Rabu, 17 Desember 2014

KEKAYAAN PRIBADI ALLAH

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3 : 14)

Suatu hari ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Sampai akhirnya, sang istri meledak dengan kemarahannya dan melontarkan kalimat-kalimat pedas kepada suaminya, lengkap dengan gayanya yang arogan. “Kalau bukan karena uang saya, kita tidak bisa tinggal di rumah mewah ini. Kalau bukan karena uang saya, home theatre ini tidak ada di sini. Kalau bukan karena uang saya, mobil mewah ini tidak akan ada di sini.”

Sang suami tertegun sejenak. Ia pun menjawab dengan tegas. “Kalau bukan karena uangmu, aku tidak akan ada di sini!”
Tanpa dapat dipungkiri, kenyataan di atas terjadi dalam banyak pernikahan atau menjadi pertimbangan sebelum pernikahan. Cenderung memilih yang mudah, yang sudah terlihat kasat mata dan terukur oleh standar dunia. Tidak mau berjuang bersama dan menikmati indahnya kesuksesan yang diperjuangkan bersama. Indahnya melalui suka duka, jatuh bangun, dalam kehidupan. Fokus pada hal yang terlihat bersifat sementara, namun berfokus pada hal yang terdalam seperti: kerohanian, karakter, dan talenta akan membawa hal-hal abadi yang terindah dalam hidup. Pribadi semacam ini akan membawa kita menuju pernikahan yang bahagia dan diberkati

Dalam kehidupan kekristenan kita, sudahkah kita menjadi mempelai Kristus yang setia? Yang tidak hanya berfokus kepada hal-hal kasat mata yang Tuhan berikan, yang Tuhan tunjukkan dalam hidup kita. Yang tahan uji, taat, dan selalu bersandar kepada Tuhan dalam mengarungi badai dan pelangi hidup. Sudahkah kita memfokuskan hati kita kepada Pribadi Allah yang ajaib. KasihNya, kesetiaanNya, pengorbananNya, pengampunanNya, kesabaranNya, kuasaNya, dan tanganNya yang selalu menopang kita. PribadiNya akan membawa kita menuju keberhasilan, kebahagiaan , dan kehidupan kekal.
Kalau bukan karena Pribadi Allah, kita tidak akan ada di sini. Terpujilah Nama Tuhan. [EI] Yehezkiel 22-23
Pasal 22, gambaran tentang; pengadilan (1-16), peleburan (17-22), Hutan (23-27), Tembok (28-31).
Pasal 23, menulis bahwa; Tuhan menghukum Samaria karena mereka membangun agama sendiri, meskipun Tuhan berdiam di dalamnya sebagai ganti Yehuda.