Minggu, 28 Juni 2020

KELUARGAKU LADANGKU

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12;9-11)

Kematian  satu-satunya saudara kami laki-laki sempat membuat kegaduhan bahkan konflik antara pihak istri almarhum dengan semua kami kakak dan adik almarhum. Dipicu oleh harta peninggalan orangtua kami yang dia pikir otomatis menjadi miliknya, karena almarhum adalah satu satunya laki-laki, sebagai putra mahkota orangtua. Dia ‘mulai mabuk daratan’ hingga ‘lupa’ ada beberapa iparnya, putri mahkota yang dilahirkan mertuanya, yang juga layak mendapat bagian dari orangtua mereka. Dan pada saat ini orangtua kami pun masih hidup meskipun dalam keadaan sakit dan belum membagi-bagi warisannya.

Kasus serupa di atas jaman dahulu umum terjadi di kalangan suku tertentu yang masih berpikiran kurang modern oleh karena terpengaruh budaya dahulu kala, yang memegang tradisi bahwa hanya anak laki-lakilah yang paling berhak mendapat warisan dari orangtua karena merekalah yang dapat meneruskan marga keturunannya kelak. Sedangkan anak perempuan akan menjadi bagian dari suaminya yang bermarga lain. Mereka sering diperlakukan tidak adil dalam keluarga. Bukan saja dalam hal pembagian warisan orangtua, bahkan dalam hak memperoleh pendidikan atau fasilitas lain dari orangtua. Tapi itu zaman dahulu.

Beruntungnya sebagai orang percaya, kami tidak mau tradisi itu memengaruhi anak-anak kami, dan sebisa mungkin semua keluarga tidak mengikuti budaya itu. Kami ingin kesamaan derajat, hak dan kewajiban antara anak laki-laki dengan perempuan. Buat apa harta kita miliki dengan cara yang serakah, namun kelak jiwa kita binasa dan selama hidup ada konflik bahkan sampai antar anak-anak kita. Perlahan kita mencoba mengubah mindset mereka tentang harta duniawi dan menceritakan Injil keselamatan.

Tidak bisa dipungkiri, keluarga sering merupakan tempat munculnya permasalahan. Dari mulai hal sepele hingga ke hal-hal rumit yang tidak diduga sebelumnya. Namun berita baiknya, munculnya permasalahan membuat masing-masing anggota akan semakin mengenal satu sama lain. Lebih jauh dari pengenalan ini akan memudahkan kita menentukan cara pendekatan dan mempererat tali kasih untuk setiap individu. [MM]