Rabu, 15 Mei 2019

EGO

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14)

Bagi saya, memiliki dua orang anak dengan jarak umur yang berdekatan membutuhkan perjuangan ekstra untuk mengajarkan mereka agar saling mengasihi. Sepertinya, hampir tiap hari selalu ada hal-hal yang membuat mereka bertengkar dan salah satu dari mereka menangis atau menjadi marah. Tidak mudah rasanya, karena saya harus membuat mereka mengerti bagaimana cara mengasihi dalam porsi umur mereka yang masih kanak-kanak. Dalam beberapa situasi, terkadang sang kakak harus mengalah dengan adiknya. Dan dalam situasi yang lain, saya harus mengajarkan sang adik untuk mengampuni kesalahan dan sikap buruk kakaknya.

Namun, seiring bertambahnya umur, saya harap mereka akan mengerti dan tetap mengasihi saudaranya, seberapa menyebalkannya ia. Pelajaran hidup inilah yang akhirnya bisa menjadi bekal mereka saat besar nanti, untuk menghadapi dunia yang dipenuhi dengan orang-orang dengan beraneka ragam karakter dan sifatnya masing-masing. Karena bukan hanya anak-anak, seringkali konflik dalam sebuah hubungan terjadi pada orang dewasa. Hal ini biasanya terjadi karena masalah ego yang besar dan saling mementingkan diri sendiri. Saat konflik muncul, hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun menjadi retak dan kasih akan menjadi dingin.

Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Dan kasih yang Ia ajarkan bukan seperti yang dunia ajarkan, yaitu kasih yang tetap melakukan yang terbaik walaupun dikecewakan. Namun, kita tidak dapat mengasihi dengan ego kita. To love is to give (memberi). Apa yang kita beri? Ego kita. Saat kita mengasihi, kita perlu menanggalkan status sosial, jabatan, kekayaan, dan gengsi kita dan melakukan seperti apa yang Yesus telah teladankan pada kita: Ia rela meninggalkan kerajaan Surga dan menjadi manusia untuk mengasihi kita. Ia yang adalah guru, mau merendahkan diri dan membasuh kaki murid-muridNya. Mengapa demikian? Karena Ia sangat menghargai sebuah hubungan, dan jika Ia rindu memiliki hubungan yang penuh kasih dengan kita, Ia juga pasti rindu agar kita saling mengasihi sesama kita juga. [JN]

Perenungan (P1) dan Penerapan (P2)

P1: Setiap orang diciptakan dengan karakter dan temperamen yang berbeda-beda. Namun, persamaan apa yang kita miliki untuk menjadi pemersatu kita?

P2: Pernahkah Sahabat NK merendahkan diri untuk tetap mengasihi orang yang mengecewakan Anda?