Minggu, 12 Agustus 2018

 

PENSIL RASA OPOR AYAM

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” (Matius 23:27)

Ketika sedang stalking instastory, saya melihat salah seorang influencer Indonesia sedang makan di salah satu restoran yang menyajikan makanan yang unik. Makanan pertama keluar dengan bentuk pensil, kertas, dan serutan pensil. Ternyata ketika dimakan, rasanya adalah opor ayam yang sangat enak. WOW! Makanan selanjutnya yang keluar adalah telur setengah matang disajikan bulat dengan cangkang. Isi dalamnya seperti kuning telur, tetapi ketika dimakan rasa kuning telur itu adalah kari ayam. Menakjubkan! Apa yang dilihat tidak sama dengan apa yang di makan. Setelah itu saya penasaran dan mencari tahu restaurant apakah itu.

Ternyata itu adalah restaurant yang menyajikan molecular gastronomy, yaitu cabang ilmu yang mempelajari transformasi fisiokimiawi bahan pangan selama proses memasak dan fenomena sensori saat dikonsumsi. Jadi intinya makanan yang anda lihat belum tentu sesuai dengan apa yang akan anda rasakan. Hebat sekali ya makanan jaman now ini!

Lazimnya kita suka dengan yang presentasi kita lihat, dan rasanya sesuai. Seperti hidup kita, apa yang kita katakan, apa yang kita percaya, sesuai dengan apa yang kita lakukan. Artinya kita tidak berpura-pura baik, atau suci, dengan kata lain munafik. Orang munafik memiliki hidup yang celaka. Ya, dengan pimpinan cepat atau lambat akan kena masalah, dengan rekan kerja atau pasangan hidup lambat laun akan kehilangan kepercayaan, dan bahayanya Tuhan Yesus sendiri mengatakan orang munafik akan CELAKA!

Ya bagaimana tidak, karena orang munafik itu ternyata ditolak oleh dunia, dan juga oleh Tuhan. Senangkah kita kalau diri kita ditipu oleh orang yang pura-pura baik? Atau teman yang baik di depan, ngomongin di belakang? Yes, kalau kita saja tidak suka orang munafik, apalagi Tuhan. Jadilah pribadi yang berintegritas, hidup sesuai dengan apa yang kita katakan, dan kita percaya. Kalau ada kesalahan jangan takut untuk jujur dan meminta maaf, kalau ada dosa jangan takut untuk pengakuan dosa pada Tuhan, karena itu lebih diterima daripada seorang yang munafik. [CH]