Minggu, 11 Agustus 2019

KECEWA DAN MARAH

“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan“ (Mazmur 37:8)

Ada seekor ular yang memasuki garasi tempat kerja tukang kayu di sore hari. Si tukang kayu mempunyai kebiasaan jelek, yaitu dia tidak merapikan peralatan kerjanya dan membiarkan berserakan di atas meja kerja atau lantai kerja.

Ketika ular itu masuk ke ruang kerja si tukang kayu dan merayap ke sana kemari, tanpa sengaja ia merayap di atas gergaji. Tajamnya mata gergaji, menyebabkan perut ular terluka. Tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Sang ular pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali.

Serangan itu menyebabkan luka parah di bagian mulutnya. Gerakan sang ular menjadi tidak terkendali dan malahan berusaha dan mengerahkan kemampuannya untuk mengalahkan “musuhnya” (baca: gergaji). Sang ular menjadi marah, lepas kendali, putus asa dan kecewa. Sang ular pun membelit kuat gergaji itu. Maka tubuhnya terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati.

Sering kali di saat kita marah, kecewa, kita ingin juga membalas dan bahkan melukai orang yang membuat kita marah atau kecewa. Tetapi ternyata tanpa disadari yang kita lukai adalah diri kita sendiri. Pikiran, perkataan, perbuatan jahat yang kita rancangkan atau kita keluarkan di saat kita marah, kecewa dan putus asa hanya akan melukai diri kita sendiri. Pembalasan atau kekecewaan itu adalah buah kejahatan yang hanya mendatangkan keburukan.

Tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk menguasai diri. Bukan berarti kita kalah tetapi malahan kita mengalahkan keegoisan, keangkuhan. Bukannya Tuhan Yesus yang berkata agar kita belajar dari diri-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Penguasaan diri akan membuat kita terlepas dari kondisi yang lebih buruk dan mendapatkan semangat untuk memulai sesuatu yang lebih baik. [SE]