Rabu, 27 November 2019

WUJUD KESETIAAN PADA TUHAN
“Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.” (Amsal
12:22)
Kita sudah sering mendengar cerita tentang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya. Tidak dapat diragukan lagi bahwa
anjing memang adalah binatang yang setia. Kalau binatang saja bisa setia seperti itu, seharusnya manusia juga bisa. Tapi
sayangnya, banyak orang yang gagal dalam ujian kesetiaan.
Saya tidak akan menyinggung soal kesetiaan kepada Tuhan yang diwujudkan dalam pelayanan di gereja. Tapi saya ingin
mengorek sedikit tentang kesetiaan suami kepada istri dan juga sebaliknya. Mungkin, ada yang bertanya, “Lho kok membahas
kesetiaan pada Tuhan, tapi yang dibicarakan malah kesetiaan suami pada istri?” Mengapa? Karena setia kepada pasangan
pernikahan merupakan salah satu wujud kesetiaan pada Tuhan.
Jaman makin maju, perkembangan teknologi semakin meningkat, tapi moral manusia makin merosot. Banyak orang yang
tidak lagi menghormati kekudusan pernikahan. Perceraian semakin banyak terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang mengaku
percaya pada Tuhan Yesus, bahkan para pelayan Tuhan yang belum menikah mulai menunjukkan gejalanya dengan gonta-ganti
pacar. Miris sekali mendengarnya tapi itulah kenyataan sekarang.
Suatu kali saya melihat foto paduan suara kaum bapak sebuah gereja yang dipampang di sebuah situs media sosial. Ada
satu komentar yang mengusik hati di bawah foto itu. Komentarnya hanya satu kata beserta tanda seru dan emoticon tertawa.
Tulisan komentar itu adalah “Buaya!”
Saudara yang dikasihi Tuhan, renungan hari ini mengajar dan mengingatkan kita untuk setia kepada Tuhan yang
ditunjukkan dengan kesetiaan pada pasangan pernikahan kita. Dalam ayat di atas tertulis bahwa Tuhan tidak suka dengan
kebohongan yaitu ketidaksetiaan. Mari wujudkan kesetiaan kepada Tuhan dalam kehidupan nyata kita dengan setia kepada
pasangan hidup [BT]