Rabu, 9 September 2020

MASAK, MAKAN DAN SABAR MENUNGGU

“Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,”  ( Filipi 2:2)

Ayah Zikuan berasal dari kota Xinxiang, China menderita preleukemia, yang sering disebut sebagai myelodysplastic syndrome. Penyakit ini termasuk penyakit langka yang disebabkan karena adanya sel darah yang tidak terbentuk dengan sempurna.

Para dokter menyarankan transplantasi sumsum tulang  sebagai satu-satunya solusi terbaik. Dari hasil pemeriksaan, Zikuan anak laki-laki adalah satu-satunya orang di keluarga sang ayah, yang memiliki kecocokan dengan sumsum tulang sang ayah. Namun untuk dapat menjadi donor, Zikuan harus memiliki berat badan minimal 45 kg, padahal saat itu berat badannya hanya 30 kg. Untuk itu  semua berusaha agar berat badan Zikuan yang masih berumur 11 tahun dapat bertambah secepat mungkin.

Salah satu cara yang dilakukan biasanya Zikuan selalu menambah irisan daging teriyaki di makanannya.  Selain itu pihak keluarga juga menyajikan berbagai makanan enak, yang sangat disukai Zikuan agar porsi makannya dapat bertambah, dan juga frekuensi makannya menjadi lima kali sehari.

Berkat hasil kerja keras mereka bersama dan kesanggupannya makan sebanyak lima kali sehari, kini Zikuan sudah memiliki berat badan 44 kg. Kini tinggal menunggu sedikit waktu lagi agar Zikuan dapat mendonorkan sumsumnya bagi sang Ayah. Semua usaha keras mereka terbukti tidak sia-sia, dengan kesehatian dan kerja sama yang baik pada akhirnya mendatangkan harapan dan sukacita.

Banyak dari kita menganggap pelayanan tertentu adalah yang terbaik di mata Tuhan. Padahal sebenarnya dalam melayani Tuhan sebagai kesatuan Tubuh Kristus semua memiliki peranan yang penting. Dari kisah Zikuan di atas kita mendapatkan gambaran bahwa semua orang yang berada di keluarga ayah Zikuan memiliki peranan yang penting agar misi operasi sang ayah dapat berhasil. [PH]