Mengatasi Keuangan yang Bocor

MENGATASI KEUANGAN YANG BOCOR

A.     AWAS DOMPET BOCOR

Banyak orang mengalami kondisi keuangan yang bocor (Hagai 1:6).  Itu berarti lebih besar pengeluaran daripada pendapatan.   Kebocoran bisa disebabkan oleh:

1.      Bunga hutang

2.      Piutang tidak tertagih

3.      Biaya tetap yang tinggi

4.      Salah investasi (tertipu)

5.      Biaya tidak terduga (sakit, peralatan rusak, dll)

6.      Mengorbankan harta yang sesungguhnya demi uang -> mundur rohani, kesehatan yang diabaikan, keluarga yang diabaikan,  hubungan dengan sesama rusak.

Penyebab kebocoran keuangan:

1.  Tidak membayar persepuluhan (Mal. 3:8-12).

2.  Mengabaikan rumah Tuhan (Hagai 1:2-4, 9).

3.  Tidak bijaksana mengatur keuangan.

4.  Ingin cepat kaya/serakah hingga salah langkah.

5.  Keluarga yang tidak rukun (I Pet.  3:7, Mzm. 133).

Solusi untuk mengatasi kebocoran keuangan:

1.      Bertumbuh dalam kebenaran:  Bayar persepuluhan, utamakan Tuhan, jangan serakah.

2.      Mengembangkan keahlian: pengelolaan uang, menghindari jerat hutang, investasi yang bijak.

3.      Miliki keperdulian: terlibat dalam membangun rumah Tuhan/melayani, hidup berbagi dengan orang lain.

B.  MENGALAMI KEBEBASAN KEUANGAN

Tuhan ingin kita mengalami kebebasan keuangan (financial breakthrough). Kebebasan keuangan duniawi = punya uang yang cukup untuk membeli dan menikmati apa yang ia inginkan, namun kebebasan keuangan ilahi (sejati) = bebas dari kekuatiran, ketamakan, tidak bersyukur, iri dan perhambaan uang. Bagaimana caranya?

1.      MENGHINDARI HUTANG

Masyarakat yang dulu suka membayar tunai kini telah menjadi masyarakat kredit. Tapi hutang itu berbahaya, karena berhutang selalu jauh lebih mudah dari pada lepas dari pada hutang. Menurut survey: 50% perceraian disebabkan oleh tekanan keuangan dalam rumah tangga. Rupanya bagi banyak keluarga, sumpah pernikahan bukan lagi berbunyi, ”Sampai maut memisahkan kita” melainkan ”sampai hutang memisahkan kita”.

Bagaimana pandangan Alkitab tentang hutang?

1.      Hutang tidak dianjurkan. Rom. 13:8.

2.      Hutang (pinjaman) disamakan dengan perbudakan.  Ams. 22:7.

3.      Dalam PL: hutang merupakan kutukan ketidaktaatan, dan bebas dari hutang adalah berkat ketaatan. Ul. 28:15, 43-44; 1-2, 12).

4.      Dengan meminjam uang kita terlalu berani berasumsi tentang masa depan. Yak. 4:13-15, Mzm. 37:21.

5.      Dengan berhutang seringkali kita menutup kesempatan bagi Allah untuk bekerja dan menyatakan mukjizat-Nya (Yes. 55:8).

6.      Bila sampai ada hutang, bayarlah kembali apa yang telah dipinjam. Mzm. 37:21.

Kadang hutang kita lakukan untuk menjalankan bisnis, membayar cicilan rumah, atau membiayai pendidikan demi suatu profesi.  Jika itu harus dilakukan: Pastikan Anda tidak menjadi terbiasa untuk berhutang. Hutang itu harus benar-benar merupakan suatu perkecualian.

7.      Lunasi hutang segera mungkin. Ams. 3:27-28.

8.      Jangan ikut menjamin hutang. Ams. 17:18.

Bagaimana mengatasi jerat hutang?

1.      Tetapkan anggaran secara tertulis dan jadwalkan pembayaran hutang setiap bulan. Untuk itu: Jangan membelanjakan uang melebihi penghasilan Anda, bayarlah bunga dari hutang Anda, kemudian bayarlah kembali hutang Anda.

2.      Buatlah daftar inventaris dari semua harta benda (aset) Anda.

3.      Buatlah daftar dari semua utang Anda.

4.      Carilah penghasilan tambahan atau kurangi pengeluaran.

5.      Jangan menambah dengan hutang baru. Sistem kartu kredit mendorong adanya hutang. Belajarlah menggunakan kartu kredit dengan bijaksana. Gunakan bila Anda merasa pasti bahwa Anda dapat membayar seluruh tagihannya bila waktunya.

6.      Puaslah dengan apa yang Anda miliki.  Semakin banyak uang yang kita keluarkan jika semakin banyak kita: berbelanja, menonton televisi, melihat-lihat katalog, membaca iklan di majalah dan koran.

7.      Belajarlah berhemat. Hindari gaya hidup konsumtif, mis: beli mobil. Hindari pula hidup tanpa budget. Dari pada belanja yang tidak dibutuhkan lebih baik menabung atau berinvestasi, yaitu sesuatu di mana Anda menaruh uang Anda sehingga nilai uang itu akan bertambah atau memiliki pengembalian ekonomis. Membeli tanah atau rumah nilai investasinya selalu lebih baik dari pada membeli mobil, mebel atau pakaian.

2.      MEMBERI

Kunci kelimpahan berkat adalah dengan jalan memberi. Ams. 11:24-25. Belajarlah menabur bahkan di masa krisis, maka Tuhan akan mencurahkan berkat berkelimpahan.  Contoh: Ishak (Kej. 26:1, 12-13).

Memberi adalah wujud pengakuan kita bahwa Allah adalah pemilik harta kita. Untuk itu kita harus:

1.      Memberi dengan sikap hati yang benar, yaitu karena kasih dan dengan sukacita. I Kor. 13:3,  2 Kor. 9:7.

2.      Memberi terlebih dahulu kepada Tuhan. Ams. 3:9

Jumlah minimal yang harus diberikan adalah 10% yang adalah milik Tuhan, selebihnya merupakan persembahan sesuai dengan kerelaan kasih kita. Mal. 3:8-10, Mark. 12:42-44.

3.      Kepada siapa kita memberi?

a.      Gereja (10%), para pelayan Kristiani dan lembaga pekabaran Injil.  Im. 18:21, I Tim 5:17, I Kor   :14, Gal. 6:6.

b.      Orang miskin. Mat. 25:34-45, Ams. 14:31.

4.      Berkat-berkat yang diterima apabila memberi:

a.      Dengan memberi, hati akan semakin terpaut kepada Yesus. Mat. 6:21.

b.      Dengan memberi, karakter ilahi akan makin terbentuk, menjadikan kita lebih serupa dengan Kristus.

c.       Dengan memberi, kita menabung harta di surga. Mat. 6:20.

d.      Dengan memberi, harta justru akan bertambah. Ams. 11:24-25, 2 Kor. 9:6-11.

Pertanyaan Perenungan:

1.      Apakah Anda masih memiliki hutang? Terapkan kebenaran yang telah Anda pelajari dan minta nasehat/masukan saudara seiman agar ada solusi yang terbaik.

Apakah Anda sudah terbiasa mengembalikan persepuluhan dan memberi untuk pekerjaan Tuhan?  Sharingkan!