Rabu, 28 November 2018

 

BUKA DULU TOPENGMU

“Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)

Pagi itu saya membaca sebuah artikel yang mengejutkan di sebuah media sosial, di mana ada seorang PRT yang lari dari rumah majikannya yang seorang pendeta karena dikasih minum air keran dan mengalami kekerasan secara verbal dan fisik. Hal ini sangat tidak pantas karena seorang rohaniwan seharusnya memiliki standar kehidupan yang lebih tinggi karena kehidupan pribadinya yang selalu jadi sorotan orang lain. Tetapi nyatanya memang ada pendeta atau hamba Tuhan yang terlihat baik dan jadi teladan di luar rumah, tetapi tidak menjadi teladan di dalam keluarganya.

Saya teringat kepada kisah Imam Eli, seorang hamba Tuhan yang mendidik dan membesarkan Samuel sehingga kelak Samuel berhasil menjadi seseorang yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Tetapi Imam Eli tidak berhasil di dalam keluarganya sendiri. Alkitab mencatat bahwa anak-anak Imam Eli adalah anak-anak yang hidup tidak takut akan Tuhan dan menyalahgunakan jabatan imam mereka untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan. Alih-alih menegur, Eli malah melakukan pembiaran terhadap kesalahan yang dilakukan anak-anaknya. Akhirnya Tuhan menjatuhkan hukuman kepada Imam Eli dan keluarganya dengan kutukan bahwa semua keturunan laki-laki mereka akan berumur pendek.

Itulah sebabnya sangatlah penting untuk hidup saleh dimulai dari keluarga. Sebelum kita menjadi berkat bagi orang banyak, terlebih dahulu hidup kita harus menjadi berkat bagi keluarga. Sebelum kita menjadi teladan bagi orang lain, terlebih dahulu hidup kita sudah menjadi teladan bagi keluarga. Sebelum kita membimbing dan mendorong orang lain untuk bertumbuh di dalam Tuhan, terlebih dahulu kita sudah membimbing dan mendorong keluarga kita untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Keluarga menjadi unit terkecil kelompok orang percaya yang dari dalamnya kita justru mendapat kesempatan belajar hal-hal yang besar.

Sahabat, untuk segala sesuatu yang baik, mulailah dahulu dari keluarga dan barulah akhirnya kepada orang lain agar hidup kita tidak menjadi batu sandungan, melainkan dapat memuliakan nama Allah. [FP]