Minggu, 5 Agustus 2018

 

Satu VS 99

“ Dan orang – orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang – bintang, tetap untuk selama – lamanya “ (Daniel 12 : 3)

Yusuf Bilyarta Mangun Wijaya sepertinya bukan nama yang familiar. Tapi kalau saya memanggilnya Romo Mangun, yakin banyak yang mengenal sosoknya, atau minimal pernah mendengar namanya, pernah tahu karyanya atau juga pernah melihat hasil dari impiannya. Lahir di jaman susah 6 Mei 1929 dan menghabiskan masa mudanya di dunia kemiliteran dengan menjadi prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon V.

Aktivitas relijinya menjadi Pastor dimulai tahun 1959 – 1999. Selain aktif menjadi rohaniawan, ia dikenal juga sebagai penulis, budayawan, arsitek dan pembela kaum kecil. Burung – Burung Manyar adalah salah satu novel terkenalnya. Di bidang arsitektur mendapat penghargaan Aga Khan Award diterima atas karya arsitektural rancangan pemukiman di tepi Kali Code Yogyakarta. Sementara teriakannya untuk orang miskin dituangkan melalui pendidikan membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, dan membangun SD bagi anak – anak proyek pembangunan Waduk Kedung Ombo serta penduduk miskin di tepi Kali Code.

Ini yang menarik dari kehidupannya. Prinsip yang dipegang dan dijalankan dengan sempurna. “Kalau ada yang mementingkan keuntungan atau hasil “bisnis” ada domba seratus hilang satu akan berkata, “ Daripada mencari satu belum ketemu sedangkan yang 99 bisa terlantar, lebih baik yang lebih banyak yang diprioritaskan.” Tetapi sikap Pastor sejati akan berkata, “ Yang 99 memang membutuhkan perhatian namun yang satu jauh lebih membutuhkan perhatian.”

Ini prinsip Yesus dan Romo Mangun sudah ada di tengah masyarakat yang terpinggirkan dengan membawa prinsip itu, prinsip kasih. Bagaimana dengan kita? Kadang–kadang kita menjelma menjadi manusia yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Alasan punya kehidupan sendiri, repot, tidak ada waktu, ngapain mikiran orang lain hidup sendiri saja belum tentu benar, sampai alasan takut disangka kristenisasi menjadi tameng tangguh untuk  tetap berada dalam benteng kenyamanan. Apakah ini hidup kasih yang diajarkan Yesus? [WER]