Sabtu, 1 Agustus 2020

DO YOUR BEST FOR GOD

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3 : 23 – 24)

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merasa kesal dengan seorang anggota keluarga. Dia menasihati anak laki-laki saya dengan hal yang menurut saya kurang tepat dan pada waktu yang tidak tepat. Waktu itu anak laki-laki saya sedang memasuki masa ujian, dan kerabat saya itu mengatakan, “Nih, yang penting mah nanti bisa dagang dan cari uang yang banyak. Percuma juara di sekolah kalo nantinya ga bisa cari uang !”

Malam itu saya lalu mencoba “mencuci otak” anak saya kembali dengan berbicara padanya dan membahas mengenai ayat mas di atas. Menjadi juara di sekolah, bukanlah tujuan yang sebenarnya, itu hanyalah hasil sampingan dari usaha belajar dan anugerah Tuhan tentu saja. Bagaimana melakukan yang terbaik dalam setiap hal yang menjadi bagian kita, itu yang lebih penting.

Kenyataannya, manusia memang cenderung lebih melihat hasil daripada proses. Mendapat nilai ulangan 100 dari hasil mencontek tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan nilai pas-pasan tapi hasil usaha sendiri. Namun tetap saja ada orangtua yang sangat fokus pada nilai, sehingga si anak menghalalkan segala cara. Masyarakat umumnya juga lebih menghargai orang kaya, terlepas dari cara/metode orang kaya tersebut memperoleh harta kekayaannya.

Demikian pula saat melakukan sesuatu, bahkan dalam pelayanan pun, orang lebih suka melakukan hal-hal yang hasilnya lebih terlihat oleh orang lain dan enggan melakukan hal lain yang terkesan tersembunyi hasilnya. Atau ketika bekerja, orang akan lebih sungguh-sungguh bekerja menyadari ada CCTV yang mengawasi mereka. Manusia lupa bahwa ada Mata Tuhan yang Maha Melihat.

Bagaimana kita dapat menjadi terang dunia apabila kita dalam kehidupan sehari-hari bersikap seperti orang lain pada umumnya dan tidak melakukan the extra mile? Merasa cukup melakukan apa yang menjadi tugasnya dan enggan melakukan lebih karena merasa itu bukan tugasnya.

Mari kita memiliki sikap yang baru: bagaimana kita memasak seperti untuk Tuhan, bagaimana kita menyetir mobil seperti Tuhan duduk di kursi penumpang, bagaimana kita bekerja di kantor, dan seterusnya… [RH]