Rabu, 13 Juni 2018

Anak Jaman Now

“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.”
(Amsal 29:17)

Di beberapa negara Eropa, banyak orang Indonesia yang menikah dengan penduduk lokal. Bila pasangan mereka adalah orang yang aktif beribadah, maka anak-anak mereka akan dididik dengan firman Tuhan dan kegiatan ibadah di gereja setiap Minggu.

Namun, bila tidak, maka hari Sabtu dan Minggu akan diisi dengan kegiatan jalan-jalan dan rekreasi. Anak-anak yang seperti ini bertumbuh dalam fokus pada hal-hal duniawi. Ibadah tidak menjadi suatu kebiasaan, apalagi bila di rumah tidak ada kebiasaan membaca Alkitab dan doa bersama dalam keluarga.

Tidak akan mengherankan bila ketika menjadi remaja dan semakin dewasa, anak-anak seperti ini memiliki kecenderungan untuk mencari kepuasan jiwa di tempat-tempat lain seperti pesta-pora, disko dan semacamnya. Di Indonesia pun terjadi fenomena semacam ini, bahkan di kalangan anak-anak muda Kristen. Banyak anak-anak remaja yang studi di sekolah Kristen justru hidupnya menjauh dari Tuhan karena kurangnya didikan dalam keluarga yang serta teladan orangtua yang salah.

Anak jaman now akan menjadi anak yang takut akan Tuhan apabila orangtua mengajarkan mereka untuk cinta pada Tuhan Yesus, tidak meninggalkan kegiatan ibadah dan persekutuan, dan memberi teladan hidup yang baik kepada mereka, dalam berpikir, berkata dan bertindak.

Kita dapat melihat sekarang bahwa iman di dalam diri anak tidak mungkin timbul dengan sendirinya. Hal itu akan muncul sebagai usaha yang dilakukan orang tua, mulai dari memperkenalkan Tuhan, ‘menyirami’ tanaman iman itu dengan tekun, hingga kemudian dapat menuai hasilnya. Nilai-nilai yang ditanam sejak dini itu akan menghasilkan anak-anak dengan karakter ilahi yang luar biasa.

Marilah mulai saat ini, kita semakin fokus kepada Tuhan Yesus, dimulai dari keluarga kita agar anak-anak dan semua anggota keluarga, sungguh-sungguh mengasihi Kristus. [BT]

Rabu, 13 Juni 2018

Anak Jaman Now

“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” (Amsal 29:17)

Di beberapa negara Eropa, banyak orang Indonesia yang menikah dengan penduduk lokal. Bila pasangan mereka adalah orang yang aktif beribadah, maka anak-anak mereka akan dididik dengan firman Tuhan dan kegiatan ibadah di gereja setiap Minggu.

Namun, bila tidak, maka hari Sabtu dan Minggu akan diisi dengan kegiatan jalan-jalan dan rekreasi. Anak-anak yang seperti ini bertumbuh dalam fokus pada hal-hal duniawi. Ibadah tidak menjadi suatu kebiasaan, apalagi bila di rumah tidak ada kebiasaan membaca Alkitab dan doa bersama dalam keluarga.

Tidak akan mengherankan bila ketika menjadi remaja dan semakin dewasa, anak-anak seperti ini memiliki kecenderungan untuk mencari kepuasan jiwa di tempat-tempat lain seperti pesta-pora, disko dan semacamnya. Di Indonesia pun terjadi fenomena semacam ini, bahkan di kalangan anak-anak muda Kristen. Banyak anak-anak remaja yang studi di sekolah Kristen justru hidupnya menjauh dari Tuhan karena kurangnya didikan dalam keluarga yang serta teladan orangtua yang salah.

Anak jaman now akan menjadi anak yang takut akan Tuhan apabila orangtua mengajarkan mereka untuk cinta pada Tuhan Yesus, tidak meninggalkan kegiatan ibadah dan persekutuan, dan memberi teladan hidup yang baik kepada mereka, dalam berpikir, berkata dan bertindak.

Kita dapat melihat sekarang bahwa iman di dalam diri anak tidak mungkin timbul dengan sendirinya. Hal itu akan muncul sebagai usaha yang dilakukan orang tua, mulai dari memperkenalkan Tuhan, ‘menyirami’ tanaman iman itu dengan tekun, hingga kemudian dapat menuai hasilnya. Nilai-nilai yang ditanam sejak dini itu akan menghasilkan anak-anak dengan karakter ilahi yang luar biasa.

Marilah mulai saat ini, kita semakin fokus kepada Tuhan Yesus, dimulai dari keluarga kita agar anak-anak dan semua anggota keluarga, sungguh-sungguh mengasihi Kristus. [BT]