Minggu, 28 April 2019

 

MISKIN + HIKMAT = KAYA

“Lebih baik sedikit barang, dengan disertai takut akan Tuhan, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.” (Amsal 15: 16-17)

Pagi itu di mall MTC Manado saya menemukan sebuah smart phone bagus di salah satu ruang toilet. Saya lalu membawanya ke toko saya dan meletakkannya di atas meja, sembari menanti satu saat pemiliknya akan menelepon untuk mencari. 30 menit kemudian terdengar lagu nada panggil HP tersebut, dan saya mengangkatnya, saya sebut lokasi saya, agar pemilik dapat segera mengambilnya. Yang datang beberapa orang, dan salah seorang perempuan muda mengaku pemiliknya dan mengambil kembali HP-nya.

Setelah berterimakasih dia berlarian dengan rasa gembira, menghilang bersama derai tawa teman-temannya. Beberapa saat kemudian dia sendirian muncul di kejauhan, dengan malu-malu hanya untuk mengucapkan terimakasih lagi, dengan melambaikan tangan dan menganggukkan kepalanya. Sebelum menghilang dari pandangan, beberapa kali saya mendengar kata-kata dari antara mereka ‘beruntung banget ibunya baik lho, kalau ngga hp-mu lenyap selamanya’. Mungkin bagi mereka, bahwa tindakan (mengembalikan HP yg ditemukan) itu dikarenakan saya baik, padahal itu hanya hal normatif yang seharusnya dilakukan siapapun.

Di mall tempat saya beraktivitas, hampir tiap hari saya mendengar informasi adanya hp atau tas, yang tertinggal dan akhirnya hilang. Terkadang diumumkan ada anak kecil yang terpisah dari orang tuanya. Hal itu diumumkan lewat pengeras suara agar semua pengunjung dan pemilik toko di mall, yang menemukan boleh mengembalikannya ke kantor customer service yang ada di mall. Namun setelah di cek, langka sekali bahwa barang yang tertinggal itu kembali kepada pemiliknya, tentu kita semua tahu alasannya, bahwa yang menemukan hampir tidak pernah mengembalikannya, karena mungkin merasa itu adalah keberuntungannya.

Sahabat NK, mungkin Anda menilai diri Anda miskin secara finansial namun orang lain bisa saja menilai Anda kaya atau berkecukupan. Tuhan hanya memandang hati Anda. Orang yang kaya jiwanya adalah yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. [MM]