disadari atau tidak disadari oleh orang lain.

Saya memiliki nilai yang sama baik pada saat saya diingat atau dilupakan. Sebuah cincin pernikahan akan tetap menjadi sebuah cincin pernikahan walaupun berada di bawah mobil yang sedang terparkir atau di display di sebuah etalase toko perhiasan.

Bisakah kita menghubungkannya? Iblis bahkan mendatangi Yesus pada suatu kesempatan dan bertanya mengenai nilai seorang Yesus dengan berkata “”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”” (Matius 4:3) Namun dengan gigih dan mengakar dalam kasih Bapa -Nya, Yesus membalas tanpa ragu “Ada tertulis..”

Musuh yang sama ini masih kerap ada di sekitar kita. Mencobai kita dengan bertanya seberapa bernilainya kah kita. Namun, satu yang perlu diingat adalah bahwa nilai yang ada pada kita tidak akan pernah berkurang. Karena kita telah dibeli dengan kasih yang tak ternilai, oleh darah Kristus yang sangat berharga. Tentu saja hal ini menjelaskan bahwa kita adalah pribadi yang sangat berharga (1 Korintus 6:20, 1 Petrus 1:18-19)

Jangan pernah biarkan perkataan orang lain dan iblis menggoyahkan kepercayaan diri kita terhadap keyakinan kepada Tuhan. Ketika kita sudah berada di dalam Dia, di dalam kebenaran, maka kita akan menemukan bahwa nilai yang ada pada kita tidak didasari oleh satupun perkataan dari mereka tersebut.

Hak Cipta © 2017 Jane Samuel. Digunakan dengan izin

Sumber : cbn.com