Minggu, 16 September 2018

 

TIPU DAYA KEKAYAAN

“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah” (Matius 13:22)

Kekayaan materi dan harta benda adalah merupakan tujuan hampir semua orang yang hidup di dunia. Semua orang sejak kecil sadar atau tidak sadar diajar untuk bisa mencari uang sebanyak mungkin agar hidupnya berkecukupan dan bisa menikmati hidup dengan baik secara duniawi. Contohnya bisa kita lihat di sekitar kita betapa banyak dan larisnya seminar yang diadakan para motivator yang walau temanya berbeda tapi ujungnya selalu sama yaitu bagaimana membangkitkan dan memotivasi para peserta agar punya keinginan dan tekad untuk menjadi kaya. Entah berhasil atau tidak para peserta seminar ini, yang jelas berhasil atau tidaknya peserta menjadi kaya, si motivator lah yang menjadi kaya karena tiket seminar-seminar seperti ini tidaklah murah.

Dengan kata lain semakin banyak orang yang ingin menjadi kaya maka semakin kayalah si motivator. Mirisnya gereja pun ikut-ikutan latah dengan hal ini. Bisa kita lihat banyak gereja yang mencari jemaat dengan menawarkan tema-tema berkat jasmani yang berlimpah, bahkan ada ibadah pemulihan ekonomi, pelepasan kutuk hutang dan banyak lagi. Jadi betapa nafsu ingin kaya dan tentunya keserakahan ini sangat laku dijual. Bukan lagi mencari Tuhan dengan segenap hati tapi mengikut Tuhan untuk mencari “berkat”.

Menjadi sangat berbahaya buat kerohanian kita karena tipu daya kekayaan dapat pula mengakibatkan kebenaran firman Allah yang didengarnya tidak bertumbuh dan berbuah (Mat. 13:22). Kenyataan inilah yang banyak kita jumpai dalam kehidupan jemaat Tuhan pada masa sekarang ini. Banyak di antara jemaat ini mengalami stagnasi pertumbuhan rohaninya. Ini semua disebabkan oleh tipu daya kekayaan.

Sementara orang di sekitar kita terjerat oleh berhala atau ilah zaman ini, yaitu materialisme, kita sebagai orang percaya yang benar harus berani menantangnya. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan materi dalam bentuk uang atau kekayaan dunia. Tetapi kita tidak diperbudak olehnya. Kita harus bekerja keras mencari uang atau materi. Semua itu kita lakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. [CK]