Sabtu, 11 Agustus 2018

 

Kita, Kepentingan Utama

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik“ (Lukas 6:45)

Seorang anak sedang bermain di halaman rumah. Tiba-tiba ia berlari ke dalam rumah sambil berteriak kepada ibunya, “Ibu… gawat nih, aku telah menjatuhkan anak tangga di halaman.” Sang ibu yang sedang asyik menonton televisi tanpa menoleh berkata ” Tangga tidak menimpa pot bunga kan?” “Tidak bu, pot bunga tidak tertimpa,” jawab si anak. “Apakah tidak menimpa kurungan ayam,” tanya sang ibu. “Tidak bu,” jawab si anak. Sang ibu pun berkata, “Kalau begitu, tidak apa-apa kan bisa panggil ayahmu untuk mendirikan tangga itu kembali.” Sambil menunduk si anak menjawab, “Ayah tertindih di tangga itu!!!“

Cerita di atas adalah cerita fiktif. Tapi seringkali kita melakukan hal yang sama seperti anak kecil itu yaitu mengedepankan kepentingan pribadi. Anak saya yang berumur 4 tahun seringkali bercerita mengenai pengalamannya, tokoh utamanya adalah dia sendiri dan teman-teman yang lain hanya sebagai pelengkap. Di sisi yang lain saya berpikir itu bagus karena mungkin dia berjiwa pemimpin dan bisa mengatur permainan dan bahkan teman-temannya mengikutinya tapi disisi lain anak 4 tahun ini selalu bercerita jika keberhasilan permainannya adalah hasil jerih payah dia sendiri. Kita pun sering begitu, lupa dan bahkan sengaja melupakan orang-orang disekitar yang membantu keberhasilan kita.

Zig Ziglar, seorang pakar motivasi, mengatakan, “Anda bisa mendapatkan apapun yang Anda inginkan di dalam hidup ini jika Anda bersedia membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan”. Ziglar menekankan bahwa apabila kita ingin berhasil, kita tidak mungkin bekerja sendiri. Kita perlu bantuan orang lain. Kita perlu bekerja sama dengan orang lain untuk melakukan hal besar yang ingin kita kejar. Saat kerja sama pun, tentunya kita tidak ingin orang bekerja asal-asalan. Asal selesai, asal dikerjakan. Tentunya kita mau mereka memberikan yang terbaik, kualitas nomor satu, sepenuh hati.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang juga berpikir tentang orang yang dia pimpin atau yang berada dalam satu tim, termasuk keluarga dan pasangan suami istri juga. Pemimpin yang harus antusias terhadap prinsip hidup yang dia tularkan itu. [SE]