Minggu, 2 Agustus 2020

Jus Alpukat

“Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.   Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN” (Imamat 10:1-2)

Sebuah kisah menarik di restoran khas Sunda di sebuah kota, Jawa Barat. Suatu kali seorang pelanggan datang bersama anaknya yang baru berusia 4 tahun. Mereka makan sampai kenyang. Di akhir makan mereka, sang anak meminta jus alpukat yang tertera di menu restoran tersebut, tapi ternyata sudah habis. Sebagai orang tua yang baik maka ia menenangkan anaknya dan meminta memilih menu jus yang lain. Tetapi anak kecil tersebut tidak mau dan merengek terus meminta jus alpukat. Pelayan restoran yang baik, berinisiatif untuk membelikan jus alpukat di depan restoran. Orang tua anak tersebut sangat surprise atas pelayanan yang diterimanya. Suatu hal yang luar biasa mengingat biasanya restoran tidak akan mengijinkan para tamunya membawa minuman dan makanan dari luar restoran. Sebuah pelayanan yang ekselen. Pelayanan itu melakukan sesuatu yang baik untuk pelanggannya, meski belum tentu berkenan di hati pemilik restoran tersebut.

Sahabat NK, ingatkah Anda dengan kisah anak Harun yaitu  Nadab dan Abihu. Setiap kali mereka harus membawa ukupan (bahan dupa yang mahal harganya) di atas api. Mereka telah melayani Allah dengan baik tetapi akhirnya mereka mati karena mempersembahkan api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Masalahnya bukan mereka tidak melakukan pelayanannya, tetapi mereka tidak melakukan sesuai  perintah Allah (Imamat 10:1-2)

Dalam kehidupan pelayanan kita, mungkin kita sudah merasa memberikan waktu, talenta, uang dan segalanya demi pelayanan yang terbaik bagi Tuhan. Sering penampilan terbaik diupayakan sedemikian rupa, tetapi terlupakan penyembahan sejati yang berkenan dihati Tuhan. Kepada siapakah kita berikan pelayanan terbaik kita ? Perkenanan siapa yg kita kejar ? Allah atau manusia ?

Seorang mengingatkan saya ketika memulai pelayanan Worship Time melalui Instagram. Dia bertanya-tanya tentang pelayanan media sosial yang saat ini makin merebak. Apakah  semua orang sungguh hati melayani Tuhan atau “pansos” supaya namanya mulai dikenal orang lain ? Hanya Tuhan yang tahu isi hati kita. Baiklah kita memberikan pelayanan excellent  terutama bagi Tuhan dan juga dihadapan manusia. Tuhan dipuji. [WR]