Minggu, 25 November 2018

 

Kornelius

“Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.” (Kisah Para Rasul 10:1-2)

Alkitab menulis kisah Kornelius seorang perwira pasukan Romawi yang percaya Yesus dan dibabtis. Menarik, karena Kornelius adalah orang non-yahudi. Bukan itu saja, Alkitab menulis bahwa ia adalah seorang yang saleh bahkan bisa mengajak seisi rumahnya untuk takut akan Allah. Satu teladan yang baik bagi kita tentang bagaimana menerapkan hidup saleh dimulai dari keluarga.

Ada beberapa hal menarik yang bisa kita dapatkan dari kisah Kornelius. Bagaimana nilai-nilai kebenaran dijalani oleh Kornelius dan itu menjadi contoh dan teladan bagi seisi rumahnya. Tertulis bahwa Kornelius senantiasa berdoa. Ini teladan yang baik dari seorang kepala keluarga, dimana keluarga bisa melihat sang ayah atau suami begitu hormat dan menjaga hubungan yang intim dengan Tuhannya. Kornelius bisa mengajarkan kepada keluarga bahwa Allah-lah sumber kekuatan, dan Ia hanya sejauh doa. 

Ayat yang lain menulis bahwa Kornelius disebut banyak memberikan sedekah. Artinya Kornelius mengajarkan kebaikan dan kemurahan hati. Memperhatikan orang-orang yang memerlukan pertolongan. Tidak sombong dengan harta yang dipunya. Hidup berbagi adalah hidup yang indah, karena firmah Tuhan menulis adalah lebih bahagia memberi daripada menerima. Suatu nilai dan gaya hidup yang baik yang dicontohkan kepada keluarga.

Bagian lain menulis bahwa sementara Kornelius menyuruh orang untuk menjemput Petrus datang ke rumahnya, ia kemudian memanggil dan mengumpulkan sanak saudara dan sahabat-sahabatnya berkumpul di rumah untuk mendengarkan firman Tuhan. Satu teladan yang baik, dimana Kornelius begitu berkobar-kobar mengabarkan berita keselamatan kepada anggota keluarga dan teman-temannya. Kornelius mengerti bahwa bila dirinya mendapat anugerah keselamatan, maka sanak saudara yang lain pun perlu mendengar kabar itu.

Dari point-point di atas kita diberikan contoh bahwa hidup saleh yaitu taat dan beriman sungguh haruslah dimulai dari keluarga. Karena keluarga adalah sekolah kehidupan yang memberi bekal nilai-nilai hidup yang akan dibawa ketika dewasa dan membentuk keluarganya sendiri. [CG]